Tahun 2009 dibuka dengan tragedi berdarah. Palestina dibombardir Israel. Ratusan warga tak berdosa berkalang tanah. Peristiwa itu dikutuk dunia. Ini 'drama' yang laten digelar, terjadi dari masa ke masa. Kita prihatin dan menangis melihat itu.
Perang Israel-Palestina dalam peta budaya bukanlah perang biasa. Perang ini diasumsikan sebagai salahsatu 'pintu masuk' bagi kehancuran dunia. Tanah 'sengketa' menjadi pemicu. Didukung seteru yang tersebar di berbagai penjuru dunia menyulap perang itu melebar dan berkobar dimana-mana. Perang Israel-Palestina sering diidentifikasi sebagai 'perang keyakinan’ Islam dan Yahudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyulut 'kiamat' kedua adalah 'perang Tamil dan Sinhala' di Srilanka. Perang ini acap dipandang sederhana. Namun jika mozaik sejarah dipakai sebagai cermin, maka ‘urusan’ dalam negeri Alengka ini bukan sekadar melibatkan Suku Tamil ‘yang Hindu’ dan Suku Sinhala ‘yang Buddha’. Ini merupakan babon bagi kembalinya ‘geger kemanusiaan’ yang termaktub dalam Kitab Ramayana.
Perang Tamil dan Sinhala adalah sintetis ‘perang Hindu-Buddha’. Kalah dan menang hanya rangkaian dari spiral panjang tesa, antitesa, dan sintesa. Memunculkan seteru baru. Memunculkan pendukung baru. Menggelar perang baru. Berlaga bertaruh nyawa, untuk saling hancur dan menghancurkan.
Banyak negara bakal terlibat dan melibatkan diri untuk perang ini. Itu demi keyakinan yang diyakini. Rama dan Dasamuka ‘hidup kembali’, dan kukuh siaga bagi kehancuran negeri pengamal paham keduanya. Jembatan Adam (Adam bridge’s) yang luluh lantak merupakan monumen. Monumen pengingat, bahwa negara lain implisit terlibat dalam konflik di negeri penghasil teh ini.
Agama sebagai norma damai ternyata sumber dari ketidakdamaian. Dia bak figur Semar dan Togog. Sesaudara yang ambigu. Yang satu pengamal kebaikan bertugas sebagai punakawan Pandawa. Dan satu lagi pengkarya ‘kebusukan’ mengabdikan diri sebagai ‘batur’ Kurawa. Baik dan buruk itu selalu bergesekan keras untuk membentuk arena. Dan di arena itulah keduanya berlaga untuk saling membinasakan.
Disamping agama sebagai ‘penyulut’ ketidak-damaian, ternyata ada kelompok satu lagi sebagai ‘penyempurna’ kehancuran dunia. Pioner perusak itu adalah kalangan cerdik-pandai. Fritjof Capra, saintis, menuding itu. Para filosof yang diagung-agungkan itu harus dipersalahkan. Galileo Galilei hingga Newton ‘membukai misteri’ dunia, dan ‘relativitas’ Einstein membelalakkan mata kita.
Hiroshima dan Nagasaki hancur binasa. ‘Kecerdasan manusia’ itu menghasilkan tragedi. Penderitaan dan pembunuhan massal. Saking banyaknya nyawa terpisah dari raganya, sampai-sampai batu nisan tak cukup sebagai tanda. Prasasti dibuat di tempat itu untuk mengukir nama korban di area ladang pembantaian.
Kiamat haqqul yakin batal tiba. Itu bukan hanya dogma agama. Kian tahun dunia kian cepat menuju kehancurannya. Itu karena miliaran manusia menempati satu tempat yang bernama bumi. Saban manusia berkeyakinan dan saling membinasakan karena berbeda keyakinan. Ditambah teknologi perang yang terus berkembang sembunyi-sembunyi, maka ‘urip iku mung mampir ngombe’, hidup di dunia itu hanya mampir minum, benar adanya.
Mengapa waktu yang pendek di dunia ini harus berlumuran darah dan airmata, ya Allah? (iy/iy)











































