Sikap tegas hanya dimiliki oleh sosok tentara. Setidaknya itu yang diyakini oleh sebagian rakyat kita. Boleh jadi, ini merupakan akibat pendidikan politik Orde Baru, yang hingga kini pengaruhnya belum hilang. Namun ingatan bahwa tentara adalah sosok hebat, sesungguhnya juga diperkuat oleh penampilan pemimpin sipil yang masih jauh dari harapan: gemar bertikai sendiri, sekaligus tidak sungkan korupsi.
Realitas politik itulah yang mendorong partai-partai memilih menyalonkan pensiunan jenderal atau kolonel dalam pemilu atau pilkada. Hasilnya memang mengesankan: hampir 5 persen yang terpilih dalam pilkada adalah mereka yang pernah jadi komandan militer. Dan jangan lupa, presiden hasil Pemilu 2004 juga berlatar belakang tentara.
Oleh karena itu, jangan heran bila dalam Daftar Calon Sementara (DCS) anggota DPR/DPRD, nama-nama pensiunan militer berjibun. Demikian juga untuk calon presiden. Tidak hanya SBY yang bertekad mempertahankan kursinya, tetapi juga Wiranto, Prabowo dan Sutiyoso yang siap berkompetesi dalam Pemilu 2004.
Tentu tidak ada salahnya para pensiunan jenderal atau kolonel tampil di arena politik. Toh ketika mereka pensiun, status mereka sesungguhnya adalah orang sipil. Oleh karena itu, dalam peringatan HUT TNI, sesungguhnya adalah hari yang tepat buat politisi sipil untuk mengaca diri: mengapa saya masih diragukan oleh rakyat untuk memimpin republik ini?
Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (diks/iy)











































