Kemarin pagi, ketika hari baru saja berganti, ajal menjemput tiga aktor pengeboman Bali. Berita besar yang tersiar ke seluruh dunia itu seolah mengesankan matinya para syuhada yang sedang melenggang ke surga, bukan para teroris yang kejam dan tidak bermoral. Mengapa?
Dalam kurun 6 tahun berjalan, secara perlahan tapi pasti, ketiga teroris bersurban itu terus bermetamorfosis menjadi tokoh disegani. Kata-katanya kadang terdengar lembut, bersahabat namun memuat kekuatan berdasarkan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sering juga muncul dengan keberanian dahsyat seolah perjuangannya haqqul yakin berada di jalan benar. Bahkan, Tuhan yang ada di atas sana sepertinya telah berpihak penuh tanpa reserve kepada mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sadar atau tidak, sengaja atau pura-pura, diminta atau jalan dengan sendirinya, kita semua telah membesarkan nama ketiga pelaku bom Bali, 12 Oktober 2002. Telah terjadi suatu pembelokan pemahaman terhadap para pelaku. Orang pun bisa menjadi tiba-tiba iba dan bersimpati serta melupakan kekejaman yang pernah dilakukan.
Lihatlah, setelah mereka divonis dengan hukum mati beberapa saat setelah ditangkap, isu yang berkembang dan melingkupi menjadi berubah. Betul-betul menjauh dari esensi yang semestinya terus dihembuskan. Beragam isu menyimpang dan tidak terarah itu setidaknya ada 8.
Pertama, apakah mereka akan mendapat keringanan hukuman atau tidak? Kedua, apakah hukuman mati itu masih tetap relevan dan manusiawi? Ketiga, benarkah mereka ini akan menjadi para syuhada yang langsung masuk surga? Keempat, kematiannya diulur-ulur untuk menangkap teroris yang lain. Kelima, terajut kesedihan dari waktu ke waktu yang dialami oleh keluarga di Tenggulun misalnya. Keenam, apakah bom akan bermunculan kalau eksekusi dilakukan? Ketujuh, kapan waktu yang tepat untuk eksekusi? Kedelapan, bagaimana prosesi pengamanan dan penyampaian jenazah kepada keluarga? Perlukah memakai helikopter atau cukup pakai ambulan? Dan masih banyak lainnya.
Beragam isu yang menyimpang di atas terus berhembus dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Media massa keasyikan dengan isu terbaru dan melupakan esensi pengeboman. Pemerintah juga seakan lupa mengemas berita tiga teroris tersebut menjadi berita yang "mengingatkan". Bahkan, ketika memberitakan eksekusi ketiganya, CNN pun menayangkan wajah close up ketiga teroris tersebut dengan wajah segar. Seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Peringatan bom Bali yang dilakukan setiap 12 Oktober di Ground Zero Bali seolah tidak mendapatkan publikasi memadai. Perasaan pedih seolah hanya tinggal dirasakan oleh para keluarga korban. Kekejaman 6 tahun lalu telah menguap dan tidakย bisa dirasakan lagi. Padahal, waktu itu dunia terguncang, semua orang mengutuk, Indonesia dituduh menjadi sarang teroris, masyarakat muslim menjadi kikuk, ekonomi tambah terpuruk.
Bukankah setelah bom Bali muncul bom-bom lainnya yang saling terkait. Berderet-deret dari Bali hingga Jakarta. Darah dibuat berceceran di mana-mana. Pemerintah khususnya polisi menjadi kalang kabut. Didirikan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation. Membuat jaringan Interpol lebih baik. Terus memburu para teroris potensial. Dan, akhirnya ratusan orang harus masuk bui karena tuduhan terkait dengan jaringan terorisme.
Orang lupa bahwa bila tidak ada kelompok pengebom seperti itu, kita pasti sudah lebih maju dan lebih makmur. Setidaknya banyak hal yang sudah bisa dilakukan untuk memperbaiki ekonomi yang masih carut marut. Bayangkan saja, pada 2002 Indonesia masih termehek-mehek mengatasi krisis ekonomi yang meledak lima tahun sebelumnya. Kehancuran pariwisata Bali dan Indonesia pada umumnya telah mengempiskan devisa yang mestinya sangat berharga. Belum lagi, setelah itu bom masih bermunculan dan terus menghardik keamanan dan ekonomi nasional.
Sayang, kemasan yang kurang pas tentang sepak terjang para teroris tersebut telah membuat ingatan sebagian masyarakat akan kekejaman ketiganya sirna. Liputan berlebihan dan tidak fokus oleh media massa menjadikan ketiganya selebriti baru. Jujur saja, kita memang harus lebih banyak belajar tentang public relations agar tidak terjerumus ke dalam lubang yang kita siapkan sendiri.
Moskow, 9 November 2008
Drs M Aji Surya, SH, MSi adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Moskow, Rusia
(nrl/nrl)











































