Pesta demokrasi semakin dekat. Dekatnya hari pilihan itu membuat banyak pihak yang berkepentingan mulai panik. Kepanikannya terbaca melalui bendera, umbul-umbul, serta gambar para tokoh yang mengklaim ‘wakil rakyat’ itu tidak disambut gempita. Akibatnya jawaban selebor merespons apa saja yang dianggap menyudutkan tidak terelakkan.
Yang ‘ketiban’ (tertimpa) ‘awu anget’ (tudingan miring) atas kepanikan itu pertama adalah lembaga survei. Hasil siginya dianggap tidak valid dan ‘pesanan’. ‘Tukang cari data’ jadi agen ganda. Anggota partai plus pendiri lembaga survei memanipulasi data untuk kepentingan kelompoknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Celakanya berbagai survei itu menempatkan Partai Demokrat di ranking atas. Itu juga diikuti tokoh yang diusung partai ini, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Adakah dengan begitu Partai Demokrat dan SBY ‘memanipulasi’ data semua lembaga survei itu? Rasanya kok tidak masuk akal.
Jika Partai Demokrat dan SBY mendapat respons baik, tidak demikian dengan Partai Golkar dan Ketua Umumnya, Jusuf Kalla (JK). Berbagai survei itu menunjukkan terus memburuknya performa Golkar dan JK. Bahkan dana besar yang digelontorkan untuk iklan partai ini di hari-hari ini juga dinilai sebagian kalangan sebagai iklan yang tidak efektif.
Kemerosotan Golkar itu bukan tidak disadari partai ini. Kesadaran itu sudah terbaca dari JK hingga pengurus level bawah. Itu yang menjadikan JK tidak lagi ‘bersemangat’ untuk maju sebagai capres, dan proteksi terhadap partai ini kembali dibuka hingga mencuatkan para ‘pesaingnya’ mencapreskan diri melalui Golkar.
Berbagai manuver pun sempat dilakukan pihak lain untuk kepentingan JK ‘mencari’ peluang di tengah situasi ‘mati akal’ itu. Silang pendapat terjadi, dan ‘isu’ itu cepat padam tanpa hasil yang memadai. Ini pertanda, JK dan Golkar memang kian sulit untuk ‘dijual’.
Kalau saya, tidak ndisiki kerso (mendahului kehendak), sudah memprediksi situasi ini, dan kondisi Golkar dan JK yang lebih tragis lagi sampai pemilihan umum nanti. Melalui analisis yang diturunkan bersambung di detik.com Januari 2008 saya berupaya membedah nasib JK dan Golkar jika partai dan sang ketum tak ‘mengubah haluan’.
Malah dua tahun sebelumnya, ketika JK masih ‘perkasa’ disamping SBY, saya ‘mengingatkan’ bahayanya ‘matahari kembar’ yang dipertontonkan JK. Melalui koran politik Rakyat Merdeka saya ungkapkan pola Golkar dan JK yang harus ‘dibongkar’. Dalam tulisan enam seri itu juga saya gambarkan solusi agar Golkar dan JK tidak ‘terpuruk’ seperti sekarang ini.
Namun hasilnya seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa, bahwa orang besar itu akan menyadari kesalahannya jika sudah terbentur dua perkara. Satu jatuh dari singgasana kekuasaan. Dan kedua kalau dipaksa keadaan untuk sadar. Jarang pemimpin yang sadar karena dilandasi timbulnya rasa kesadaran.
Kini, menghadapi hari-hari akhir JK dan Partai Golkar, rasanya hanya doa yang bisa dilakukan. Berdoa agar survei dan prediksi jeblok itu tidak benar-benar menjadi kenyataan. Begitu juga dengan posisi JK yang kemungkinan bakal ‘bercerai’ dengan SBY.
Hanya sayangnya, doa itu merupakan ikhtiar yang paling amat rendah kadarnya.
* Joko Suud adalah pemerhati budaya.
(iy/iy)











































