Kasus Dhani menambah daftar kasus menggugat kreatifitas atas alasan merusak simbol negara. Dalam konsep yang lebih besar, budaya populer yang sifatnya luwes dan cair beradu muka dengan tafsiran nasionalisme doktriner yang kaku serta membosankan.
Sebelumnya, Ahmad Dhani masih lewat Dewa 19 sempat digugat oleh elemen Islam garis keras. Lantaran logo Dewa 19 yang dianggap menyerupai kaligrafi "Allah" dijadikan alas panggung video klip. Di atasnya, grup band bertemakan cinta tersebut menyanyi. Praktis, Dhani cs menginjak logo yang menurut Dhani dalam permintaan maafnya hanya sekedar mengedepankan estetika tanpa bermaksud menghina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak dalam lirik lagu "Kenyataan dalam Dunia Fantasi". Berkolaborasi dengan grup band cadas "Koil", ia mengkritik bangunan nasionalisme yang usang. Bahasanya lugas tanpa tedeng aling-aling.
Kritik itu tidak berhenti pada bahasa verbal. Secara simbol, dia mencoba mendobrak kekakuan berfikir lewat logo Dewa 19 pada bendera merah putih itu. Bahwa merah-putih juga proses kreasi historis yang perlu dilanggengkan lewat bahasa populer.
Generasi muda sekarang - segmentasinya Dewa 19 - adalah hasil dari budaya massa. Generasi yang lebih patuh pada iklan dan MTV daripada mengerjakan tugas sekolah.
Pada titik didih tersebut, patutlah memahami jika zaman sudah berubah. Nasionalisme bukan lagi produksi orator di tengah perang, di ruang kelas dalam penafsiran konservatif ataupun pidato pejabat yang membosankan.
Dhani mencoba bicara nasionalisme menggunakan bahasanya, kepada generasinya, di zamanya. Ia nyatakan, untuk menggambarkan Indonesia Raya, disimbolkan dengan sosok perempuan, "perempuan paling cantik di negeriku Indonesia". Tak heran sosok perempuan secara harfiah justru jarang dimunculkan dalam videoklip tersebut karena lagu itu untuk nasionalisme zonder penistaan isme kebangsaan.
Lebih tepatnya, perempuan dalam lirik tersebut adalah bahasa ngepop untuk istilah konvensional "ibu pertiwi". Oleh karenanya, Dhani lebih memilih diksi "cantik" yang berkonotasi lebih universal dan netral. Berbeda dengan kata "seksi" pada lagu untuk Mulan, "Makhluk Tuhan Paling Seksi" yang lebih identik dengan roman percintaan dan pemaknaan tubuh perempuan secara sensual.
Simak beberapa liriknya.
Merah darahku, putih tulangku/
Saat aku menatap wajahmu/
Bergelora seluruh jiwaku/
Saat kuyakin kamulah hidupku//
Kamu adalah perempuan paling cantik di negeriku Indonesia/
Kamulah yang nomor satu/
takan ada perempuan yang lainnya//
Jika penafsiran ini layak, maka persoalan logo Dewa 19 di atas bendera merah putih akan menjadi bahasa visual saja. Fungsinyapun sebatas penegas akan sebuah kekuatan nasionalisme yang dibawa tanpa maksud menghina.
Di beberapa negara, logika di atas seringkali dipraktikan. Madonna kerap menggunakan bendera Amerika pada video klip seperti pada klip film "American Pie". Lebih berani, grup cadas Green Day menulis lirik "American Idiot" dengan videoklip yang cukup nyentil. Di Inggris, lagu kebangsaan "God Save The Queen" kerapkali diplesetkan ataupun diremake menggunakan irama musik yang lebih ngepop.
Contoh terbaru pada Pilpres AS lalu saat diadakan kontes mirip Sarah Palin. Pesertanya menggunakan bikini (hanya cawat dan BH) bermotif bendera Amerika. Tak ada tuntutan ataupun tudingan black campaign setelahnya.
Sebab, bagi warga negara yang cerdas, nasionalisme adalah sesuatu yang menarik dan tidak untuk menakut-nakuti.
* Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(Ari/iy)











































