Di tengah iklim politik umbar janji dan ingkar bukti, rakyat butuh garansi, bahwa suara yang diberikan memberi manfaat. Dalam benak rakyat, garansi itu ada dalam partai yang berlabel agama. Dalam partai macam ini minimal moral pengurusnya terjaga. Dengan begitu, jika tidak ada pilihan yang lebih baik, maka partai Islam bisa dijadikan alternatif.
Itu faktor penentu, mengapa PPP di masa Orde Baru menjadi partai disegani, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berhasil menempatkan kadernya menjadi Bupati atau Gubernur di banyak daerah, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tampil sebagai kekuatan terbesar di Jawa Timur, dan Partai Amanat Nasional (PAN) suaranya tetap konstan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka dalam pemilihan umum bulan April mendatang, masa lalu itu tidak akan terulang. Partai-partai Islam itu akan mengalami keterpurukan. Suaranya terperosok ke lembah jurang, bahkan ada yang sampai pada tingkat tidak masuk akal. Itu selain karena pengurusnya ribut terus, juga ada yang ‘salah program’ serta mencuatnya pemberitaan korupsi yang dilakukan para penggede partai Islam.
Peristiwa pertama yang mendegradasi soal itu adalah penangkapan Al Amin Nasution oleh KPK. Ini kabar luar biasa. Itu karena nama politisi itu sangat indah dan Islami, juga asal partainya yang dikenal memegang teguh akidah.
Dari sisi nama, Al Amin bermakna ‘yang dipercaya’. Dia dipercaya karena kejujurannya. Tapi dengan menerima suap, nama itu jadi kebalikannya. Dia tidak bisa dipercaya karena menghalalkan yang haram, dan menjadi tercela karena ‘tidak menjaga’ keindahan namanya.
Al Amin juga tidak amanah. Dia mencoreng PPP tempatnya mengabdi. Dia menodai kebesaran sejarah partai yang kokoh dan kukuh ini. Palang terakhir ‘oposisi’ pasca fusi partai Islam tumbang karenanya. Dan partai yang semula dihuni para militan ini terpaksa ‘tunduk’ jika omong ukhuwah Islamiyah. Padahal Soeharto saja saat berkuasa amat ‘berhitung’ jika bersinggungan dengan partai ini.
Keruntuhan citra partai Islam akibat tindakan Al Amin itu ternyata bukan akhir dari aib yang ditabur kader partai Islam. Langkah destruktif itu justru terulang kembali. Ini kali dibuat politisi PAN. Abdul Hadi Djamal yang ‘nyaleg’ di Sulawesi Selatan terima suap. Dia tertangkap tangan saat transaksi.
Tertangkapnya Abdul Djamal terima uang suap seperti mata rantai dari kejutan pertama yang benar-benar amat mengejutkan yang diukir Al Amin Nur Nasution. Dan kriminalitas beruntun itu menurunkan ‘daya jual’ partai Islam. ‘Yoni’ itu tambah mengecil dengan kemelut yang terjadi di internal PKB serta ‘salah jual’ yang dilakukan PKS.
Faktor-faktor ini yang menurunkan suara partai Islam dalam pemilu nanti. Serentetan peristiwa itu secara evolutif telah mengubah asumsi publik, bahwa partai Islam bukanlah partai ideal. Jangan lagi memperjuangkan umat, untuk ‘kebersihan’ diri sendiri saja moralitasnya jeblok. Masih adakah partai Islam yang diurus secara Islami?
Djoko Suud Sukahar: pemerharti budaya
(iy/iy)











































