25 Juli 2008 19.30 WIB
Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki
Srintil, sang mantan Ronggeng Dukuh Paruk, kini terbujur dalam sebuah tahanan rumah sakit jiwa. Dia tak menyadari dimana tinggal. Dia pun tak bisa membedakan mana kenyataan dan mana bayangan, imajinasi dan realita tak bisa dibedakan. Srintil mengenang masa lalunya. Pertama kali bercengkrama dengan Rasus dan teman-temannya waktu kecil adalah dengan bermain ronggeng-ronggengan. Lalu ia ingat kronologi hidupnya. Beberapa upacara ritual penobatan ronggeng, salah satunya malam bukak klambu yang menyerahkan keperawanannya. Ia senang jadi ronggeng sekaligus bisa dipakai di tempat tidur oleh para juragan dan pejabat setempat. Kemudian dia berkenalan dengan Pak Bakar dedengkot Partai komunis. Tapi rombongan Ronggeng Dukuh Paruk tidak paham makna dan pengertian ideologi komunis. Mereka hanya tahu bahwa ronggengnya ditanggap. Tiba saatnya gonjang ganjing politik nasional, Gestapu. Pembantaian para jenderal di ibukota Jakarta merembet juga di daerah, termasuk juga Dukuh Paruk. Penangkapan dan pembantaian aktivis dan anderbow partai komunis pun terjadi. Tak ketinggalan Ronggeng Dukuh Paruk, Srintil terharu biru. Ia sanggup meninggalkan ronggeng asal Rasus mau mengawininya, Srintil ingin jadi penganten.
Gratis
(msh/msh)











































