Iran menegaskan tidak akan membiarkan material nuklir keluar dari wilayahnya dalam situasi apa pun. Tehran menyebut material semacam itu, yang mencakup pasokan uranium yang diperkaya, sebagai "aset utama" bagi rakyat Iran.
Penegasan itu, seperti dilansir AFP, Rabu (21/10/2026), disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, saat berbicara kepada Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Asim Munir, yang berkunjung ke Teheran baru-baru ini.
"Tidak akan ada sedikit pun material nuklir yang diperkaya yang boleh keluar dari Iran; material semacam itu merupakan aset utama dan kekayaan nasional bagi rakyat Iran, yang dimaksudkan untuk digunakan di dalam negeri ini," tegas Rezaei dalam pertemuan dengan Munir pada Selasa (20/10), sebagaimana dilaporkan televisi pemerintah Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak akan ada negosiasi sampai Amerika mengambil langkah-langkah untuk membangun kepercayaan -- sebuah proses yang harus dimulai dengan memenuhi syarat-syarat dari pihak Iran," cetusnya.
Rezaei menyampaikan penegasan tersebut saat upaya diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menghadapi kebuntuan beberapa waktu terakhir. Pakistan, bersama Qatar, yang menjadi mediator dalam konflik ini terus mengupayakan kembalinya perundingan demi mengakhiri perang yang tak berkesudahan.
Uranium yang telah diperkaya milik Iran sempat menjadi topik pembahasan alot dalam perundingan kedua negara yang berkonflik sejak akhir Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump, pada Mei lalu, mengatakan bahwa pasokan uranium diperkaya tinggi milik Iran akan diserahkan kepada AS atau dihancurkan. Namun pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa pasokan uranium yang diperkaya milik Teheran tidak seharusnya dikirimkan ke luar negeri.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memperkirakan bahwa Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram pasokan uranium yang diperkaya hingga level 60 persen, ketika AS dan Israel membombardir fasilitas nuklir Teheran pada Juni 2025 lalu.
Tidak diketahui secara jelas soal berapa banyak pasokan uranium Iran yang berhasil selamat dari pengeboman itu.
Iran telah berulang kali menegaskan bahwa pihaknya tidak mengupayakan produksi senjata nuklir, yang membantah tuduhan AS dan Israel.










































