Operasi Preman, Mengecat Tembok Citra yang Kusam
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Operasi Preman, Mengecat Tembok Citra yang Kusam

Senin, 10 Nov 2008 10:15 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Operasi Preman, Mengecat Tembok Citra yang Kusam
Jakarta - Ia hanya pengangguran biasa. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Abdul Rahman - nama pemuda tanggung itu - iseng menjadi juru parkir di salah satu ruko di Cengkareng. Hasilnya lumayan, kata dia. Kedua orang tuanya dan 2 adiknya dapat makan sehari-hari, meski sederhana.

"Seapes-apesnya dapat Rp 50.000 sehari, " kata Rahman, Kamis kemarin. Menurutnya, nilai itu sudah dipotong untuk kepala gengnya dan berbagi rezeki dengan oknum dinas perparkiran.

Hanya saja, Kamis lalu nasibnya kurang beruntung. Rahman dijebak polisi yang berpura-pura mau membayar parkir. Saat dia mau menerima duit Rp 1.000, tangannya diborgol dan digelandang ke Mapolres Jakarta Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia dituduh jadi preman. Preman yang meresahkan masyarakat dan layak diamankan, kata Kapolres Jakarta Barat di depan 243 preman lainnya.

Tiba-tiba, persoalan preman kembali menyeruak setelah Kapolri mengintruksikan menangkap preman ramai-ramai. Sejurus kemudian, tiap wilayah seperti berlomba menangkap orang yang diduga preman atau yang benar-benar preman atau yang disuruh mengaku preman.  Dalam hitungan hari, polisi menyatakan telah menangkap 800 orang yang dianggap preman, di Jakarta saja.

Gerakan sapu jagat itu menimbulkan reaksi yang tidak sedikit. Kelompok Hercules, salah satu kelompok yang distereotipkan sebagai kelompok preman, sudah menyiapkan pengacara. Bila anggotanya diciduk dengan tuduhan premanisme, akan dilawan secara hukum.

Perlawanan itu menjadi babak baru dalam isu preman dan premanisme di Indonesia. Tahun 80an, isu preman dikembangkan untuk kepentingan politik. Bahkan perintah tembak mati bagi preman ynag kemudian dikenal sebagai petrus (penembakan misterius) tidak terlepas dari gesekan kepentingan politik kala itu.

Pada era reformasi, perilaku preman dan premanisme masih diadopsi untuk kepentingan politik. Biasanya dengan show of force berparade, konvoi ataupun berbaju doreng khas militer. Ada juga yang kekal sampai sekarang, menggunakan baju ormas/agama.

Sejatinya, agak ambigu saat institusi polri memerintahkan penangkapan besar-besaran terhadap orang yang dianggap preman. Sebaris intruksi yang sangat multitafsir di lapangan.

Sebab, preman dan premanisme lebih dekat pada pengertian sosiologis yang cukup rumit. Ada unsur kemiskinan sekaligus faktor kriminalitas. Termasuk polarisasi kelompok sosial berdasar ras/suku akan bersilang pada kepentingan ekonomi sesuap nasi. Secara psikologis, kelompok preman menyimpan kekecewaan masal yang kekuatannya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja dan untuk tujuan apa saja.

Hebatnya, polisi tak mau ambil pusing. Definisi preman didasarkan pada keluhan warga, yang rentan fitnah karena tidak suka pada tetangga atau atasannya. Tetapi, bila ada laporan, segenap jajaran polisi harus bertindak.

Sim salabim, ratusan preman itu pun terkumpul. Tak peduli orang-orang yang mungkin sedang menjadi joki 3 in 1 atau pengamen bertato dan seniman jalanan dengan rambut dicat warna-warni.

Tampaknya, semua digaruk untuk sebuah greget pencitraan kepada masyarakat. Supaya warga tahu, ada  petinggi polisi yang baru dan bekerja serius.

Lantas bagaimana dengan preman berbaju ormas itu. "Kalau itu mengganggu Anda dan lapor, kami akan tindak", begitu jawaban salah satu petinggi Polri. Benarkah? Kita tunggu saja sebelum ada korban salah tangkap lainnya.

*Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.

(Ari/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads