Sebentar lagi kita akan memasuki dunia hingarβbingar pemilu. Berderet-deret dari pemilu legislatif nasional, daerah, dan presiden serta wakilnya yang bisa berlangsung dua babak. Energi nasional kita akan tersedot pada perhelatan akbar lima tahunan sebagai pengamalan dari nilai-nilai demokrasi yang diajarkan para filsof Yunani dan masyarakat Barat. Harga yang musti dibayar akan sangat mahal bila pemilu ini gagal memilih pemimpin yang kredibel.
Pemilu bak sebuah hajatan mantu atau pesta perkawinan. Booking tempat pesta harus dilakukan setengah tahun sebelumnya. Lalu dimulai dengan benah-benah rumah, mengatur undangan, pembentukan panitia, membuat gaun pengantin, pelaksanaan perhelatan hingga pembubaran panitia. Di atas semua itu, terdapat niatan yang suci yakni untuk membangun keluarga yang mawaddah wa rohmah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, beberapa wajah calon wakil rakyat mulai diperkenalkan ke hadapan khalayak ramai di berbagai perempatan jalan sambil tersenyum merekah dan mengucapkan aneka ucapan selamat, kecuali selamat makan. Tidak lupa tercantum tulisan dengan menyolok, "Jangan lupa mencontreng aku." Pagar dan tembok rumah kita juga mendadak jadi agak coreng moreng.
Uniknya, masyarakat tiba-tiba jadi hobi memanjat pohon dan genteng. Pohon kelapa dan jambu kini mulai berdaun umbul-umbul dan berbuah lambang partai, sedangkan di genteng fly over misalnya, tegak pohon bambu menjulang yang di ujungnya berdaun gambar-gambar para calon pemimpin negeri. Tidak lama lagi, dapat dipastikan toko pakaian juga akan kehilangan pelanggan karena masyarakat lebih bangga menggunakan kaos gratisan.
Pesta demokrasi juga akan diwarnai dengan sumbangan yang kait mengkait. Para saudagar kaya akan memberikan sebagian hartanya kepada para politisi dukungan mereka. Bekal tersebut sesuai peraturan dapat digunakan sebagai amunisi dalam pencarian suara dalam berbagai aspek dan sisinya, seperti penyewaan helikopter sampai dengan pembuatan umbul-umbul. Zaman sudah berubah coy, menjadi pemimpin di zaman modern tidak cukup dengan bekal keikhlasan an sich.
Seperti perhelatan sebelumnya, bak jamur di musim hujan, segera muncul banyak dermawan yang dengan senyum manis berempati kepada kaum papa, fakir miskin dan para duafa dengan menyampaikan lembaran warna merah untuk sekedar menambah beli cabe, kunyit hingga garam. Tentu saja hal itu tidak akan membuat kita tersinggung apalagi yang datang jumlahnya banyak. Coba hitung, kalau saja setiap calon melakukan aksi kedermawanan maka setiap anggota masyarakat dapat didatangi lebih dari 160 calon. Jika per orang yang mengetuk pintu memberikan sumbangan Rp 100 ribu saja, pastilah akumulasinya lebih dari lumayan. Sebulan dapur bisa ngebul.
Dalam musim pemilu ini, ada jaminan bahwa para calon pemimpin akan muncul di tengah-tengah masyarakat dengan wajahnya yang bersahabat plus penuh janji. Mereka tentu akan memperlihatkan bahwa di kemudian hari akan menjadi seorang yang penuh amanah, atau sesuai sifat nabi yang al-amin itu. Sehingga paska pemilu adalah masa untuk memperbaiki keadaan dan semuanya secara perlahan tapi pasti akan menjadi lebih baik. Mulai dari penurunan tingkat pengangguran, BBM dan sembako murah, upah naik, jalanan diaspal serta jembatan dibangun. Istilah teman saya dari Semarang, pokoke jos gandos alias bagus sekali.
Nah untuk merealisir semua itu, para calon pemimpin dalam hajatan pemilihan umum nasional dan daerah tersebut, semuanya hanya meminta satu yang sama: pilihlah saya, contrenglah meskipun di hidung gambar saya, atau tandai di nomor urut saya. Makin banyak yang mencontreng, makin tinggi kemungkinan untuk menjadi pemimpin masyarakat.
