Kaji Vs Karsa & Berantemnya Anak Kecil
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kaji Vs Karsa & Berantemnya Anak Kecil

Kamis, 04 Des 2008 10:08 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kaji Vs Karsa & Berantemnya Anak Kecil
Jakarta - Pasangan Khofifah Indarparawansa dan Mudjiono (Kaji) punya peluang besar untuk menang. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memberi ruang itu. Mengamanatkan untuk mencoblos dan menghitung ulang suara di tiga daerah di Madura yang terjadi kecurangan. Dan itu bakal lama, seru, melelahkan, menguras banyak dana, serta awas, hati-hati terjadi pertumpahan darah.

Dampak dari putusan itu di tiga daerah Madura ini sekarang menegang. Ketegangannya bukan pada pendukung dua calon ini, tetapi lebih pada mulai terkonsentrasinya aparat keamanan dan pihak luar yang terus berdatangan. Sampang, Bangkalan, dan Pamekasan menjadi lahan garapan. Dan di daerah ini, kembali berbagai janji serta upeti bertabur bak bintang yang gemerlapan.

Namun taburan bintang yang menjanjikan kekayaan dan kemewahan itu perlu diantisipasi sejak dini. Itu karena tiga wilayah yang bakal mencoblos ulang dan menghitung ulang itu secara sosiologis merupakan ‘kawasan keras’. Jika provokator bergerak dan ‘bagi-bagi’ rezeki dengan kasar, bintang itu bukan mendatangkan kesenangan tapi berbalik menjadi prahara. Amuk massa yang berdarah-darah bukan muskil. Dan ini yang patut ditakuti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) yang terseok-seok ini bukan tanpa sebab. Di antara sekian sebab, sebab yang paling utama adalah banyaknya ‘pemain’ yang ikut bermain dalam pilkada Jawa Timur ini. Penguasa tingkat lokal hingga Jakarta berkiprah, dan tebaran uang membuat pilkada yang semula enak dinikmati itu jadi ajang perjudian. Judi untuk penyelamatan aparat yang saat memerintah ‘tidak bersih’, dan judi mendulang nasib jelang Pemilu tahun depan.

Dua pasangan yang bertarung di pilkada putaran kedua ini merupakan pasangan yang mengejutkan. Kaji yang masuk belakangan diusung koalisi partai gurem disebut ‘Kuda Hitam’ karena posisi Khofifah di tengah belukar ‘keributan’ Nahdlatul Ulama (NU) serta perpecahan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sedang Soekarwo yang ‘incumbent’ telah matang menyiapkan diri sejak empat tahun lalu itu gambarnya memenuhi Koran, jalanan, media elektronik serta transportasi umum. Pak De, begitu sebutannya, difavoritkan menang mutlak.

Ternyata kejutan terjadi. Putaran pertama menempatkan pasangan Soekarwo-Saifullah (Karsa) menang tipis. Kaji unggul dan mengajak Karsa bertarung ‘rubber set’ seperti diamanatkan undang-undang. Gemelegar Karsa berbuah memprihatinkan. Sedang gemerincing Kaji berhasil menuai simpati.

Kejutan yang terjadi pada keduanya itu memberi catatan tersendiri di batin warga Jawa Timur. Catatan itu konstruktif bagi Kaji, dan sebaliknya destruktif untuk Karsa. Kaji dianggap tokoh yang mewakili keinginan rakyat Jawa Timur dan mempunyai pendukung riil. Sedang dukungan Karsa karena ‘sesuatu’. Itu yang memberi optimisme pendukung Kaji jelang putaran kedua.

Maka, ketika hasil ‘perhitungan cepat’ diumumkan dan menempatkan Kaji sebagai pemenangnya, warga Jawa Timur tenang-tenang saja mengamini. Batin mereka telah meyakini itu. Mereka tidak kaget dengan hasil pengumuman itu. Tapi ketika esoknya Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jawa Timur menghitung sebaliknya, maka benar atau salah hitung-hitungan itu, tapi mayoritas warga Jawa Timur menganggap hitungan itu salah. Ini yang membuat situasi politik Jawa Timur mulai memanas. Pilkada pun jadi sengketa.

Ketika sengketa ini masuk MK, berbagai rumor membuncah. Ada tudingan intervensi penguasa yang akan meloloskan Karsa. Ada tudingan Ketua MK telah ‘dirunding’ agar putusan disesuaikan dengan skenario. Dan itu gampang, karena diasumsikan Kaji tidak punya bukti, dan gugatannya hanya didasarkan atas asumsi-asumsi.

Tapi ketika sidang digelar, ternyata Kaji cukup bukti. Sidang terbuka yang disiarkan langsung media elektronik itu akhirnya berubah mirip kampanye Kaji. Dia diunggulkan dan meninggalkan kesan, jika pilkada jujur dan adil, harusnya Kaji yang menang. Bukan Karsa. Apalagi ada keanehan, di sebuah kabupaten di Madura, suara Kaji nol. Itu rasa-rasanya yang mendasari putusan MK untuk mengulang coblosan dan mengulang penghitungan suara di tiga kabupaten di Madura.

Ibarat pusaran, arus yang mengidolakan Kaji amatlah kencang. Arus macam ini dalam banyak peristiwa penting, tak ada yang mampu membendung. Jika ada yang berani melakukan itu, maka akan terjadi prahara yang tak terbayangkan korbannya. Maka kalau sampai Kaji kalah dalam ‘coblosan Madura’ ini, amuk massa dan tindak anarkhis bukan tidak mungkin terjadi. Ini yang perlu direnungkan.

Untuk itu, senyampang arus itu belum terlaksana, rasanya ‘para penguasa’ yang selama ini ‘ikut bermain dan memainkan’ pilkada ini harus instrospeksi diri. Itu jika tidak ingin ambisinya berantakan hanya gara-gara memperjuangkan jagonya rebutan jabatan gubernur.

Ini ibarat anak kecil yang berkelahi, sang bapak ikut turun gelanggang. ‘Campur tangan’ sang bapak itulah yang membuat pilkada ini jadi rumit dan tak sesederhana lagi.



* Djoko Suud: pemerhati sosial.

(iy/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads