Smoong, yang Menyelamatkan Orang-orang Simeuleu

Smoong, yang Menyelamatkan Orang-orang Simeuleu

- detikNews
Kamis, 03 Feb 2005 10:59 WIB
Jakarta - Minggu malam,16 Januari 2005, pukul 11.00 wib. Sinabang, ibukota Kabupaten Pulau Simeuleu yang mulai sepi tiba-tiba heboh. Ribuan orang turun ke jalan dan sebagian berlari ke atas bukit. Orang-orang yang sedang santai di kedai kopi pun ikut berlari, tak ketinggalan orang-orang asing yang sedang istirahat di sebuah losmen. Menurut sas-sus yang beredar, air laut naik lagi.M. Hasbi Mahmud, Wakil Ketua DPRD yang sedang berdialog dengan masyarakat di kedai kopi ikut meninggalkan kedai. Ia teringat akan tamu-tamunya yang datang dari Jakarta dan menginap di sebuah losmen tak jauh dari kedai itu. Tamu-tamu dari Pascasarjana Ilmu Manajemen FEUI saat itu datang untuk memberi bantuan kepada para pengungsi. Mereka segera dievakuasi, tetapi di tengah jalan Hasbi tiba-tiba sadar. "Tidak ada gempa kok, mengapa harus lari ke gunung?" tanyanya."Perintah orang-orang tua," katanya lagi. "Kalau ada gempa segera pantau air. Begitu air laut atau sungai surut, segera lari ke gunung."Ia lalu membelokkan kendaraan dinasnya ke rumahnya yang letaknya agak sedikit di atas. Dari situ sebenarnya ia bisa memantau posisi air laut yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumahnya. Dari kegelapan ia tidak melihat tanda-tanda air pasang, tetapi, rumahnya sudah menjadi tempat mengungsi. Kaum Ibu dan anak-anak terlihat lemas, tapi itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba mereka semua sadar hukum alam yang mengharuskan mereka mengungsi tidak terpenuhi. Semua kembali ke rumah masing-masing.Esok paginya, begitu matahari terbit, kaum ibu sudah bertandang ke rumah tetangga dan bapak-bapak berkerumun di kedai kopi. Mereka membicarakan peristiwa semalam. Rupanya isu semalam dilontarkan oleh seorang remaja yang bersama teman-temannya bermaksud mencuri. Orang itu sekarang sudah di tangan polisi.*****Pada saat badai Tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004, pusat gempa berada tak jauh dari Simeuleu. Beberapa sumber yang layak dipercaya menyebutkan Simeleu adalah pulau terdekat episentrum gempa. Setelah televisi memvisualkan betapa dahsyatnya bencana yang ditimbulkan di Banda Aceh, orang-orang Simeuleu di Jakarta menangis. Kalau Banda Aceh separah itu, bagaimana nasib pulau terdekat episentrum? Hubungan telekomunikasi terputus tak ada kabar, yang ada hanya duga-duga. Saya mengatakan pada istri Saya, jangan-jangan pulau ini sudah tenggelam. Padahal, lebaran 2003 Simeuleu menjadi tempat berlibur keluarga kami. Jadi Saya tahu betul seluk beluk pulau seluas 2000 kilometer persegi ini. Saya juga kenal dengan tokoh-tokoh adat dan masyarakatnya. Merekalah yang menemani keluarga Saya memasuki desa-desa terpencil dengan transportasi seadanya. Jadi ketika hubungan terputus, kami benar-benar cemas.Oleh karena itu, beberapa minggu lalu Saya memutuskan untuk turun langsung ke sana. Apalagi Kompas pernah menulis Simeuleu belum terjamah. Setelah berbicara dengan Kompas dan Yayasan Rumah Baca (Manca), Saya pun pergi membawa barang-barang bantuan. Upaya ini didukung oleh KSAU, Marsekal Chappy Hakim yang Saya beritahu beberapa hari sebelumnya. Setelah berkoordinasi, ia meminta Saya menghubungi Marsda SB Sidahebi, Komandan Operasi yang mengendalikan semua kegiatan TNI-AU di Medan. Marsda Sidahebi mengerahkan Pesawat CN235 milik TNI-AU untuk mengantar dan menjemput tim yang Saya bawa dari Program Studi yang Saya pimpin di UI. Semua bantuan itu akhirnya sampai di Simeuleu Minggu 16 Januari 2005 dan diterima oleh Bupati Dharmili di Posko Bencana Tsunami di Sinabang.*****Begitu mendarat di Sinabang, udara menangis masih dapat Saya rasakan. Sekretaris Pemda Kabupaten memberitahu Saya, anaknya 4 orang yang sedang kuliah di Banda Aceh, sampai hari itu belum diketemukan.Suasana murung ada di wajah semua orang yang menjemput, tetapi makin ke dalam kota, kedukaan mulai tidak terasa. Beberapa rumah tampak roboh oleh gempa, tetapi korban jiwa hampir tidak ada.Hari itu Saya minta dibawa ke tempat-tempat yang benar-benar hancur. Sayang para pejabat yang beberapa hari lalu mendarat ke pulau ini tak punya banyak waktu. Kalau impresi mereka hanya didapat di Sinabang tentu keliru. Setelah berkendaraan sejauh 60 kilometer, tim sampai di desa Labuan Bajau. Suasana desa ini agak mirip dengan Banda Aceh. Kayu bekas berserakan, rumah-rumah yang hancur diterjang badai, sekolah yang rubuh dan orang-orang yang kebingungan berkerumun. Satu-satunya bangunan yang utuh hanya masjid. Di sebuah bangunan kayu yang roboh, Saya membaca sebuah coretan tangan, "Kumohon jangan sampai terjadi lagi gempa." Pesannya begitu lirih.Seorang Bapak yang Saya temui sedang membetulkan perahunya. Mesinnya sudah hilang, dan sebagian kayunya lepas-lepas. Oleh badai Tsunami perahu kecil itu didamparkan di atas bukit sekitar 300 meter dari bibir pantai, tapi anehnya semua orang selamat. Kok bisa begitu?Seperti yang telah sering ditulis di koran, di pulau ini ada tradisi untuk lari ke bukit bila air laut tampak surut. Jadi pada saat gempa terjadi, mereka memantau air. Begitu air surut, semua lari ke gunung atau bukit. Tradisi ini disebut Smoong. Yang menarik perhatian Saya, tradisi ini terjadi merata di seluruh pulau. Padahal letak desa-desa saling berjauhan. Simeuleu tak punya alat angkut yang memadai. Bahkan jembatannya banyak yang putus. Mereka tak punya radio atau koran lokal, tetapi semua tau apa artinya kalau seseorang berteriak Smoong.Smoong berarti aba-aba agar lari ke gunung karena sebentar lagi akan datang air bah. Hukum alamnya dimulai dari gempa, lalu air laut di pantai surut dan datanglah air bah itu. M Hasbi Mahmud memberi tahu Saya, menurut cerita orang-orang tua, ketika terjadi Tsunami pada tahun 1907 di pulau ini, ikan paus besar-besar banyak yang terdampar di gunung.Tentu saja Smoong tidak mudah dipahami oleh pendatang, tetapi karena naluri, mereka semua ikut mengungsi. Maka selamatlah mereka semua dari bencana. Yang menjadi masalah adalah bagaimana meyakinkan orang-orang di luar pulau. Di daratan Sumatera, orang-orang Simeuleu yang merantau merasa sering diperlakukan sebagai "orang pulau". Sebutan ini serupa rasanya dengan sebutan "orang kampung" di Jawa.Sekarang ini beredar macam-macam cerita yang menyebutkan cuma orang Simeuleu yang selamat dari tsunami. Seorang tokoh masyarakat menyebutkan keluarganya yang selamat di Ulele Banda Aceh. Ketika terjadi gempa dan air laut surut, ia segera berteriak Smoong. Semua orang di Ulele bingung melihatnya. Mereka malah lari ke laut memungut ikan. Kemenakannya mengajak orang-orang lari tapi ia tak digubris. Ia disangka orang gila, tapi ternyata cuma ialah yang selamat.Seorang yang lain menceritakan pengalamannya di Meulaboh. Setelah mengalami gempa, orang ini segera meletakkan sarapan paginya dan mengajak orang-orang di sekitarnya lari ke bukit. Karena ia meninggalkan makannya, yang lain ikut percaya, maka selamatlah mereka. Smoong telah menyelamatkan orang-orang Simeuleu.*****Mungkin karena rata-rata orang Simeuleu selamat, tak tampak betul duka di wajah mereka. Di desa Salur dan di Tepah Selatan, Saya sempat termenung menyaksikan sebuah gedung sekolah dasar yang hancur. Jumlah muridnya ada 146 anak. Untung bencana itu terjadi di hari libur. Tak terbayangkan apa jadinya kalau anak-anak masih di dalam kelas.Tumpukan kayu bekas, sampah dan kertas ulangan berserakan di lorong-lorong kelas yang dindingnya sudah jebol dibawa arus. Buku-buku belajar membaca masih basah berserakan. Satu-satunya hiasan dinding yang masih ada hanya gambar foto Teuku Cik di Tiro, pahlawan Aceh. Di sebelah sekolah, tak jauh dari kuburan yang membelah jalan menuju desa, Saya menemukan dua orang anak berusia 8 dan 9 tahun yang sedang bermain. Mereka membakar kayu-kayu yang berserakan dan membuat masak-masakan di atas kaleng yang ditemukan di tepi pantai.Saya tanya apa mereka ingin kembali sekolah. Mereka tersenyum dan menjawab enteng, "Mau?. Tak ada tanda-tanda duka di wajah mereka, sama dengan penduduk yang rumahnya hancur tak jauh dari tempat mereka bermain. Sambil menghirup air kelapa, mereka cuma bilang, "Rumah awak hancur!", tapi mereka masih bisa tersenyum. Beda benar dengan wajah-wajah memelas yang Saya temui di tempat-tempat lain.Saya jadi teringat dengan ucapan Bupati Dharmili sesaat sebelum meninggalkan Simeuleu. "Jangan lupakan pulau terpencil ini. Kalau kedukaan tak tampak di wajah mereka, bukan berarti mereka tidak menderita. Melainkan sehari-hari hidup mereka memang sudah susah."Artikel ini pernah dimuat di harian KOMPAS tanggal 24 Januari 2005 (rnld/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads