detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 31 Juli 2018, 16:12 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Untuk Para Pencinta ASI Sedunia

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Untuk Para Pencinta ASI Sedunia Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Dua pekan lalu anak saya Hayun gembira sekali. Ada gadis kecil sebayanya yang menginap di rumah kami. Ini karunia besar baginya, karena selama ini Hayun selalu kekurangan kawan bermain. Orangtuanya sudah nggak nyambung dengan permainan-permainannya, apalagi seringkali "Bapak sama Ibu tuh kalau diajak main sukanya sambil main hape!" Benar-benar keluhan seorang anak milenial korban dari orangtua yang bergaya sok milenial hehehe.

Adapun adiknya yang umurnya belum setahun itu memang membuat Hayun tak kesepian lagi. Tapi, tentu saja jarak delapan tahun membuat keduanya tidak berada dalam frekuensi keasyikan yang sama. "Kayaknya aku besok nggak akan main banyak sama adik. Soalnya pas adik umur lima tahun, aku sudah teenager," begitu ratapnya. Maaf, dia memang sedikit keminggris, maklum sisa-sisa lingkungan dan sekolahnya di Australia belum bisa saya bersihkan dan tertibkan sepenuhnya.

Nah, Hana menjadi penolongnya pada hari-hari ini. Meskipun baru satu kali ia menginap di rumah kami, toh kami sudah merencanakan banyak hal untuk hari-hari selanjutnya. Ini membuat dua anak itu, baik Hayun maupun Hana, tampak bersuka cita.

***

Hana adalah anak tetangga kami waktu dulu kami masih tinggal di Piyungan, sekecamatan dengan markas situs web yang pernah sangat terkenal itu. Pada waktu kami tinggal di sana, baik Hayun maupun Hana belum lahir. Namun, karena tetangga kami itu orang-orang yang sangat baik tentu saja kami terus menjalin komunikasi, hingga kami pindah ke kontrakan baru.

Saat kami sudah di kontrakan baru itulah Hayun lahir. Empat bulan kemudian menyusul Hana.

Malang, Hana tak seberuntung Hayun. Hayun bisa mendapatkan ASI eksklusifnya. Hana tidak. Penyebabnya amat memedihkan hati: ibu Hana divonis mengidap kanker payudara.

Bayangkan, ada dua bayi perempuan, orangtua mereka bersahabat baik. Yang satu ibunya sehat, ASI-nya mengalir deras. Bayi lainnya menangis terus meminta susu, padahal ibunya mengalami sakit sedemikian berat.

Untunglah, komunikasi terjalin di antara kami. Hayun akhirnya berbagi ASI dengan Hana. Rumah kami sudah berjauhan, tapi setiap beberapa hari sekali ayah Hana datang ke kontrakan kami, membawa botol-botol susu steril. Istri saya mengeluarkan botol-botol ASI hasil perasan dari lemari pendingin, dibawa pulang oleh ayah Hana, dan botol-botol kosong tadi diambil istri saya untuk wadah perasan ASI berikutnya.

Begitu terus ritme kami. Meski kadang masih juga asupan gizi Hana diselingi dengan susu formula, tetap bisa dikatakan selama setahun lebih Hana mengonsumsi ASI yang cukup. Hingga ia tumbuh besar, sehat, cantik, dan pintar. Hingga... ibunya meninggal akibat kankernya.

Usia Hana tiga tahun waktu itu. Sekarang, baik Hana maupun Hayun sudah sama-sama sembilan tahun. Barulah pada usia ini kami bisa mendekatkan kedua anak itu, karena sebelumnya selama empat tahun kami mengungsi sementara ke negeri tetangga.

Upaya pendekatan ini sangat penting buat kami. Hayun jadi tahu ia punya saudara. Dalam ajaran agama yang kami anut, Hayun dan Hana adalah saudara sepersusuan. Demikian juga bagi Lantip, adik Hayun yang laki-laki itu. Andai mereka tidak kami perkenalkan sejak dini, apa jadinya jika di masa dewasa antara Lantip dan Hana berkenalan tanpa sepengetahuan kami, lalu saling tertarik satu sama lain? Aduh, itu sangat terlarang, karena secara hukum mereka berstatus saudara.

Lebih dari itu semua, perjumpaan ini pun sangat penting bagi Hana. Hana sangat merindukan kasih seorang ibu. Dengan berbisik-bisik, ayahnya menceritakan betapa anak perempuannya itu diam-diam menuliskan perasaan kangen kepada mendiang ibunya. Karena waktu ditinggal pergi Hana masih sangat kecil, rasanya kerinduan itu bukan kerinduan spesifik kepada sang ibu, melainkan rindu akan belaian sosok ibu. Nah, setelah berbagi ASI dulu kala, rasanya kami pun harus memberikan kesempatan agar Hayun dan Hana berbagi pelukan dari ibu yang sama.

Ini satu pengalaman yang lumayan sentimentil untuk kami. Semuanya itu terjadi karena berkah ASI. Tanpa kualitas ASI istri saya yang terjaga baik, tentu saja kami tidak akan memperoleh ruas perjalanan hidup yang sebermakna ini.

***

Sekarang, giliran Lantip anak lelaki kami. Dia lahir di Australia sebelas bulan silam. Ketika awal tahun ini kami pulang ke Bantul untuk seterusnya, Lantip tampak sebagai bayi sehat dengan badan yang gempal menyenangkan. "Wah, bayi bule, bayi bule!" Demikian ucap beberapa kawan dengan ndeso-nya hahaha. Ya, awalnya kami pun sama-sama ndeso, mengira bahwa anak lelaki saya berbadan gempal karena udara dan gizi Australia. Hingga kemudian perjalanan sejarah membuktikan fakta lainnya.

Alkisah, badan Lantip mengempis. Mendadak kegempalan tubuhnya hilang. Ia jadi lebih kurus, berkurang lucunya, dan semua kawan yang berjumpa mengomentari badannya yang susut itu. "Wah, gara-gara pindah dari Australia terus jadi kurus gini ya," kira-kira begitu.

Namun, setelah kami telaah dengan lebih jujur kepada diri sendiri, teori ndeso tadi mesti runtuh. Sebab, awal mula dari situasi ini simpel belaka: pada Ramadan lalu, istri saya memaksa diri berpuasa. Saya paham dan memakluminya, sebab suasana Ramadan di kampung yang telah lama tidak kami nikmati itu begitu menggiurkan. Maka, kalau Ramadan tiba tapi istri saya tidak berpuasa demi ASI buat bayi, rasanya kurang afdal, gitu. Jadilah istri saya yakin untuk berpuasa.

Perubahan pun mulai terjadi pada pekan kedua hingga ketiga. Badan anak laki-laki saya mengempis. Ketampanannya sedikit berkurang, meskipun secara permanen ia tetap mewarisi aura bapaknya (eh, maaf kelepasan). Kulit wajahnya sedikit keruh, dan tidak cukup saya kembalikan kecemerlangannya begitu saja dengan air wudu. Berhari-hari kami masih mencoba denial dengan apa yang terjadi, hingga kemudian kami menyerah. Ya, ibunda dilarang berpuasa.

Maka, sang ibu makan lagi dengan lahap. Kesempurnaan Ramadan diabaikan, makanan-makanan sehat dijejalkan. ASI pun mengucur deras, deras, dan badan anak kami kembali menggembung pelan-pelan.

Belum utuh badan anak kami kembali, tibalah ujian masyarakat tropis sebagaimana lazimnya: batuk dan pilek. Anak saya itu batuk tak sembuh-sembuh, ingus meler tak kunjung berhenti. Beberapa hari lagi si batuk tak pergi, kami jelas akan membawanya ke dokter.

Namun, kemudian kearifan leluhur itu datang. "Ibunya jangan mandi malam-malam, lalu minum jamu watukan." Jamu watukan adalah jamu tradisional pereda batuk. Itu jamu untuk orang dewasa. Namun, ibu saya alias neneknya Lantip dengan sangat percaya diri memberikan saran itu. Keruan saja istri saya sebagai SDM produk pendidikan so-called-modern jadi galau. "Apa hubungannya? Yang batuk anaknya kok yang disuruh minum jamu ibunya?" Begitulah gerundelannya kira-kira.

Namun, dengan relasi kesungkanan kepada ibu mertua, jamu yang telah telanjur dibelikan oleh ibu saya itu pun dia minum juga. "Coba sekarang Lantip disusui, nanti pasti terus batuknya sembuh," kata ibu saya. Istri saya terpaksa menurut.

Dan, ajaib. Memang dengan cepat batuk Lantip berkurang. Jadi, jamu itu masuk ke sistem pencernaan dalam badan istri saya, sari-sari kesaktian si jamu diserap masuk ke tandon ASI-nya, lantas khasiat ASI itu jadi obat batuk untuk pemula, begitu? Saya tidak tahu, istri saya pun tidak tahu. Toh itu kearifan lokal, dan jangan memaksa diri menggunakan rasio dan ilmu sekolahan untuk mencerna kearifan lokal hahaha.

Poinnya sudah jelas, setiap ayah di muka bumi semestinya mendukung istrinya memberikan ASI kepada anak-anak mereka. Itu normatif sekali, sudah disepakati para dokter dan ulama. Lalu, mengapa hal yang sudah sebegini jelas masih saja ditekan-tekankan dengan aneka cerita?

Lho, Anda tidak tahu? Esok pagi tanggal 1 Agustus. Setiap tahun, mulai tanggal 1 hingga 6 Agustus dirayakan sebagai World Breastfeeding Week alias Pekan ASI Sedunia. Bagaimana Anda akan mendukung pemberian ASI eksklusif untuk bayi jika bahkan pekan raya ASI pun tidak Anda ketahui?

Hahaha, bercanda, bercanda. Ini semua cerita penyemangat saja. Selamat menyambut Pekan ASI Sedunia dengan penuh rasa gembira!

Iqbal Aji Daryono bapak dua anak, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com