Kenapa banyak orang berbondong-bondong ingin menjadi pemimpin? Berdasarkan pernyataan yang selalu disampaikan, karena mereka ini memiliki suatu niat baik serta kapabilitas untuk memperbaiki keadaan yang dianggap belum sempurna. Dengan kata lain, mereka ingin membagun Indonesia menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur, masyarakat yang adil, makmur, tentram, gemah ripah loh jinawi di bawah naungan sang Pencipta yang Maha Pemurah.
Inilah ciri masyarakat yang sudah modern dalam pencarian pengakuan. Pemilihan pemimpin tidak bisa dibatin tetapi melalui mekanisme yang transparan, akuntabel, kredibel dan demokratis.
Tentu saja, rakyat menyambut dengan gembira aneka ritual perhelatan pemilu, bahkan mengikutinya dengan seksama. Ketika diberi bendera, pertama-tama dipasang di depan rumah. Kalau tidak cukup ya disampingnya. Jika masih ada yang membagi maka ditempelkan di tiang listik dan kalau sudah tidak cukup baru dinaikkan di atas pohon kelapa dan rambutan. Ramainya bendera di pinggir jalan bisa menjadi simbol maraknya demokrasi di tanah air.
Demikian juga dengan kaos. Kedermawananan para politisi tidak perlu ditolak, alias diterima saja semuanya. Jika seluruh partai membagi satu persatu berarti tiap penduduk akan memiliki 44 kaos sehingga tidak perlu beli sampai pemilu lima tahun kemudian. Lumayan. Terjadi efisiensi dan menekan konsumsi rumah tangga.
Jangan lupa, jika ada tamu yang datang ke rumah sebelum subuh saat semua orang masih terlelap --sering disebut serangan fajar, harus dibukakan pintu pelan-pelan. Jangan sampai mengganggu tetangga yang masih mendengkur. Menghormati tamu adalah budaya baik yang harus dilestarikan. Apalagi, tamu yang datang tengah malam dan pagi buta itu pasti tidak akan merepotkan, tidak akan menginap atau minta suguhan. Mereka hanya singgah sesaat untuk meringankan beban kehidupan sang sohibul bait.
Dan, begitu pemilu sudah tiba, maka setiap orang dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri, sesuai hati nurani atau berdasar priomordialismenya. Mereka bisa sangat tenang dan bebas mencontreng siapa saja karena sadar bahwa saat ini bukan zaman tekan menekan. Bahkan yang tidak memilihpun bebas dari hukuman karena hal itu bukan merupakan delik pidana. Mereka bisa menikmati liburan sambil tidur-tiduran di beranda rumah. Semua aman terkendali karena di hari pemilihan pak polisi siap berjaga 24 jam.
Dari hasil kegiatan contreng mencontreng itu, muncullah pemimpin bangsa yang akan membawa biduk negeri ini ke arah kemajuan dan pembangunan. Menjadikan bangsa ini mampu bersaing di kancah dunia sambil ikut aktif dalam pemecahan urusan internasional. Kepala kita juga akan bisa tegak saat berada di antara bangsa-bangsa lain mana pun.
Karenanya, masyarakat pun sebenarnya boleh saja berangan-angan, apakah mungkin pemilu bisa diatur sedemikian rupa dalam kurun waktu yang lebih panjang dan lebih sering. Setiap minggu sekali akan lebih baik, atau setidaknya dua belas kali dalam setahun. Jika itu terlaksana, maka kemakmuran kemungkinan akan lebih merata dengan keamanan nasional yang lebih mantap. Setiap hari rakyat bisa makan cukup, tidak perlu menunggu datangnya Idul Adha, dan polisi selalu ada di mana-mana. Ayolah coy, kita bikin pesta terus.
Keterangan Penulis
*) Penulis adalah almuni Pondok Modern Gontor kini tinggal di Moskow (es/es)











































