Prabowo Melempar Dadu
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Prabowo Melempar Dadu

Rabu, 15 Okt 2008 09:40 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Prabowo Melempar Dadu
Jakarta - Daftar calon presiden (capres) tambah lagi. Prabowo Subianto mengisi posisi itu. Dia dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Isu itu digulirkan saat partai ini menggelar kongres luar biasa, Selasa kemarin. Punya kanskah dia?

Memang, kemunculan Prabowo benar-benar menghentak. Iklannya yang ditayang TV cukup efektif. Isu yang diangkat hangat dan nasionalistis. Dengan gaya oratornya, massa terbawa. Mereka tersentuh dan bangkit patriotismenya. Namun adakah 'dadu' yang sudah dilempar itu keluar 'angka kayun' (beruntung) atau justru angka jeblok? Inilah 'otak-atik' soal itu.

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ketika dilahirkan masih dipandang sebelah mata. Nama itu hanya mengingatkan orang tentang nama partai lama, yang semangatnya untuk berjuang melawan penjajah. Dengan begitu, partai ini dianggap sudah out of date. Puritan, dan mungkin tidak lama lagi segera akan berubah menjadi sekadar 'partai papan nama'. Tak lebih dan tak kurang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang tahu di belakang Gerindra ada Prabowo. Ingatan orang, Prabowo itu adalah sosok yang menyandang 'seabreg mantan'. Mantan Danjen Kopassus, mantan menantu Cendana, 'pernah bermasalah' ketika Habibie menggantikan Pak Harto menjadi presiden, dan 'tetap bermasalah' dengan Jenderal Wiranto yang kini mandegani Partai Hanura.

Dari catatan-catatan itu, maka hitung-hitungan kasar, Prabowo dan Gerindra tidaklah serius berpolitik. Dia hanyalah 'pasukan penghalang'. Menghalangi laju Wiranto, mengerem melejitnya tokoh-tokoh yang di era Orde Baru masih 'menyimpan bara', dan malah dituding sebagai 'test case' Cendana untuk kembali memasuki ranah politik.

Namun saat 'iklan politik' yang ditayang TV tidak habis-habis, orang mulai 'berhitung'. Mengamati langkahnya, mengkalkulasi kekuatan dan kelemahannya, serta melihat kemungkinan-kemungkinan partai dan tokoh ini ke depan. Sebab tidak dipungkiri, pengambilan isu iklan itu amat tepat. Mengangkat jawaban terhadap persoalan bangsa yang harus dijawab.

Iklan itu 'memutihkan' Prabowo. Bercak hitam selama perjalanannya mulai terkoreksi. Nama harum sang bapak, almarhum Soemitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi kembali mengisi mimetik banyak pihak. Juga garis politik, sikap, serta latar Islam 'garis keras' yang melekat dalam gaya tampil laki-laki yang teguh pendirian itu.

Figur sang ayah itu amat membantu Prabowo. Nama harum sang ayah itu tidak hanya punya kemungkinan 'mempengaruhi' konstituen nasionalis dan proletar, tetapi juga potensial untuk menyeret konstituen yang agamis. Malah kalau digarap secara profesional, tidak hanya gembar-gembor di TV, massa PKS, PBB, serta PPP yang masih 'berideologi' pun gampang ditarik masuk Gerindra.

Hanya pesoalannya, mampukah Prabowo memanfaatkan potensi itu?

Sejauh dari pengamatan terhadap langkah yang dilakukan laki-laki ini, Prabowo baru berwacana. Dia berteriak tentang produk pertanian dan nasib petani, tetapi belum turun langsung mengatasi kesulitan petani. Pupuk langka atau bibit yang bermasalah tetap dibiarkan bermasalah. Nelayan melarat tetap dibiarkan dengan kemelaratannya. Dan mandiri dengan produk dalam negeri? Detik-detik menegangkan memasuki efektifitas perdagangan bebas dunia telah menyulitkan kita memaknai istilah itu.

Jika seperti itu yang dilakukan Gerindra dan Prabowo, maka potensi yang ada bakal berbuah sebaliknya. Gerindra tidak beda dengan partai politik lain yang suka umbar janji dan membohongi rakyat. Benak rakyat sudah terisi penuh dengan bualan yang diterimanya saban calon penguasa membutuhkan suaranya. Dengan begitu, rakyat yang mulai simpati terhadap Gerindra dan Prabowo itu bakal antipati. Adakah itu yang diinginkan? Tentu tidak!

Gerindra dan Prabowo memasuki start awal Pemilu tahun 2009 sudah sangat baik. Iklannya mengena, dan gempita kelahirannya di banyak daerah amat mempesona. Namun masih perlu ditunggu gebrakan-gebrakan ciamik berikutnya, karena politik itu investasi jangka panjang. Tidak serta-merta.

Untuk itu, jika omong soal kans tokoh ini menang 'bertarung' merebut RI-1 dalam Pemilu tahun 2009 rasanya masih berat. Kalaulah peluang itu ada, maka mungkin dalam Pemilu berikutnya. Ini adalah investasi awal yang dividennya baru bisa dirasakan di 5 tahun mendatang. (iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads