Suap Kader Partai Islam
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Suap Kader Partai Islam

Jumat, 06 Mar 2009 11:05 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Suap Kader Partai Islam
Jakarta - Kembali politisi partai Islam ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Abdul Djamal dari Partai Amanat Nasional (PAN) mengikuti jejak kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Menerima suap dan tertangkap tangan. Kasus ini diprediksi berdampak terhadap perolehan suara partai Islam. Tidak hanya PAN dan PPP yang suaranya anjlok dalam pemilihan umum nanti, tapi juga seluruh partai Islam. Benarkah begitu?

Di tengah iklim politik umbar janji dan ingkar bukti, rakyat butuh garansi, bahwa suara yang diberikan memberi manfaat. Dalam benak rakyat, garansi itu ada dalam partai yang berlabel agama. Dalam partai macam ini minimal moral pengurusnya terjaga. Dengan begitu, jika tidak ada pilihan yang lebih baik, maka partai Islam bisa dijadikan alternatif.  

Itu faktor penentu, mengapa PPP di masa Orde Baru menjadi partai disegani, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berhasil menempatkan kadernya menjadi Bupati atau Gubernur di banyak daerah, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tampil sebagai kekuatan terbesar di Jawa Timur, dan Partai Amanat Nasional (PAN) suaranya tetap konstan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun semua itu sekarang rasanya tinggal kenangan. Nostalgia yang hanya indah diingat tetapi tidak untuk dirasakan. Sebab booming partai Islam tidak lagi terjadi, elite partai Islam rukun dan jujur sudah sulit dicari, serta rakyat yang berpikir lurus-lurus saja juga semakin langka.

Maka dalam pemilihan umum bulan April mendatang, masa lalu itu tidak akan terulang. Partai-partai Islam itu akan mengalami keterpurukan. Suaranya terperosok ke lembah jurang, bahkan ada yang sampai pada tingkat tidak masuk akal. Itu selain karena pengurusnya ribut terus, juga ada yang ‘salah program’ serta mencuatnya pemberitaan korupsi yang dilakukan para penggede partai Islam.

Peristiwa pertama yang mendegradasi soal itu adalah penangkapan Al Amin Nasution oleh KPK. Ini kabar luar biasa. Itu karena nama politisi itu sangat indah dan Islami, juga asal partainya yang dikenal memegang teguh akidah.

Dari sisi nama, Al Amin bermakna ‘yang dipercaya’. Dia dipercaya karena kejujurannya. Tapi dengan menerima suap, nama itu jadi kebalikannya. Dia  tidak bisa dipercaya karena menghalalkan yang haram, dan menjadi tercela karena ‘tidak menjaga’ keindahan namanya.

Al Amin juga tidak amanah. Dia mencoreng PPP tempatnya mengabdi. Dia menodai kebesaran sejarah partai yang kokoh dan kukuh ini. Palang terakhir ‘oposisi’ pasca fusi partai Islam tumbang karenanya. Dan partai yang semula dihuni para militan ini terpaksa ‘tunduk’ jika omong ukhuwah Islamiyah. Padahal Soeharto saja saat berkuasa amat ‘berhitung’ jika bersinggungan dengan partai ini.

Keruntuhan citra partai Islam akibat tindakan Al Amin itu ternyata bukan akhir dari aib yang ditabur kader partai Islam. Langkah destruktif itu justru terulang kembali. Ini kali dibuat politisi PAN. Abdul Hadi Djamal yang ‘nyaleg’ di Sulawesi Selatan terima suap. Dia tertangkap tangan saat transaksi.

Tertangkapnya Abdul Djamal terima uang suap seperti mata rantai dari kejutan pertama yang benar-benar amat mengejutkan yang diukir Al Amin Nur Nasution. Dan kriminalitas beruntun itu menurunkan ‘daya jual’ partai Islam. ‘Yoni’ itu tambah mengecil dengan kemelut yang terjadi di internal PKB serta ‘salah jual’ yang dilakukan PKS.

Faktor-faktor ini yang menurunkan suara partai Islam dalam pemilu nanti. Serentetan peristiwa itu secara evolutif telah mengubah asumsi publik, bahwa partai Islam bukanlah partai ideal. Jangan lagi memperjuangkan umat, untuk ‘kebersihan’ diri sendiri saja moralitasnya jeblok. Masih adakah partai Islam yang diurus secara Islami?

Djoko Suud Sukahar: pemerharti budaya 

 

(iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads