Membela Rakyat yang Mana?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Membela Rakyat yang Mana?

Jumat, 12 Sep 2008 07:57 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Membela Rakyat yang Mana?
Jakarta - Dua kali membaca artikel Agus Pambagio berkaitan  dengan gugatannya terhadap AoraTV ada rasa bangga. Di zaman seperti sekarang masih ada warga negara yang berhati mulia, yang tinggi kepeduliannya dan mau membela kepentingan rakyat.

Hanya saja menjadi pertanyaan, mengapa ia begitu gencar memasalahkan Aora? Apa motifnya memang demi kepentingan publik, kepentingan rakyat ataukah ada pesanan dari pihak-pihak tertentu?

Mengapa pertanyaan itu kita sampaikan? Karena kasus Aora bukannya yang pertama. RCTI telah berpindah tangan kepemilikannya dari Kelompok Bimantara ke Bhakti Investama. Bahkan Bhakti Investama tidak hanya membeli RCTI, tetapi juga Global TV dan TPI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SCTV juga telah berpindah tangan ke Keluarga Sariaatmadja. Lativi dibeli oleh Kelompok Bakrie. Bahkan TV7 telah berpindah tangan dua kali dari pemilik awalnya ke Kelompok Kompas-Gramedia dan kini ke Grup Trans TV.

Mengapa terhadap pemindahan yang telah terlebih dahulu terjadi, Agus Pambagio dan MPPI tidak pernah mempersoalkan dan menggugat? Apakah karena yang melakukan perusahaan besar? Karena saham PT Karyamegah Adijaya dibeli oleh perusahaan yang tidak mempunyai power lalu boleh dipersoalkan? Kalau seperti itu, terus terang kita jadi bertanya akan keberpihakan Agus Pambagio. Rakyat yang mana yang sebenarnya ia perjuangkan itu?

Padahal jika kita menyimak penjelasan Rini Soemarno sebagai pihak yang sekarang memiliki Aora , apa yang dilakukan untuk mengambil alih PT Karyamegah Adijaya dari pemiliknya yang lama adalah praktik bisnis yang wajar. Ia membeli saham perusahaan dan tidak membeli frekuensinya. Apa bedanya dengan Temasek yang membeli Indosat atau kemudian sekarang Qtel yang membeli saham Temasek? Mengapa jual-beli Indosat juga tidak digugat dan tidak meminta frekuensinya dikembalikan dulu ke negara sebelum diminta kembali oleh Temasek atau Qtel?

Di tengah rendahnya tingkat investasi untuk membuka lapangan kerja, kita seharusnya berterima kasih ada orang Indonesia yang mau menanamkan modalnya di Tanah Air. Mengapa kita hanya bergantung kepada orang asing yang menanamkan modalnya, sementara ketika ada orang Indonesia yang melakukannya selalu dicurigai. Bahkan selalu dicari-cari kesalahannya?

Sepanjang mental bangsa kita masih seperti Agus Pambagio, maka tidak usah heran apabila kita tidak pernah beranjak maju. Padahal negeri seperti China bisa melaju cepat karena mereka memiliki prinsip, ?tidak peduli kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus."

Tentunya kita mendukung bahwa segala sesuatu harus dilakukan sesuai dengan peraturan. Tetapi jangan kemudian selalu dicari-cari hal yang bertentangan dengan aturan, padahal kenyataan tidak melanggar.
   
Karena itu saya mengimbau kepada Rini Soemarno untuk terus maju dan tidak perlu terganggu oleh manuver-manuver orang yang seolah-olah mengatasnamakan rakyat, padahal tidak pernah jelas rakyat mana yang ia perjuangkan. Apalagi Rini Soemarno sudah membuktikan dirinya sejak masih bersama Astra International, menjadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian yang peduli terhadap masyarakat.

RONNY LEONARD
Pemerhati Masalah Publik


(nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads