Rumitnya Memilih Pemimpin Bangsa
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Rumitnya Memilih Pemimpin Bangsa

Kamis, 12 Mar 2009 15:38 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Rumitnya Memilih Pemimpin Bangsa
Moskow - Selama dua minggu ini rumah saya terasa ramai dan lebih hangat. Setiap pagi bangun tidur dan selepas saya pulang kerja terjadi diskusi dan kadang perdebatan panas. Bahkan, ada kalanya muncul perbedaan pendapat yang tidak bisa dikompromikan yang cenderung menstimulir ketidakharmonisan keluarga. Muaranya hanya satu, yakni perlu tidaknya memilih pemimpin dalam Pileg dan Pilpres medatang.

Risa, anak saya semata wayang tiba-tiba saja nongol di Moskow dari sekolahnya di Jerman. Dengan kenekatannya model anak sekarang, ia meninggalkan beberapa mata kuliah sambil mengaku sangat kangen dengan orang tuanya. Di satu sisi, saya merasa senang, meskipun juga khawatir terhadap masa depan sekolahnya. Setelah berbasa-basi selama tiga empat hari, ia mulai menumpahkan uneg-unegnya. Pertanyaan pertama cukup pendek namun relatif tidak mudah menjawabnya. "Jujur saja Pa, Ma. Perlukah ananda memilih tanggal 9 April 2009 mendatang?" ujarnya tanpa ekspresi.

Saya bak disambar petir di siang bolong. Ini bukan pertanyan simpel, sebab Risa akan memilih untuk yang pertama kalinya. Jawaban harus akurat, didukung data serta ilmiah. Saya pun segera mengeluarkan berbagai jurus dasar tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam pileg agar suaranya terwakili dalam parlemen mendatang. Jawaban penuh dengan teori tersebut rupanya sudah diperkirakan dan dengan mudah dipatahkan dengan alasan bahwa banyak wakil rakyat yang tidak dikenalnya dan dinilai hanya dekat dengan rakyat pada masa kampanye saja. Bahkan, banyaknya publikasi diri yang melanggar hukum dinisbatkannya seperti orang yang punya niat baik tapi melalui jalan yang salah. "Hukum agamanya tetap haram," sergahnya tanpa basa basi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya sempat jelaskan, kegiatan pemilu bukanlah pemilihan Indonesian Idol ataupun Kontes Dangdut Indonesia alias KDI, melainkan hajatan akbar ekstra serius yang menyangkut dan berdampak panjang bagi perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Inilah agenda nasional yang menjadi titik penentu merah hijaunya bangsa Indonesia. Karenanya, anggaran triliunan tidak sulit dikucurkan.

Urusan memilih tidaklah sekedar mencontreng ataupun menandai kemudian habis perkara. Pemilihan umum ini juga bukan agenda lima tahunan yang dipungkasi dengan perayaan kemenangan bagi golongan atau kelompok tertentu. Hajatan ini juga bukan pesta demokrasi dalam arti yang sempit. Inilah ajang penentuan pemimpin yang menuntut pengedepanan pikir, nalar, hati nurani para pemilih. "Kalau setiap pesta selalu berakhir menyenangkan, pesta demokrasi tidak selalu demikian," tegas saya.

Terus terang saja, saya sangat sulit meyakinkan bahwa pileg harus dilalui dengan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Risa misalnya harus mengetahui dengan jelas program yang ditawarkan apakah logis dan menjawab masalah yang sedang dihadapi rakyat, serta apakah sang calon memiliki track record yang baik selama ini. Terus terang saja, confidence building measures saya yang berapi-api dan nyaris berhasil tadi tiba-tiba kandas seketika saat Risa melihat berita bahwa seorang caleg tertangkap basah menerima sogokan ribuan dolar. "Apalah arti deklarasi anti korupsi oleh parpol kalau itu hanya lips service. Kenyataan ini menambah beban psikologis bagi ananda untuk memilih," katanya sambil ngeloyor. Mimiknya marah dan tangannya yang menunjuk-nunjuk ke situs internet mirip gaya anggota DPR yang terhormat saat walk out dari sidang pleno. Saya tertawa getir melihatnya.

Sungguh, Sabtu dan Minggu lalu berlalu tanpa kemesraan keluarga. Tidak ada istilah belanja bareng ataupun makan bersama. Dua hari itu tenggorokan saya justru kering dan bahkan satu hape sempat dibanting. Root causes-nya, perbedaan pandangan segitiga antara saya, istri dan anak. Setelah gatot (gagal total) mendapatkan konklusi dalam pileg, diskusi kali ini beralih tema ke masalah Pilpres alias pemilihan presiden. Anak saya cenderung bersikap abstain, istri terlihat sangat primordial dan saya sebagai kepala keluarga mencoba untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

Risa sebagaimana banyak anak muda Indonesia mengaku melihat fenomena yang menjenuhkan. Tidak ada wajah baru yang menjanjikan dalam pilpres mendatang. Di matanya, terdapat capres yang hanya sekedar iseng main politik untuk kepentingan sesaat, ada yang cari popularitas dan ada pula yang belum kelihatan apa maunya. "Adakah capres yang membuat greget seperti munculnya tokoh Obama, misalnya???" katanya dengan mimik sangat serius.

