2005: Tahun Corporate Renewal
Selasa, 28 Des 2004 13:30 WIB
Jakarta - Kehidupan bergerak ke depan, tetapi Anda akan mengerti kehidupan itu kalau mengerti betul apa yang terjadi di masa lalu. Kita sekarang memang sudah memasuki era baru dimana orang-orang muda tidak lagi belajar dari masa lalu, melainkan masa depan. Mereka menciptakan masa depan lewat impian-impian dan khayalan yang realistis. Mereka mengujinya dengan produk-produk baru yang diperbaiki setahap demi setahap dengan desain organisasi yang lebih solid.Dunia usaha sampai tahun 2004 diwarnai dengan macam persoalan. Ketidakpastian, kesemrawutan, ketidakpercayaan, tipuan halus atas nama persaingan dari pemain-pemain global, sampai ekonomi biaya tinggi yang diciptakan oleh birokrasi dan penguasa. Di seluruh dunia sampai tahun 2004 rasa tidak percaya muncul dimana-mana. Tidak percaya dengan yang memerintah, tidak pula dengan yang memimpin. Pemimpin yang gamang telah menimbulkan gejolak-gejolak yang tidak menyenangkan dimana-mana. Akibatnya organisasi bisnis menjadi porak poranda kendati kesempatan (peluang) untuk tumbuh masih terbuka di depan mata. Organisasi menjadi tampak tua sebelum waktunya, dan corporate cohesiveness menjadi ujian besar. Organisasi yang semrawut tak bisa menatap ke depan, tak pula bisa bersaing.Tuntutan untuk KorporatisasiSekarang istilah corporate sudah mewabah di mana-mana. Departemen Keuangan dan Universitas Indonesia sama-sama mulai berbicara dan menerapkan corporate culture, single accounting system, dan istilah-istilah korporasi lainnya. Semua orang mulai merasakan pentingnya corporate governance. Sementara itu dunia bisnis sudah lama menyadari pentingnya debirokratisasi dan efisiensi. Semua orang berbicara tentang pentingnya value dan competitiveness.Prinsip-prinsip korporatisasi umumnya disambut dengan sikap mendua: dianggap menguntungkan tetapi juga dicurigai. Prinsip-prinsip korporasi yang dimulai positif antara lain didasarkan atas tujuh hal berikut ini. Pertama, kepuasan pelanggan. Apapun ?bisnis? Anda, Anda dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Kedua, kesejahteraan secara legal. Banyak perusahaan dan badan pemerintah yang dari luar tampak kumuh dan miskin, tetapi para pemegang kekuasaan di dalamnya hidup berkelimpahan. Mereka bisa hidup sejahtera tidak secara legal. Ketiga, prinsip kecepatan. Sejak Frederick W. Taylor memperkenalkan scientific management, dunia korporasi terus memacu kecepatannya. Cepat mengambil keputusan, cepat memproses input, bekerja dengan back-up system dan mengantisipasi perubahan-perubahan. Konsep manajemen modern menandaskan, bukan yang terkuat yang akan memenangkan persaingan, melainkan yang tergesit, yaitu yang bergerak lebih cepat, lebih lincah.Keempat, prinsip manfaat (value). Korporasi eksis karena ia memberi value. Bahkan seringkali disebutkan korporasi adalah sebuah badan yang terus menerus menciptakan value. Value ini diciptakan melalui dua prinsip berikut ini, yaitu efisiensi (prinsip kelima) dari inovativeness (prinsip keenam). Prinsip terakhir adalah good governance yang menyangkut soal keadilan, keterbukaan, kebenaran, dan etika.Semua manfaat positif itu tentu saja tidak selalu dianggap baik dan benar. Sebagian orang malah menyambutnya dengan rasa takut. Mereka yang takut itu umumnya mencemaskan akan hilangnya jiwa sosial suatu institusi. Bagi sebagian besar orang, institusi ? bisnis maupun pemerintahan ? adalah sebuah lembaga yang berbudi baik. Begitu baiknya, maka ia bisa dan wajib memberi manfaat sebelum memperoleh keuntungan. Dalam beberapa segi organisasi dipandang sebagai penyalur subsidi, pemberi kehidupan atau tempat untuk "menopang hidup". Dengan demikian kehidupan yang harmonis menjadi tujuan yang utama, bukan daya saing.Prinsip-prinsip korporasi tentu saja tidak melulu bergerak seperti itu. Ia bisa saja menjadi lembaga yang "baik', "nyaman" dan memberi ketenangan, tetapi semua itu harus diperoleh melalui prinsip-prinsip di atas. Sehingga prinsip work hard, play hard, dan learn hard sangat diwarnai desain sebuah organisasi. Dalam beberapa segi para pemimpin bahkan menandakan sikap, "kejam dulu, baru baik." Celakanya, eforia demokrasi di era transisi menghambat keberanian para CEO untuk bertindak "kejam". Kejam dianggap sebagai tindakan yang tidak populer, bengis, jahat, bertentangan dengan hukum. Tapi ini semua bisa berakibat fatal karena mereka yang mengutamakan baik dulu, akan berhadapan dengan medan yang kejam kemudian.Tuntutan Corporate RenewalTak dapat disangkal bahwa pembaharuan tengah menjadi tuntutan dimana-mana. Pembaharuan sendiri menjadi kata kunci keberhasilan memasuki paruh kedua dekade pertama abad 21 ini. Untuk merasakan pembaharuan, pertama-tama seorang pemimpin harus mengajak para pengikutnya menantang asumsi-asumsi yang bertahun-tahun telah mereka anut (confronting the reality). Hampir semua CEO dan orang bisnis selalu beranggapan bahwa mereka adalah realist. Mereka mengumpulkan data, melakukan penelitian dan menghitung validitasnya secara ilmiah. Tetapi masalahnya adalah, begitu fakta-fakta baru ditemukan, mereka umumnya dengan berani dan tegas menyangkal realita baru tersebut.Kesalahan terbesar justru terjadi sebelum eksekusi dijalankan, yaitu dimana orang-orang yang terbelenggu oleh sukses dimasa lalu menolak kenyataan-kenyataan baru di masa depan. Mereka mungkin melihat, tetapi sesungguhnya tidak.Kesalahan kedua terjadi ketika eksekutif melakukan pilihan untuk pembaharuan. Mereka umumnya percaya inovasi adalah bentuk pembaharuan yang sangat penting. Tapi mereka umumnya lupa bahwa inovasi adalah sesuatu yang mahal. Meski inovasi adalah hal yang sangat dibutuhkan, belajar dari pengalaman para pembaharu, dunia bisnis Indonesia dapat memulainya dengan renovasi. Sergio Zyman, mantan orang penting Coke pernah menjadi saksinya. Ketika menginovasi Coke dengan new Coke yang lebih manis dan memenuhi selera pasar ternyata malah ditolak oleh konsumennya. Mengapa mereka membuat yang baru? Jawabnya adalah kerasnya tuntutan untuk inovasi. Selain itu, tentu saja tekanan persaingan (dalam hal ini dari Pepsi Challenge). Setelah ditolak mereka akhirnya kembali ke Coke lama yang di renovasi sehingga dikenal dengan nama Coke Classic. Di Indonesia, produsen serbuk minuman Marimas membuat produk dengan mengurangi kadar-kadar tertentu yang dianggap berlebihan. Ia tidak membuat sesuatu yang baru. Produsen kacang garing di Indonesia juga melakukan hal serupa. Produknya sama, tetapi flavor-nya diperbaiki.Dalam bahasa Zyman, renovasi berarti "doing better things with your existing assets", sedangkan inovasi berarti "doing different things".Kesalahan ketiga adalah adanya anggapan bahwa semua orang yang menyatakan pentingnya perubahan, benar-benar ingin dan mau berubah. Pada level pimpinan mereka percaya dengan adanya komitmen maka perubahan akan segera terjadi (paradigma "believing is seeing"). Bagi mereka orang-orang yang percaya tidak akan sekedar bicara, melainkan committ. Dengan demikian "committment drives success". Padahal, pada level di bawahnya, para pengikut mengatakan sebaliknya. "Tunjukkan dulu hasil perubahan itu, maka kami akan ikut." (Paradigma "Seeing is believing"). Dengan demikian komitmen berada di belakang garis keberhasilan (committment follows success).Pembaharuan menuntut pengorbanan dan pengorbanan terbesar harus diambil pada