Partai Golkar sekarang ini memang sedang merutuki nasib. Partai ini tidak menyangka bakal mengalami penurunan suara sebegitu drastis. Semuanya, termasuk sang Ketua Umum (Ketum) sangat optimistis. Golkar masih mampu meraup suara di atas 20 %.
Itu pula yang membuat motor-motor Golkar, dari Ketua Dewan Pembina Surya Paloh sampai Jusuf Kalla (JK) nggege mongso. Yakin besar dan yakin menang, makanya melakukan manuver politik yang menyiratkan optimisme itu. Menggalang pra-kongsi dengan PDIP, dan JK didorong maju sebagai capres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kolom ini penulis paling sering menghajar JK dan Golkar. Itu bukan karena tidak suka, tapi lebih pada rasa sayang yang terlalu sayang. Kritik itu berharap mengubah sikap dan pendirian, karena gaya JK dan ritme Golkar mengindikasikan bakal masuk jurang.
Bagi saya pribadi, JK sebenarnya orang baik. Mungkin hampir lima kali saya ketemu secara pribadi dalam kelompok hanya tiga atau empat orang. Tapi saya tidak pernah mengenalkan diri. Saya juga tidak tertarik untuk dikenal, agar hajar dan hantam kromo sebagai ‘pemberi masukan’ tidak terecoki karena ‘kekenalan’ itu.
Tapi sekarang ketika ‘permainan’ Pemilihan Legislatif (pileg) sudah usai, rasanya menarik membukai semua rahasia yang melatari prediksi-prediksi. Soalnya hampir setahun lalu saya meramalkan Golkar hancur. Saya patok angka 10 % perolehan suara Golkar, jauh sebelum beberapa lembaga survei mencongak angka sebelas persen.
Tapi angka itu agak meleset. Itu bagi saya, karena takdir nampaknya memang mentakdirkan Golkar masih harus eksis. Saya sebut takdir, karena di detik-detik akhir Pileg, ternyata ada dua langkah yang mengatrol suara Golkar. Pertama adalah kejeniusan Golkar dalam beriklan yang memampang seluruh tokoh Golkar, termasuk Akbar Tandjung yang berangkulan dengan Agung Laksono. Dan yang kedua adalah ketentuan undang-undang yang mengubah nomor urut menjadi suara terbanyak.
Saat itu terjadi, terus terang saya yakin prediksi saya meleset, kendati tidak jauh-jauh amat. Akbar berangkulan dengan Agung telah memberi rasa sejuk bagi dua pihak yang sampai sekarang masih belum sejuk itu. Ini juga memberi rasa nyaman bagi konstituen, yang secara politis menyeret siapa saja yang bersimpati untuk mencontreng nomor 23. Lepas dari iklan itu masuk kategori kebohongan publik atau tidak.
Sedang ketentuan suara terbanyak menggugah caleg-caleg yang diposisikan sebagai ‘tumbal’ untuk mati-matian berjuang agar menang. Mereka tidak ragu ‘perang’ melawan caleg ‘nomor idaman’ yang didominasi orang pusat. Di lapangan tampak, betapa caleg nomor-nomor buncit meraup suara terbanyak. Ini yang sedikit mengangkat suara Golkar dari keterpurukan parah.
Sekarang, di tengah posisi tawar yang rendah, maka pengurus Golkar harus bersikap istiqomah. Fokus untuk kebangkitan partai. Jangan dicemari kepentingan seseorang yang ‘tidak layak jual’ tapi dipaksa dijual. Dan jangan merasa malu serta harga diri terinjak jika tidak ingin partai ini tidak akan pernah moncer lagi.
Kekalahan itu memang memalukan. Tapi kalau tidak malu di saat kalah, itu artinya ke depan Golkar makin malu-maluin.
*Djoko Suud Sukahar: pengamat budaya, tinggal di Jakarta
(iy/iy)











