Sang Ibu yang semula cukup halus tiba-tiba meradang tak karuan. Ia menolak dengan keras kiasan Indonesia dengan Amerika karena memiliki pengalaman demokrasi yang sangat berbeda. Tingkat pendidikan, kesadaran berpolitik, kemakmuran dan sistem yang berkembang memberikan indikasi bahwa Indonesia menuju ke arah demokrasi yang sehat meski belum sebaik negeri Paman Sam. "Bila ananda tidak bisa memutuskan, maka yang paling bisa menyalurkan aspirasi kita adalah capres yang berasal dari daerah kita. Dari perspektif kultural itu bisa dibenarkan," sergahnya.

Dasar anak sekarang yang makin kritis, ibunya segera dilabrak dengan argumen yang susah dibantah. Dengan nada tinggi ia segera menyahut, "Ok, kalau itu yang dipakai pijakan, tunjukkan mana capresku. Ananda lahir di Jawa, SD di Jerman, SMP di Jakarta, SMA di Paris dan kini kuliahnya di universitas gado-gado Indonesia-Jerman." Sang ibu ogah menjawab dan beringsut menjauh sambil ngedumel, "Anak kok susah dikasih tahu. Lebih baik tidur saja."

Dengan sabar saya tegaskan bahwa memilih presiden jauh lebih mudah dibanding memilih caleg yang jumlahnya ratusan. Sebagai mahasiswi, maka saya mengajak untuk melakukan identifikasi masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, mulai problematika kemiskinan, pengangguran, pedidikan, kesehatan serta berbagai dampak global yang tidak bisa dinafikan bagi kemajuan bangsa. Identifikasi ini maha penting untuk melihat apakah sang calon presiden memiliki concern dan jalan keluar dalam mengatasi aneka permasalahan tersebut.

Setidaknya, saya katakan, hal itu akan bisa dicermati pada saat terjadi debat capres secara langsung yang pasti ditayangkan oleh berbagai media. Kecerdasan menjawab berbagai pertanyaan secara jitu akan menunjukkan siapa di antara mereka yang lebih siap secara mental maupun intelektual. "Lihatlah, kekalahan calon presiden partai Republik di AS antara lain karena dianggap memiliki kebijakan yang salah terhadap Irak di masa datang," kata saya mencoba mendekati cara berpikir Risa.

Selain itu, dari capres yang hanya beberapa gelintir tersebut harus dipelototi pengalaman kepemimpinannya di masa-masa sebelumnya. Gaya kepemimpinan para capres di masa lalu terlalu musykil untuk diubah dalam waktu singkat. Inilah mengapa setiap pemilih harus tahu betul curriculum vitae sang calon, sebagaimana dalam dalam rekrutmen pegawai di berbagai perusahaan. "Jangan lupa, kata kuncinya adalah track record," kataku tegas. Kali ini Risa agak mengangguk.

Saya juga menegaskan bahwa persyaratan memilih seorang pemimpin bukan atas dasar primordialisme buta. Para pemilih harus memiliki keterampilan tinggi untuk melihat kapasitas dan kapabilitas capres dalam menjawab aneka tantangan di masa datang. Inilah salah satu modal dasar yang harus dimiliki.

Terakhir saya bilang, salah satu di antara yang paling penting dan tidak boleh diabaikan adalah moralitas. Akhlak dan budi pekerti. Pengamalan agamanya dan tingkah lakunya dalam keseharian. Meskipun aneka persyaratan sebelumnya terpenuhi, tetapi bila tingkat moralnya tidak memenuhi syarat maka gugurlah semuanya. Jangan sekali-kali berpikir untuk memilihnya. Dengan mengutip suri tauladan kepemimpinan Nabi Muhammad, saya tidak bosan mengingatkan anak saya bahwa sang Rosul dikirim ke dunia oleh Tuhan semata-mata untuk memperbaiki moralitas manusia.

Malam semakin pekat, bel jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Jalanan menuju Kremlin di balik jendela terlihat sepi. Aliran sungai Moskow juga tampak tenang tidak beriak dan suhu di luarย  7 derajat di bawah nol. Salju masih tetap turun meskipun sangat tipis. Risa kelihatan sudah kecapekan berdiskusi dan tidak meladeni lagi apa yang saya sampaikan.

Sambil meneguk segelas air, anak perempuan saya itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Rambutnya sudah tidak rapi lagi alias kusut. Alhamdulillah, pernyataan terakhir yang dibuatnya membuat saya cukup senang meskipun tidak tidak sepenuhnya lega. "Saya akan cermati kembali para caleg dan capres. Kalaupun saya tidak juga menemukan jawaban, saya akan sholat istikharah. Sorry saat ini belum ada deal. Good night papa."

*) Penulis adalah warga Indonesia yang tinggal di Moskow, Rusia, ajimoscovic@gmail.com
ย 
(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads