PD sudah diprediksi bakal unggul. Berbagai lembaga survei telah meramal itu. Keunggulannya bukan karena mesin politik partai ini jalan, tetapi lebih dikarenakan SBY. Laki-laki kelahiran Pacitan itu mampu menjadi magnit bagi massa rakyat. Dia dipandang lebih baik dibanding calon presiden yang lain. Dan dia dianggap rakyat sebagai presiden terbaik dibanding presiden yang pernah memerintah negeri ini.
Penanganan korupsi adalah poin inti. Sedang sikap andap-asor sebagai nilai tambah bagi popularitasnya. Dua kekuatan itu sering disalahtafsirkan oleh para penafsir politik. Para pakar politik dan politisi yang selalu membuat isu sebagai upaya untuk menjegal masing-masing telah membutakan arus yang membentuk bola salju itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi penulis, kemenangan PD ini masih belum seberapa. Dalam pilpres beberapa bulan lagi kemenangan yang lebih besar bakal diraih SBY. Itu karena dalam pileg ini ada banyak pemilih berjudi. Berjudi demi lain-lain dengan meredam sejenak gejolak hati kecil.
Mereka rela memberikan suaranya ke partai lain. Alasannya antara lain karena duit, karena teman, karena tidak kenal caleg PD, dan karena PD diasumsikan masih cukup kuat memboyong SBY maju ke pilpres. Berbagai alasan itu yang membuatnya harus mengambil keputusan βmenyumbangkanβ suaranya ke partai lain.
Namun dalam pilpres nanti, suara-suara yang terpecah itu bakal utuh. Suara itu akan mengalir ke satu titik. Mereka sudah terbebas dari bantu-membantu. Itu karena mereka sudah tidak lagi melihat partai dan caleg yang perlu dibantu. Mereka akan melupakan segalanya itu.
Saat ini terjadi, maka yang dia ingat hanya satu. Siapa tokoh yang santun, siapa tokoh yang berbuat lebih baik untuk negeri ini, kendati sejarah kelak mencatat kehadiran tokoh lain yang lebih baik lagi yang bakal dilahirkan.
Indikasi suara mengalir ke satu titik terasakan ketika kita nguping di banyak tempat. Suara-suara βtanpa pretensiβ itu meluncur dengan polosnya. Mereka dalam ketidaksiapannya telah menyiapkan diri memilih satu nama. Nama itu muncul karena saringan nurani dan naluri. Itu pula yang membuat pilihan ini sulit digoyang.
Untuk itu, bagi saya yang mempraktekkan βilmu ndesoβ sebagai βalatβ untuk memprediksi, insyaallah SBY bakal terpilih kembali. Dia akan menduduki jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia periode kedua. Dan itu diraih hanya dalam satu kali putaran.
Memang ramalan ini bukan ramalan baru. Sebab prediksi ini sudah ditayang detik.com pada Januari tahun 2008 lalu. Namun jika ada tanda-tanda khusus yang secara mistis menanggalkan ramalan itu, maka penulis akan sesegera mungkin merevisinya. Itu sebagai pertanggungjawaban moral. Adakah benar akan begitu?
Ini adalah ikhtiar. Ikhtiar manusia. Jika salah itulah manusia, karena hakekatnya kebenaran itu mutlak hak Yang Kuasa.
Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































