Korporatisasi Swasta

Korporatisasi Swasta

- detikNews
Kamis, 27 Jan 2005 13:12 WIB
Jakarta - Beberapa orang yang membaca tulisan Saya minggu lalu (Korporatisasi Yes, Privatisasi No!) mengomentari bahwa korporatisasi hanya layak untuk organisasi pemerintahan. Bagi mereka, korporatisasi diperlukan untuk mereformasi birokrasi yang telah menjelma menjadi organisasi yang gemuk, malas, lamban dan bodoh. Sedangkan di swasta tidak, karena ada pemilik yang mengawasinya.Pendapat ini sungguh menarik, tetapi sayangnya tidak selalu benar. Pengalaman Saya menemukan bahwa sedikit sekali perusahaan swasta yang telah benar-benar menjadi korporat. Sebagian besar perusahaan sesungguhnya telah menjelma menjadi organisasi yang sama malas dan tidak kreatifnya dengan birokrasi. Kalau Anda bertanya mengapa mereka masih bisa eksis, jawabnya ada beberapa kemungkinan. Mungkin cash-flow nya masih positif, mungkin pemiliknya sudah cukup kaya, mungkin orientasi pemiliknya sekedar punya (nice to have), dan seterusnya.Bagi sebagian orang, korporatisasi berarti memisahkan kekayaan dan pengaturan. Kekayaan pribadi dipisahkan, dipindahkan ke dalam sebuah badan hukum yang disebut korporat, tetapi bagi sebagian orang, pemisahan ini tidak betul-betul terpisah sehingga korporasinya tak ubahnya seperti usaha dagang warung. Di situ pemilik bisa seenaknya mengambil uang yang masuk kapan saja. Sebaliknya, kalau perusahaan butuh uang, ia tak segan pula menyetor uang pribadinya. Seperti sebuah dagang warung, pembukuannya pun terbatas pada laporan uang keluar-masuk. Kalaupun ada neraca, sekedar neraca fiskal, yaitu dibuat khusus untuk urusan pajak. Setelah perusahaan tumbuh menjadi besar, tentu saja hal ini menjadi masalah besar. Pemilik tak bisa mengelolanya seperti saat masih berbentuk warung.Oleh karena itu semua pemilik perlu bertanya, untuk apa berusaha? Atau lebih jauh lagi, apa sih artinya perusahaan dan mengapa mereka eksis? Di bawah alam sadar, kita sering tak bisa menjawab pertanyaan ini dengan jernih. Setelah berpikir-pikir, maka yang keluar biasanya jawabannya adalah, kita punya perusahaan hari ini karena kita sudah memilikinya kemarin, ?We have it today because we had it yesterday?. Maka tak ada bedanya sekarang dengan kemarin. Padahal, tragedi terbesar dunia usaha terjadi justru pada saat pemimpin mengakumulasi sebuah kekuatan besar, dan ia mengelola hari ini dengan otak kemarin.Bagi sebagian usahawan, perusahaan tak lebih dari sebuah lembaga ekonomi. Pengaruh theory economic of the firm memang sangat dominan sekali dalam mewarnai para eksekutif. Di era yang berubah-ubah dan penuh dinamika dewasa ini, sebaliknya sebuah anutan teori baru mulai diperkenalkan. Teori bisnis ini diperkenalkan oleh John Week dan Charles Galunic dari Insead yang memperkenalkan teori evolusi kultural badan usaha (theory of the cultural evolution of the firm).Dalam teori baru ini, Week dan Galunic berargumentasi bahwa sebuah korporat eksis karena ia berevolusi. Mengapa berevolusi? Sebab organisasi ekonomi bukan semata-mata hidup karena memberi nafkah. Ia lebih merupakan sebuah culture entity, yaitu sebuah wadah kolektif dari sejumlah pikiran (modes of thought). Di situlah manusia merancang ide-ide, keyakinan-keyakinan dan asumsi-asumsi, serta mengembangkan skema berpikir dan pola-pola komunikasi simbolik dan perilaku yang ditafsirkan oleh rekan-rekan kerja dan bawahannya.Dalam proses evolutif tersebut, celakanya ada satu atau dua unsur yang tidak berubah, yaitu keyakinan-keyakinan dan asumsi-asumsi yang melekat pada individu. Fisik organisasi, jumlah orang, peralatan yang dipakai beserta teknologinya, pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan, mitra bisnis dan sebagainya bisa berubah. Dimensi perubahan itu begitu cepat terjadi, tetapi cara kita mengelola masih seperti kemarin, yaitu saat kita masih berbentuk warung yang adaptif dan kecil-kecilan. Cara kita memegang uang masih seperti kemarin, seperti sebuah warung besar. Akibatnya, cita-cita sebuah korporasi tidak pernah menjadi kenyataan. Organisasi besar, tetapi perilaku orang-orangnya jauh dari perilaku sebuah usaha besar. Orang-orang itu belum dapat disebut sebagai corporate man atau corporate people. Korporatisasi berarti bertindak dan berpikir seperti warga sebuah korporasi. Ia setidaknya harus memiliki nilai-nilai korporat, yaitu mengedepankan kepentingan pelanggan, tanggap terhadap perubahan, inovatif, pencatatan yang jelas dan transparan, orang-orang yang belajar dan berkembang, bekerja dalam suasana yang menyenangkan, dan tentu saja ada kesejahteraan yang dapat dirasakan semua orang yang terlibat di dalamnya. Hanya karena Anda sudah memiliki PT, tidak berarti sudah menjadi korporasi. Itu sebabnya mengapa Anda begitu khawatir terhadap hari esok, yaitu bisakah kita eksis terus.... (rnld/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads