Perang Capres Tentara
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Perang Capres Tentara

Kamis, 05 Feb 2009 10:13 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Perang Capres Tentara
Jakarta - Jagat tentara negeri ini gonjang-ganjing. Itu setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menceritakan isu yang berkembang, yang menyebut 'tentara' melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis. Mereka menjadi tim sukses calon presiden (capres), dan ikut dalam penggalangan massa.

Akibat ungkapan SBY itu, maka para petinggi tentara, termasuk mantan pemimpinnya ramai-ramai berkomentar. Ada yang membenarkan, ada yang menolak, dan ada yang abstain. Namun dari seluruh komentar itu bisa diambil dua benang merahnya. Pertama 'tentara' memang masih sering melibatkan diri di politik. Kedua, kebetulan rumor yang berkembang itu tidak menguntungkan SBY.

Memang isu itu tidak mengenakkan SBY. Sebab sejauh yang terdengar dan yang menjalar dalam internal 'tentara' dan keluarga tentara itu menyebut, bahwa dalam pilihan presiden tahun 2009 ini yang penting 'asal bukan capres S', yang disingkat ABS. S disini cenderung dimaknai Susilo Bambang Yudhoyono. Itu karena di antara calon presiden yang sudah muncul, rata-rata huruf depan namanya tidak ada huruf S.

Namun kenapa rumor itu timbul dan berkembang di 'internal tentara'? Itu gampang ditebak. Dalam pilpres tahun ini, setidaknya ada tiga 'tentara' yang akan ikut berlaga memperebutkan 'orang nomor satu' di negeri ini. Satu SBY yang kini masih menempati posisi presiden dan membawa bendera Partai Demokrat, kedua Wiranto dengan Partai Hanura, dan ketiga Prabowo Subianto dengan Partai Gerindra.

Tiga kandidat itu amat 'kental tentaranya'. 'Abang ijo' tentara dikuasai. Ikut terlibat dalam 'politisasi tentara' di zaman Orba. Ikut merasakan 'terbelahnya' tentara dalam warna-warni hijau, putih, dan nasionalis. Dengan begitu, jika bicara basis massa, maka tentara adalah 'pengikut' dan loyalis utama.

Dengan latar belakang seperti itu, maka dalam pilpres tahun ini, tentara boleh atau tidak diperbolehkan undang-undang, secara moral 'dipaksa' 'keluar dari barak'. Mereka melibatkan diri sebagai partisan. Mereka akan terlibat dalam gerakan memenangkan 'seniornya'. Inilah 'perang' antar-tentara. Namun mengapa hanya SBY yang menjadi sasaran tembak?

Itu tidak lepas dari kebijakan SBY selama memerintah, dan posisi Wiranto serta Prabowo saat 'mengkomando' tentara. Bagi kalangan militer, SBY dianggap tidak 'akomodatif' pada tentara. Tidak ada keberpihakan terhadap 'tentara' yang sedang tertimpa masalah.

Itu yang menjadi pangkal timbulnya rumor 'anti SBY' di tahun lalu yang berkembang di Jawa Timur yang membuat SBY harus mengundang para 'jenderal' purnawirawan untuk silaturahim. Dan rasanya, kelahiran isu ABS yang sekarang menggelegak di internal tentara juga sama. Hanya, untuk yang terakhir ini lebih karena kompetisi 'antar-tentara' dalam berebut RI-1.

Jika isu itu tidak menguntungkan SBY, 'berpihak' kemanakah rumor itu? Dalam survei yang dilakukan sebuah lembaga independen, ternyata Prabowo yang diuntungkan. Dia dinomorsatukan. Prabowo dianggap sebagai sosok idaman. Dulu diidolakan oleh 'tentara-tentara muda' yang kini menduduki posisi strategis, dan 'kisah-kisah romantis' itulah yang dianggap bisa diulang jika Prabowo tampil kembali.

Adakah 'perang' antar-tentara tidak membahayakan pesta demokrasi yang tidak lama lagi digelar di negeri ini? Tentu sangat membahayakan kalau 'tentara' 'dibebaskan' berpolitik. Tapi kalau hanya karena moralitas, maka ketakutan itu merupakan sesuatu yang berlebihan.
Tentara adalah penjaga keamanan dan penjaga perdamaian. Tentara berpolitik telah melahirkan banyak masalah di negeri ini. Kasus Nipah yang berdarah-darah, kasus Jenggawah, kasus Talangsari, dan setumpuk kisah pilu adalah serangkaian contoh yang perlu dijadikan cermin. Untuk itu, tentara harus mulai menurunkan 'tensi kekerabatan'. Meningkatkan profesionalisme sebagai abdi negara. Bertindak dan bersikap profesional untuk kebaikan dan kedamaian negeri tercinta. (iy/iy)


Berita Terkait