Bandara Soekarno-Hatta Berbenah, Mungkinkah?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Bandara Soekarno-Hatta Berbenah, Mungkinkah?

Senin, 23 Feb 2009 07:14 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Bandara Soekarno-Hatta Berbenah, Mungkinkah?
Jakarta - Ampun! Bandara Internasional dan pintu gerbang ke Ibu Kota Jakarta, kok toiletnya super pesing dan kran airnya banyak yang rusak ya…... Katanya bandara Internasional, kok banyak calo yang menawarkan jasanya secara paksa. Katanya bandara Internasional, kok banyak puntung rokok di mana-mana serta banyak mobil parkir di selasar bandara. Semua itu adalah komentar pengguna Bandara Internasional Soekarno-Hatta (BSH), Cengkareng yang bisa kita baca setiap hari di hampir semua media massa, baik elektronik maupun cetak serta internet.

Bagaimana tidak kumuh kalau sampai hari ini keberadaan BSH masih merupakan satu-satunya sumber ekonomi atau tempat mencari nafkah bagi penduduk 19 desa miskin di sekitar bandara. Desa-desa tersebut berada di wilayah Kabupaten Tangerang dan Kotamadya Tangerang. Dengan keterbatasan pendidikan dan sulitnya lapangan pekerjaan, mereka akan bekerja apa saja di seputar BSH.  Pekerjaan informal seperti calo tiket, taxi gelap, ojek dll menjadi sumber penghidupan keluarga mereka. Kondisi ini akan terus berlangsung jika lapangan pekerjaan bagi mereka tak kunjung tersedia di wilayah Kabupaten dan Kotamadya Tangerang.

Permasalahan di atas seharusnya diselesaikan oleh Pemda Banten dan Pemerintah Pusat, mengingat BSH merupakan salah satu pintu masuk ke Ibu Kota Negara Republik Indonesia yang utama. Kenyataannya semua permasalahan hanya dilimpahkan ke manajemen Angkasa Pura II (PT AP II). Apapun bentuk pembenahan yang dilakukan oleh manajemen pengelola bandara, kekumuhan akan terus terjadi. Lalu dimana peran Pemda dan Pemerintah Pusat ? Peran pihak aparat Kepolisian Polres BSH untuk menertibkan? Tampaknya tanpa disadari mereka semua sembunyi di balik ketiak pengelola BSH.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertanyaannya: apakah BSH bisa dibenahi agar menjadi bandara yang nyaman aman, tertib dan dapat dibanggakan oleh rakyat Indonesia sebagai pintu gerbang masuk ke Ibu Kota Negara, Jakarta ? Jawabannya tentu sangat bisa dan saat ini memang tampaknya BSH sedang berbenah. Apa betul karena masih kumuh? Mari kita liat.

Permasalahan Dan Hambatan Yang Ada

Dalam membenahi BSH maupun bandara-bandara lainnya, tampaknya manajemen PT AP II banyak menemui hambatan yang sangat mendasar. Pertama sebagai pusat ekonomi di wilayah Kabupaten dan Kotamadya Tangerang BSH harus menampung banyak pengangguran yang mencari sesuap nasi di  wilayah ini melalui sektor informal. Jadi jangan heran jika saat ini BSH dipenuhi oleh tukang ojek, copet, pengemudi taxi gelap, calo tiket, penjual pulpen dan parfum, penyemir sepatu, porter yang memaksa, serta penjual asongan lainnya.

Belum lagi masalah parkir kendaraan di depan selasar terminal kedatangan maupun keberangkatan. Padahal itu sudah dilarang karena selain mengganggu arus lalu lintas, juga melanggar aturan keselamatan penerbangan. Masalahnya para pelanggar yang parkir di selasar bandara biasanya adalah mobil-mobil milik pejabat Pemerintah, Parlemen dan aparat TNI/Kepolisian. Kondisi ini menyulitkan aparat PT AP II yang bertanggung jawab menertibkan situasi seperti itu, karena takut. Maklum mereka kalangan yang sok berkuasa. Lebih berkuasa daripada rakyat pemilik kedaulatan Republik Indonesia.

Aturan yang berlaku saat ini jika mobil tidak parkir di lapangan parkir terminal yang telah disediakan, maka roda kendaraan akan digembok. Jika itu mobil rakyat jelata pasti mudah dan pemilik mobil pasti menerimanya dengan ikhlas. Namun bagaimana jika itu mobil pejabat penting atau yang sok penting ? Pasti akan terjadi tindakan kesewenang-wenangan dari ajudan pejabat tersebut terhadap petugas keamanan PT AP II. Berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat sering menimpa petugas PT AP II yang mencoba menertibkan parkir sesuai aturan.

Kasus pengeroyokan dan pemukulan petugas AP II oleh oknum TNI karena petugas AP II melarang oknum tersebut memarkir kendaraannya di selasar terminal saat akan menjemput komandannya serta kasus petugas PT AP II yang diancam dengan senjata api oleh oknum pewira TNI dan POLRI yang memarkir mobilnya sembarangan di selasar terminal saat  menjemput ibundanya yang kebetulan anggota Komisi V DPR-RI beberapa waktu lalu, merupakan dua contoh nyata betapa orang yang harusnya taat hukum dan memberi contoh baik pada publik menjadi pelanggar hukum yang tidak mau dihukum. Sementara rakyat jelata harus terima kalau roda mobil digembok petugas PT AP II karena parkir di selasar terminal.

Ketidakpuasan konsumen BSH atas pengelola bandara sering muncul di berbagai media. Begitu pula komentar negatif para petinggi negara yang notabene mempunyai kekuasaan untuk menindak Direksi PT AP II kalau memang tidak kompeten mengurus daripada hanya ikut cakap-cakap saja  di media. Sebagai masyarakat kecil saya jadi bingung, kok sulit amat ya kita tertib ?Bagaimana mau tertib kalau  para petinggi dan yang berkuasa di negeri ini tidak mau tertib ?

Bagaimana Cara Membenahinya ?

Kekumuhan BSH atau bandara-bandara lainnya memang harus dibenahi supaya kita tidak dianggap sebagai bangsa yang jorok dan terbelakang. Kekumuhan BSH sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia harus ditangani secara serius tidak saja oleh pengelola bandara tetapi juga Pemda dan Pemerintah Pusat, termasuk Presiden. Paling tidak Pemerintah harus memikirkan bagaimana caranya menciptakan lapangan pekerjaan atau sentra ekonomi di luar kawasan BSH sehingga pekerja sektor informal yang selama ini berkeliaran di BSH akan berkurang.

Tanpa penciptaan sentra  ekonomi, hampir mustahil BSH bisa tidak kumuh. Menangkapi para calo atau supir taxi gelap yang beroperasi di BSH bisa melanggar hukum karena sejauh mereka tidak melakukan pemerasan, tidak bisa ditangkap karena landasan hukumnya tidak ada. Calo dalam bisnis itu wajar dan diizinkan.

Untuk meningkatkan kebersihan BSH, saat ini PT AP II sedang menjalankan program Clean Airport Action yang diharapkan dapat membuat BSH menjadi bandara yang lebih manusiawi, lebih bersih atau tidak sama dengan terminal bis. Renovasi toilet, tidak merokok, penertiban parkir di selasar dan penyadaran konsumen akan pentingnya ketertiban dan kebersihan melalui aksi duta bandara,  diharapkan akan juga dapat mengurangi kekumuhan BSH. Meskipun BSH sudah uzur bukan berarti jadi kumuh dan tidak nyaman. Tidak ada hubungannya tua dengan jorok. Semoga.

*) Agus Pambagio (Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen). (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads