×
Ad

Seorang Pendemo Tewas Saat Demo Ricuh di Prancis

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 18 Okt 2026 20:10 WIB
Sisa Kerusuhan Warnai Jalanan Marseille, Petugas Turun Bersihkan Kota (Foto: REUTERS/Manon Cruz)
Jakarta -

Demonstrasi massa yang memprotes terkait biaya hidup di Paris, Prancis berakhir ricuh. Satu orang tewas usai mengalami henti jantung dalam kejadian itu.

Dilansir Reuters, Minggu (18/10/2026), demonstrasi berskala nasional berubah menjadi kerusuhan pada hari Sabtu. Gedung balai kota dibakar, toko-toko dijarah, dan berbagai bangunan dipenuhi coretan grafiti saat kelompok massa yang melakukan kekerasan bentrok dengan polisi di berbagai kota di Prancis.

Seorang pengunjuk rasa meninggal dunia setelah mengalami henti jantung dalam demonstrasi di Paris. Polisi telah mencatat rekor penangkapan terhadap 855 orang usai demo berujung ricuh di Paris.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri mengatakan secara keseluruhan di Prancis sebanyak 1.800 orang ditangkap selama dan setelah demo. Lebih dari 500 petugas kepolisian terluka di seluruh Prancis.

Seorang warga Belanda, Tije De Boer, menganggap kerusuhan tersebut seperti zona perang. Ia menuturkan demo tersebut memaksanya untuk mengevakuasi diri dari hotel tempatnya menginap di Place de la Republique, yang mengalami kerusakan parah pada hari Sabtu.

"Rasanya seperti zona perang di sini," ujar Tije De Boer, seorang pengusaha asal Belanda yang datang ke Paris bersama anak-anaknya untuk mengunjungi seorang teman.

Diketahui, lebih dari setengah juta orang mengikuti aksi unjuk rasa di puluhan kota. Peristiwa ini menandai bertemunya gerakan massa mahasiswa yang telah berlangsung selama sebulan akibat ketidakpuasan sosial yang meluas terkait meningkatnya biaya hidup dan menurunnya kualitas layanan publik.

Meskipun ratusan ribu orang berunjuk rasa secara damai, kelompok-kelompok kecil yang melakukan kekerasan justru menyasar bangunan publik, menjarah butik mewah serta supermarket, dan menyerang kendaraan serta petugas kepolisian.

Presiden Emmanuel Macron berjanji akan memproses hukum pihak yang terlibat melakukan kerusuhan dan penjarahan.

"Tidak ada ruang bagi kekerasan di Republik kita," tulis Presiden Emmanuel Macron di platform X saat kerusuhan terjadi pada Sabtu malam.

"Mereka yang telah melakukan penjarahan, menyerang kantor pemerintahan maupun tempat usaha, bahkan menjarah balai kota kita, akan dituntut dan dihukum," tambahnya.

Operasi pembersihan besar-besaran mulai dilakukan di berbagai kota hari ini, mulai dari Lille di utara, Marseille di selatan, Strasbourg di timur, hingga Bordeaux di barat daya, tempat sekelompok orang bertopeng menyerbu kediaman pejabat pemerintah setempat (prefek).

Di Paris, etalase toko yang hancur, sepeda-sepeda yang hangus terbakar, dan coretan slogan-slogan yang disemprotkan pada dinding menjadi saksi bisu atas hari yang awalnya dimulai dengan demonstrasi damai, namun kemudian berujung pada kekerasan.

Di Limoges, para pekerja tengah mendata kerusakan pada balai kota berusia 143 tahun yang sebagian hancur akibat aksi pembakaran.

Kerusuhan ini telah meningkatkan tekanan terhadap Macron dan pemerintahannya. Menteri Sebastien Lecornu menyatakan bahwa pemerintah tidak akan "diintimidasi" oleh kekerasan.

Ia menuding kelompok "ultra-kiri" dan para kriminal sebagai pihak di balik kerusuhan tersebut, di tengah situasi menjelang pemilihan presiden tahun depan.




(yld/idn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork