Simeuleu
Rabu, 02 Feb 2005 15:33 WIB
Jakarta - Saya yakin hampir tidak ada diantara pembaca yang pernah menyinggahi pulau kecil di paling luar sebelah Barat Laut Sumatra ini. Ia terletak di sebelah utara pulau Nias, atau sebelah Barat Meulaboh. Menurut berita yang saya baca, ia adalah daratan terdekat dari pusat gempa yang terjadi pada tanggal 26 Desember yang lalu. Jaraknya hanya sekitar 40 kilometer. Reporter Najwa Shihab dari Metro TV berkali-kali menyebut telah terjadi semacam mukzizat di sana, karena di pulau ini badai Tsunami praktis tidak menimbulkan banyak korban. Menurut kabar terakhir ada empat jiwa yang melayang, itupun korban yang sedang memancing di pulau-pulau kecil sekitarnya.Sampai artikel ini saya tulis praktis hubungan telekomunikasi dengan pulau ini masih terputus. Bupati Simeuleu Drs. Darmili juga tidak berhasil saya hubungi. Satu-satunya alat komunikasi yang berfungsi hanyalah telepon satelit. Penduduk yang ingin memakainya pun harus bergantian karena mereka semua ingin memakainya. Setelah terhubung, hanya bisa berbicara sekitar dua menit.Kebetulan sekali keluarga istri saya berasal dari Aceh Barat sehingga ada cukup banyak keluarga dekat yang menetap di pulai ini. Bahkan semasa hidupnya, mertua saya alm. Karim Landasny termasuk orang yang memperjuangkan agar pulau ini berdiri sendiri sebagai kabupaten. Sebagai guru dan pegawai negeri sipil yang pernah bertugas sebagai Kakanwil di berbagai propinsi, ia sangat berkeyakinan kesejahteraan penduduk di pulau ini akan jauh lebih baik kalau dikelola lebih otonom. Sebagai bagian dari kabupaten Aceh Barat saat itu. Simeuleu praktis sangat terisolir. Padahal, pada jaman penjajahan Belanda dulu, pulau ini termasuk daerah yang sangat penting. Selain punya kerajaan sendiri, Simeuleu juga dikenal kaya dengan hasil rempah-rempah, kayu jati, kelapa sawit, serta hasil laut. Pelabuhan Sibigo, konon cukup dikenal dikalangan pemerintah kerajaan Belanda. Meskipun daratannya relatif terbatas, untuk mengangkut hasil bumi, Belanda membangun jalan kereta api. Setiap hari pernduduk bisa menyaksikan kereta Wilhelmina bergerak di sekitar Sinabang.Tapi semua itu dulu, lain dulu, lain pula sekarang. Karena masuk dalam wilayah administratif propinsi Nangroe Aceh Darusallam, Simeuleu yang reltif aman dan penduduknya bebas dari GAM termasuk dalam kategori "daerah konflik". Akibatnya banyak orang yang ragu berbisnis disana. Kapal-kapal besar praktis tidak datang. Tapi ada kabar gembira. Simeuleu sekarang sudah berdiri sebagai kabupaten sendiri sehingga perkembangannya bisa lebih cepat.Untuk menanamkan nilai-nilai hidup pada anak-anak, lebaran tahun 2003 yang lalu saya mengajak anak, istri dan neneknya berlibur di pulau ini. Tentu saja pengalaman ini butuh waktu dan relatif sulit. Dari Medan kami menumpang pesawat kecil (SMAC) yang kadang-kadang jadualnya berubah. Setiba di pulau, puluhan orang sudah menunggu. Dari atas saya melihat penjaga bandara mengusir puluhan kambing yang bermain di lapangan. Suara alarm pertanda pesawat datang, dibunyikan. Di pulau ini, konon hanya ada sekitar tiga puluh hingga lima puluh buah mobil. Karena satu-satunya motel yang tersedia sedang disewa tentara (penguasa darurat sipil), maka kami menginap di salah satu rumah milik keluarga dekat. Esoknya kami melakukan napak tilas, menelusuri jejak sejarah kakek anak-anak saya saat meninggalkan pulai ini merantau ke Sumatra dan Jawa. Kami melewati jalan-jalan yang baru dibangun, menyusuri pantai dengan kapal milik polisi, menumpang ojek sepeda motor, menembus hutan, menyeberangi sungai yang jembatannya baru saja dibawa banjir (sehingga harus menumpang parit) sampai ke sebuah desa di tepi pantai bernama Nasrehe.Pulang dari Nasrehe kapal kecil yang kami tumpangi penuh dengan berbagai hadiah dari orang-orang desa, mulai dari seekor ayam yang sehat sampai tikar pandan yang dibuat sendiri. Waktu kami meninggalkan desa ini semua anggota keluarga menangis tidak kuasa menahan haru. Di desa ini kami membangun sebuah masjid atas nama almarhum Karim Landasny.Dari Nasrehe, setelah hari raya Idul Fitri saya di daulat bupati Drs Darmili untuk membekali para aparatnya untuk membangun pulau ini. Bekerja dengan segala keterbatasan dan keisolasian tentu saja tidak mudah. Kualitas sumberdaya manusia memang masih harus banyak ditingkatkan. Tetapi yang lebih perlu lagi tentunya adalah sikap para pejabat pemegang otoritas di pusat yang bertindak lamban dan terkesan kurang peduli. Padahal pusat tidak melulu tidak punya uang. Tapi ketidakpahaman atas kebutuhan daerah, serta ketidakberanian memangkas "red tapes" dan membuat daerah ?daerah sulit berkembang.Saya tidak heran bila banyak daerah-daerah di Indonesia masih sulit berkembang. Masalahnya bukan daerah tersebut yang miskin, melainkan kerangnya perhatian dan pemahaman. Saya juga tidak heran melihat lambatnya datang tim rescue bencana alam dari pusat. Samasa aman saja membutuhkan waktu beberapa hari untuk berhasil mendarat atau terbang dari pulai ini. Sewaktu saya meninggalkan Simeuleu saya harus menunggu beberapa hari sampai akhirnya pesawat yang ditunggu benar-benar datang. Lucu juga melihat ratusan orang kampung yang sudah menangis untuk berpisah ternyata kami tidak jadi terbang. Keharuan bisa kehilangan makna kala pesawat tak jadi datang dan koper-koper yang sudah dikunci terpaksa dibuka lagi.Badai Tsunami telah memberi banyak pelajaran bagi kita semua. Salah satunya adalah membuka daerah-daerah terisolasi dengan akses-akses baru dan dengan pendidikan yang lebih berkualitas. Air mata duka saja tidak cukup untuk mengatasi keadaan. Mari kita segera bertindak.
(al/)











































