Teroris atau syuhada memang mengundang polemik. Perdebatan tanpa konklusi akhir. Namun yang interesan untuk dipertanyakan, mengapa desa Tenggulun, kecamatan Solokuro, Lamongan tempat kelahiran mereka? Padahal ini adalah wilayah yang dikitari 'kehidupan agamis' tinggalan para wali. 'Daerah binaan kekasih Allah' yang berdakwah 'secara budaya'.
Secara antropologis sebenarnya Lamongan memang unik. Wilayah ini menjadi muara dari berbagai kebudayaan besar. Kebudayaan Majapahit di selatan, itu karena letaknya yang bertetangga dengan Mojokerto. Bahkan penduduk kabupaten ini yakin patih Gadjah Mada lahir di desa Modo, sebuah desa kecil di Lamongan. Keyakinan itu belum pupus hingga kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syiar itu merupakan kelanjutan dari penyebaran Islam yang dilakukan aulia yang datang duluan. Di sebuah ketinggian dekat Drajat sebagai bukti. Di tempat ini terdapat bangunan ibadah yang disebut 'Masjid Tiban'. Masjid yang terletak di Sendang Duwur itu dibangun era Majapahit, dan dipercaya berdiri secara gaib.
Lepas itu mitos atau mistik, tapi itu menjadi rabuk yang kian menyemaikan kehidupan Islami di daerah ini. Termasuk makam Asmaraqondi yang dipercaya disemayamkan di daerah Paciran. Untuk itu jangan heran jika 'Wong Lamongan' itu jadi ustad atau bangsat, mereka rata-rata katam Al-Quran.
Kehidupan 'Islam sejuk' itu tetap terjaga sampai sekarang. Malah kalau mau jalan-jalan ke pelosok desa, di persawahan, saat matahari mulai meredup, akan banyak terlihat pemandangan indah, orang melakukan sembahyang di pematang sawah. Mereka bertelanjang dada, dan hanya bersarung untuk melakukan ibadah.
Bahkan yang 'Islam KTP' pun 'merk Islamnya' masih kelihatan kental. Kalau jalan kemana-mana, selain mengenakan 'celana gombrang' di atas mata kaki, di pundaknya selalu tersampir sebuah sarung. Kain sebagai sarana ibadah bagi laki-laki ini adalah aksesoris yang mencitrakan diri sebagai manusia yang dilahirkan di komunitas Islam fanatik.Β Β
Desa Tenggulun dimana Amrozi dilahirkan adalah daerah 'Islam sejuk' itu. Islam yang rahmatan lil alamin. Islam damai. Bukan Islam yang 'memusuhi' pihak lain dengan kekerasan. Apalagi 'membunuhi' yang bukan seiman dan sehaluan.
Kalau kemudian Amrozi dan saudaranya ternyata terbukti melakukan 'kekerasan' dalam 'berdakwah', ikut urun dalam peledakan bom bali, maka bisa ditarik kesimpulan, 'kebudayaan' yang merasuk ke dalam jiwa laki-laki ini bukanlah 'kebudayaan wali'. Itu hampir pasti, budaya yang ditimba di negeri jiran, saat laki-laki ini migrasi untuk mencari kehidupan yang lebih mapan.
Benar atau salahkah tindakan Amrozi 'berdakwah' dengan menebar kekerasan itu? Apa yang dilakukan Amrozi tidak pada tempatnya dikomentari dalam kolom ini. Hanya, bagi saya, ibadah itu menyembah Gusti Allah. Syiar yang mulia itu memberi tauladan. Perlu ditauladanikah langkah saudara kita dari Tenggulun itu? (iy/iy)











































