Iran melaporkan bahwa sebuah kapal kontainer terbakar dan tenggelam di perairan Selat Hormuz setelah menghantam ranjau laut. Amerika Serikat (AS) berpotensi menggunakan bom Mother of All Bombs (MOAB) dalam serangan terbaru menargetkan infrastruktur energi dan situs nuklir Iran.
Teheran menyebut insiden itu terjadi saat kapal kontainer itu mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute yang "tidak sah". Iran bersikeras agar kapal-kapal melintasi rute pelayaran yang telah mereka tetapkan di jalur perairan strategis tersebut.
Sementara itu, bom MOAB dilaporkan akan digunakan oleh AS seandainya Presiden Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur terhadap Iran. Trump bisa saja memerintahkan dimulainya lagi operasi tempur terhadap Iran, baik sebelum maupun sesudah pemilu sela pada November.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (15/10/2026):
- Jembatan yang Hubungkan China dan Korut Resmi Dibuka, Truk Langsung Antre
China dan Korea Utara (Korut) secara resmi membuka jembatan yang menghubungkan daratan kedua negara pada Kamis (15/10) waktu setempat, setelah lama tertunda. Pembukaan resmi ini dilakukan 12 tahun setelah jembatan itu selesai dibangun.
Pembukaan jembatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali perdagangan dan aktivitas ekonomi setelah hubungan kedua negara sempat memburuk selama bertahun-tahun, ditambah gangguan pertukaran lintas perbatasan akibat pandemi virus Corona (COVID-19).
Jembatan bernama Jembatan Sungai Yalu Baru ini, seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (15/10/2026), membentang sepanjang 3 kilometer, atau tepatnya 3.026 meter, di atas Sungai Yalu yang memisahkan daratan China dan Korut. Korut menyebutnya sebagai Sungai Amnok.
- Ranjau Laut Selat Hormuz Makan Korban, Kapal Kontainer Karam
Iran melaporkan bahwa sebuah kapal kontainer terbakar dan tenggelam di perairan Selat Hormuz setelah menghantam ranjau laut. Teheran menyebut insiden itu terjadi saat kapal kontainer itu mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute yang "tidak sah".
Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan vital bagi pasokan minyak dan gas global, secara efektif diblokade oleh Iran setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran pada akhir Februari lalu, yang mengobarkan perang di kawasan Timur Tengah.
Teheran bersikeras agar kapal-kapal melintasi rute pelayaran yang ditetapkan oleh Iran di jalur perairan strategis tersebut.
- Asap Karhutla Meluas hingga Timor Leste, Sekolah Libur 3 Hari
Otoritas Timor Leste meliburkan sekolah-sekolah di wilayahnya selama tiga hari mulai Kamis (15/10) waktu setempat, menyusul kabut asap tebal yang terbawa dari kebakaran hutan hebat di wilayah Indonesia.
Di area Dili, ibu kota Timor Leste, seperti dilansir AFP, Kamis (15/10/2026), warga tetap beraktivitas seperti biasa di bawah langit yang tampak kekuningan, namun sebagian besar mengenakan masker, sesuai dengan imbauan pemerintah saat mengumumkan penutupan sekolah sehari sebelumnya.
Warga Timor Leste menyambut baik keputusan tersebut, meskipun mereka menyebutkan bahwa level polusi sempat jauh lebih parah pada awal pekan ini.
- AS Pertimbangkan Pakai Mother of All Bombs untuk Hancurkan Iran
Militer Amerika Serikat (AS) telah menyusun rencana serangan baru yang mencakup kemungkinan penggunaan bom yang dijuluki 'Ibu dari segala bom' (Mother of all bombs/MOAB) untuk menyasar infrastruktur energi dan situs nuklir Iran. Bom itu akan digunakan seandainya Presiden AS Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur Iran.
Dilansir CNN, Kamis (15/10/2026), Trump bisa saja memerintahkan dimulainya lagi operasi tempur terhadap Iran, baik sebelum maupun sesudah pemilihan umum sela. Informasi tersebut disampaikan oleh sejumlah pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut.
GBU-43/B atau Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB) merupakan bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan AS. Penggunaannya dalam perang dengan Iran akan menandai eskalasi yang signifikan.
- Tak Dapat Info Intel soal Serangan, Ukraina Tuduh AS Bantu Rusia
Ukraina menuduh Amerika Serikat (AS) membantu Rusia karena gagal memberikan peringatan intelijen mengenai serangan rudal yang akan datang. Otoritas Kyiv juga menuding Washington telah menghambat respons militer Ukraina melalui perubahan pada sistem Starlink yang digunakan di medan perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, seperti dilansir AFP, Kamis (15/10/2026), menyerukan kepada miliarder teknologi AS, Elon Musk, untuk memulihkan layanan Starlink, yang menurut pihak Kyiv telah mengalami penurunan kecepatan dalam layanannya.
"Saya harap ini hanya kesalahan, mungkin masalah teknis yang sangat besar. Saya tidak tahu, tetapi kami meminta agar layanan itu diaktifkan kembali," kata Zelensky saat berbicara kepada jurnalis Inggris, Piers Morgan.










