level pimpinan. Pada dataran ini mereka harus berani menghadapi kelompok the establishment (kelompok mapan) yang seakan-akan mau berubah tapi faktanya, mereka justru menghambatnya. Mereka menghambat karena perubahan juga bisa berarti peralihan kekuasaan. Dalam banyak hal motif kelompok ini bukanlah kesejahteraan, melainkan kekuasaan. Maka seringkali pemimpin tak punya pilihan lain selain menghadapi kelompok ini dengan keberanian, atau membiarkan terjadinya pembusukan yang bau tak sedapnya dapat berimbas kemana-mana.Renewal dari Atas atau dari BawahBerbagai alasan dapat diberikan sehubungan dengan trend 2005 ini. Pertama, seluruh tatanan bisnis telah kembali berubah. Bahkan mereka yang memelopori perubahan sejak tahun 90-an telah semakin memantabkan pengaruhnya. Kedua, semua pihak menuntut Anda semua berubah. Mereka semakin sadar bahwa penghasilan yang mereka terima mulai kurang bernilai dibandingkan dengan biaya-biaya yang mereka keluarkan untuk hidup. Harga bahan bakar telah naik, uang sekolah melangit, subsidi tak lagi bisa diharapkan. Sementara semuanya ingin menikmati produk-produk yang biasa dilihat di televisi.Ketiga, persaingan itu datang dari mana-mana dan mereka semua makin pintar. Dalam persaingan yang demikian mereka yang diam dan bodoh akan betul-betul kelihatan dan semua orang akan dengan cepat mengerti apakah perusahaan/organisasi mereka "in trouble" dan siapakah "trouble makers" di antara mereka. Keempat, proses reformasi kembali bergulir dan dimulai dengan pembersihan-pembersihan pada pemerintahan. Reformasi ini menimbulkan dampak kemana-mana. Banyak orang yang mulai takut mengambil keputusan, sementara banyak pula pihak yang mengulur-ulur waktu mengambangkan keputusan. Akibatnya banyak sektor yang mulai tampak tua sebelum waktunya. Untuk menyehatkannya kita memerlukan peremajaan, semacam rejuvenisasi atau renewal. Kelima, teknologi baru (IT), telah melahirkan banyak tokoh-tokoh muda sebagai pebisnis handal. Berhadapan dengan bisnis-bisnis muda usia, perusahaan tua akan tampak semakin tua sehingga mereka benar-benar butuh pembaharuan.Sekarang pertanyaannya kita harus mulai dari mana? Dari ataskah atau dari bawah? Kalau dari atas berarti kita harus mulai dengan strategi. Kalau dari bawah, kita harus mulai dari manusianya. Keduanya jelas sama-sama penting. Sebuah institusi menciptakan value untuk pelanggan-pelanggannya melalui serial aktivitas individual yang mendesain, memproses, memasarkan, menyalurkan dan mendukung aktivitas-aktivitas tersebut. Jika sebuah institusi dapat perform dengan baik pada aktivitas-aktivitas tersebut dan mengeksploitasi antara aktivitas-aktivitas tersebut, maka ia dikatakan telah mengantungi keunggulan daya saing.Dengan kata lain keunggulan daya saing diperoleh melalui keterampilan karyawan dan bagaimana mereka berkoordinasi satu dengan yang lain. Corporate Renewal perlu menyentuh kedua sumber keunggulan tersebut melalui hal-hal diluar citra, logo, gedung atau iklan dan CEO baru. Review perlu dilakukan terhadap struktur formal pekerjaan (deskripsi dan relationship pekerjaan), pemilihan orang dan penempatan kursi-kursi penting oleh para reformer dan pekerja yang tepat, pemahaman karyawan terhadap peran, tanggung jawab dan hubungan-hubungan kerja, sistem penyeleksian karyawan dan promosi jabatan serta budaya kerja.Secara ringkas, corporate renewal dan strategic balance merupakan dua topik yang saling berhubungan dan menjadi tema yang penting dalam tahun 2005 ini. Tema ini pula yang diangkat oleh para strategist dalam Strategic Management Society Conference 2004 yang berlangsung bulan lalu di Puerto Rico ? USA.
(rnld/)











































