Ini memang ‘negeri bolak-balik’. Negeri pokrol bambu, yang memenangkan debat kusir dan ‘jurus pokoke’. Jika di masa Yunani ada kelompok sophia yang menempatkan para ‘juru debat’ sebagai jagoan, maka hari ini, ratusan tahun setelah masa itu, di Indonesia tumbuh lebat ‘para apologis’ itu.
Persis gerakan yang berkembang di ‘Negeri Dewa’ itu, kebenaran dianggap tidak penting. Caci-maki mendegradasi pemikiran dijalankan. Kevokalan suatu keharusan agar kelihatan benar. Dan profesionalitas dianggap ‘barang mainan’ untuk ‘dimain-mainkan’. Untuk itu wilayah privasi pun sah diacak-acak untuk mencari titik lemah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, kesan yang timbul adalah, rakyat Indonesia memang bodoh. Wakilnya yang ‘terseleksi’ saja macam itu, apalagi rakyat yang diwakilinya. Itu karena pikiran dan tindakan sang wakil tidak mencerminkan kecerdasan tapi prasangka-prasangka. Prasangka buruk lagi.
Sebagai salah satu dari sekian ratus juta rakyat Indonesia, terus terang saya malu melihat ‘wakil saya’ itu bertanya dan memaparkan materi yang ditanyakannya. Selain terlalu naif, pertanyaan itu juga terkesan didominasi ‘kemarahan’ terhadap ‘Karen and his gang’ yang menjabat sebagai pemimpin Pertamina. ‘Ketidak-sukaan’ itu sangat menonjol, hingga Karen itu sudah bekerja atau belum ‘pokoke’ dianggap tidak layak kerja.
Para wakil rakyat ini sepertinya lupa, bahwa anak-anak muda kita lebih hebat dari orang-orang tua, termasuk saya. T Kiyosaki, penulis buku laris Rich Dad, Poor Dad pun dengan gamblang mengakui. Katanya, kalau ingin tahu masa depan, tanya anak-anakmu. Itu karena anak muda sekarang lebih peduli terhadap kemajuan, dan lebih piawai dari generasi sebelumnya. Dia juga sumber energi. Energi untuk perubahan pun pembaruan.
Anak-anak muda adalah vitalitas. Dia adalah semangat yang potensial untuk membangun masa depan negeri ini. Semangat itu juga sangat diperlukan di Pertamina, yang selama ini ‘ditengarai’ kental dengan tindakan korup dan ‘main pat-gulipat’. Adakah karena itu wakil rakyat ini uring-uringan dengan masuknya ‘anak-anak muda’ di perusahaan ‘sumber mainan’ itu?
Dari tayangan langsung ‘sidang’ wakil rakyat dengan Pertamina itu memberi jawaban, mengapa golongan putih (golput) terus beranak-pinak. Rakyat kian malas saja datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Rakyat jadi ‘no reken’ dengan fatwa tidak memilih wakil rakyat itu ‘haram’. Rakyat tetap melanggar. Bahkan mereka tidak ‘takut dosa’ untuk urusan satu ini, karena wakil rakyat itu memang mengesankan ‘tidak sehati’ dengan rakyat.
Dan soal ini memang bukan salah rakyat. Itu kesalahan para wakil rakyat sendiri. Mereka terlihat arogan dalam bertanya, dan berprasangka buruk terhadap figur yang ditanyai. Padahal rakyat tahu, Karen ‘belum’ bekerja.
Menurut saya, mereka bukan tipe wakil rakyat yang mengedepankan nalar. Mereka lebih mengutamakan asumsi-asumsi tak berdasar. Itu yang membuat mereka selalu curiga dan ‘merendahkan’ orang lain. Adakah di pemilu yang tak lama lagi digelar ini kualitas wakil rakyat macam itu yang akan kita pilih?
Saya respek terhadap Pertamina yang berani ‘protes’ atas sikap wakil rakyat yang tidak prosedural itu. Ini waktunya kita mereformasi para wakil rakyat yang sombong dan angkuh. Tanpa keberanian untuk 'melawan', maka tak terbayangkan, betapa lama lagi kita harus pusing mencari wakil yang sesuai dengan keinginan rakyat.
Djoko Suud: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































