Gairah Bercinta Di Ruang Puisi

Gairah Bercinta Di Ruang Puisi

- detikNews
Senin, 08 Nov 2010 10:53 WIB
Gairah Bercinta Di Ruang Puisi
Jakarta - Saya senang KoKi ini punya Kolom Seni. Itu berarti KoKi membuka ruang bagi komunitas β€˜tukang’ puisi dan penikmat puisi. Lebih dari itu, KoKi punya daya dan kemampuan apresiatif terhadap puisi. Daya dan kemampuan ini hanya mungkin lahir dari individu-individu yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Mengapa?

Sebab, seperti dikatakan William Wordsworth, puisi adalah nafas dan spirit yang lebih halus dari semua ilmu pengetahuan. Pemilihan kata dan frasa yang terukur dalam suatu karya puisi itu merupakan hal yang berada jauh di atas jangkauan orang-orang biasa. Di samping itu, seperti diungkapkan Aristotle, puisi itu lebih bersifat filosofis and bernilai lebih tinggi daripada sejarah. Karena puisi cenderung mengekspresikan hal yang universal, sedangkan sejarah bersifat khusus. Sebuah puisi, kata Diane Ackerman, merekam emosi-emosi (emotions) dan suasana batin (moods) yang berada di luar bahasa normal dan hanya dapat dirangkai dan diungkapkan dengan metafora. Dan puisi, menurut M.C. Richards, seringkali masuk melalui jendela yang tidak relevan (the window of irrelevance).

Hal-hal ini yang membuat seorang β€˜tukang’ puisi, istilah kerennya β€œpenyair” itu unik, tidak seperti orang kebanyakan. Memandang penyair sebagai orang yang tertidur dan bermimpi adalah kekeliruan dan kebodohan. β€˜Tukang’ puisi atau penyair adalah orang yang selalu terjaga. Dia selalu berada pada puncak-puncak menara kesadaran dan dengan daya sensitivitas, kreativitas dan imajinasinya dia mampu berikan nafkah bagi pertumbuhan nurani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€˜Tukang’ puisi atau penyair adalah orang yang mengakui kebenaran kata-kata Albert Eistein, β€œilmu pengetahuan membuat kita banyak tahu, tetapi imajinasi memampukan kita mengembara kemanapun kita suka”.Β  Jadi, penyair itu adalah β€œwarrior of words in the battle of human consciousness, justice, and humanity”.
Β 

SebagaiΒ  β€œwarrior of words” seorang penyair selalu berada dalam cakrawala kemerdekaan dan kebebasan berpikir serta memiliki otoritas atas dirinya. Maka, sungguh suatu tragedi ketika ukuran kesuksesan seorang penyair bergantung pada lebelisasi ketenaran dan popularitas! Lebih tragis lagi ketika seorang penyair merasa gagal jadi penyair hanya karena tidak bisa jadi seperti para penyair lain yang memiliki reputasi (reputation is what other people know about you) dan kehormatan (honor is what you know about yourself). Jika ada yang seperti ini dalam komunitas kita ini, maka kematian adalah suatu keharusan dan kehormatan baginya.

Nah, karena KoKi sudah menyiapkan kolom khusus seni, mari kita melepaskan kejantanan daya kreatif dan kebetinaan daya imaginatif kita untuk bercinta dalam gairahnya di ruang ini untuk melahirkan puisi-puisi, buah gairah cintanya. Selamat berpuisi.
(tbs/tbs)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads