Polisi Keluarkan Larangan Demo di Paris Buntut Kerusuhan

Polisi Keluarkan Larangan Demo di Paris Buntut Kerusuhan

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Kamis, 22 Okt 2026 04:56 WIB
Protesters stand on the Marianne statue of the Place de la Republique during a demonstration against the cost of living and rising fuel prices in Paris as part of nationwide protests called by the Yellow Vests movement, joined by French high school and university students, teachers and parents demanding better school conditions and government action, as well as labour unions, workers, farmers and retirees, France, October 17, 2026. The slogan reads Power = persecution.  REUTERS/Stephanie Lecocq
Foto: Aksi protes biaya hidup naik di Paris, Prancis. (REUTERS/Stephanie Lecocq)
Jakarta -

Pemerintah Prancis melakukan antisipasi gelombang demonstrasi baru dalam beberapa hari mendatang. Seiring itu, pihak kepolisian mengeluarkan larangan demo digelar di Paris pada Kamis, 22 Oktober.

Dilansir AFP, Kamis (22/10/2026), pihak kepolisian menyampaikan larangan aksi itu diterapkan di beberapa bagian kota Paris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa titik itu mencakup sejumlah area penting, termasuk istana kepresidenan Elysee dan kedua majelis parlemen. Selain itu juga di kawasan wisata populer, seperti museum Louvre dan Champs-Elysees.

Larangan tersebut berlaku mulai pukul 08.00 hingga 20.00 waktu setempat (06.00 hingga 18.00 GMT).

ADVERTISEMENT

Polisi Dikerahkan Besar-besaran

Perdana Menteri (PM) Prancis Sebastien Lecornu bertekad mengerahkan personel kepolisian secara besar-besaran untuk menghadapi aksi protes lanjutan, yang direncanakan pada akhir pekan mendatang. Langkah ini menyusul unjuk rasa memprotes kenaikan biaya hidup yang berujung kerusuhan beberapa hari lalu.

Pada Sabtu (17/10) lalu, Prancis diguncang gelombang kerusuhan, yang diwarnai aksi pembakaran dan penjarahan, yang tercatat sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir di negara tersebut. Kerusuhan ini terjadi tepat enam bulan sebelum pemilu digelar untuk memilih pengganti Presiden Emmanuel Macron.

Menghadapi para anggota parlemen yang marah, seperti dilansir AFP, Rabu (21/10/2026), Lecornu mengakui bahwa respons keamanan yang diberikan sebelumnya belum memadai dan berjanji akan menerapkan pendekatan yang lebih tegas dalam menghadapi gelombang unjuk rasa berikutnya.

"Pengerahan aparat untuk Sabtu (24/10) mendatang akan berskala besar," tegas PM Prancis tersebut.

Dia menuduh kelompok-kelompok radikal ultra-kiri telah menyusun "rencana pemberontakan" yang memicu kerusuhan tersebut.

Warga di Paris Dilarang Bawa Bensin atau Kembang Api

Tidak hanya memberlakukan jam malam, otoritas Paris juga memberlakukan larangan sementara bagi siapa pun untuk membawa jeriken atau botol berisi bensin maupun bahan bakar lainnya. Warga juga dilarang untuk memiliki atau membawa kembang api.

Larangan ini diberlakukan hanya untuk wilayah Paris dan sekitarnya, hingga Kamis (22/10).

Protesters stand on the Marianne statue of the Place de la Republique during a demonstration against the cost of living and rising fuel prices in Paris as part of nationwide protests called by the Gelombang demonstrasi di Paris, Prancis. (REUTERS/Stephanie Lecocq)

Larangan lainnya yang juga diberlakukan otoritas Paris adalah larangan mengenakan perlengkapan pelindung, seperti helm, di sekitar area sekolah menengah atau universitas.

Hal ini menyusul bentrokan antara polisi dan kelompok pemuda yang mengenakan penutup wajah, dengan beberapa di antaranya mengenakan helm, googles atau kacamata pelindung, sarung tangan, dan masker gas.

Halaman 2 dari 2
(fca/fca)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini