Eks Mendagri Israel Gugat Netanyahu Rp 17 M Buntut Dugaan Pencemaran Nama Baik

Eks Mendagri Israel Gugat Netanyahu Rp 17 M Buntut Dugaan Pencemaran Nama Baik

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Kamis, 15 Okt 2026 02:44 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu arrives for a press conference in Jerusalem on March 19, 2026. Netanyahu said on March 19 that Israel and the US were winning the war against Iran, with the Islamic republic decimated and unable to enrich
Foto: Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu (AFP/RONEN ZVULUN)
Jakarta -

Mantan Kepala Badan Keamanan Dalam Negeri Israel, Ronen Bar, menggugat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Gugatan itu terkait dugaan pencemaran nama baik.

Dilansir AFP, gugatan diajukan pada Rabu, (14/10) beberapa minggu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober, di tengah perdebatan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Netanyahu mendapat kecaman dari pihak oposisi karena dinilai gagal mencegah serangan tersebut, yang menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Berdasarkan jajak pendapat, Netanyahu juga tengah menghadapi persaingan ketat untuk mempertahankan kekuasaannya dalam pemilu mendatang.

Selama puluhan tahun berkarier di dunia politik, Netanyahu memosisikan dirinya sebagai penjamin keamanan Israel. Ia bersikeras bahwa serangan Hamas sebenarnya dapat dicegah jika Ronen Bar atau para pemimpin militer menelepon untuk membangunkannya pada dini hari saat serangan berlangsung.

ADVERTISEMENT

Dalam dokumen pengadilan setebal 134 halaman, Bar menuduh Netanyahu "berbohong demi melindungi diri sendiri". Ia juga menyebut tuduhan yang menyatakan dirinya melakukan "kegagalan kriminal" terkait serangan tersebut sebagai fitnah.

Dalam gugatan itu, dia menyatakan Netanyahu melontarkan tuduhan terhadap Bar yang ia ketahui tidak benar, dengan tujuan mengalihkan perdebatan dari tanggung jawabnya sendiri atas peristiwa 7 Oktober.

Sebaliknya, dokumen gugatan menyebut kebijakan Netanyahu selama beberapa tahun justru telah meningkatkan bahaya yang ditimbulkan oleh organisasi teroris di Gaza.

Bar mengundurkan diri pada Juni 2025. Saat itu, ia mengakui bahwa seluruh sistem runtuh di dalam badan keamanan tersebut dan Shin Bet gagal membunyikan tanda bahaya.

Namun, Bar menyatakan pengunduran dirinya merupakan bentuk tanggung jawab sebagai kepala organisasi. Ia juga bersikeras telah memperingatkan Netanyahu sebelum 7 Oktober mengenai potensi ancaman yang berkaitan dengan Hamas.

Tuntut Ganti Rugi

Atas tuduhan pencemaran nama baik tersebut, Bar menuntut ganti rugi sebesar 3 juta shekel atau sekitar US$ 968.500 (Rp 17,38 miliar) dari Netanyahu.

Bar mengatakan dirinya segera menghubungi sekretaris militer perdana menteri ketika muncul tanda-tanda kemungkinan serangan. Namun, ia mengaku tidak memiliki nomor telepon langsung Netanyahu.

Respons Netanyahu

Menanggapi gugatan tersebut, Netanyahu mempertanyakan alasan Bar tidak menghubunginya secara langsung. Dalam pernyataan yang dirilis partainya, Likud, Netanyahu mengatakan mempertanyakan keseriusan gugatan tersebut.

"Ronen, apakah Anda serius?" tanya Netanyahu.

"Anda memiliki nomor telepon saya di saluran khusus (red line) dan bisa saja langsung menelepon saya, sebagaimana yang dilakukan oleh semua kepala badan keamanan," ucapnya.

"Berapa banyak nyawa yang bisa kita selamatkan seandainya saja Anda menelepon tepat waktu?" tanyanya.

Serangan Hamas ke Israel

Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dilakukan dengan menerobos wilayah Israel menggunakan truk pikap dan paralayang. Para militan kemudian melepaskan tembakan di berbagai lokasi, termasuk sebuah festival musik.

Berdasarkan penghitungan AFP yang merujuk pada data resmi Israel, serangan tersebut menewaskan 1.221 orang. Para militan juga membawa 251 orang sebagai sandera ke Gaza, dengan 44 di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia.

Israel merespons serangan tersebut dengan melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah kendali Hamas, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 74.300 orang. Meski kementerian tersebut beroperasi di bawah kendali Hamas, data yang dirilisnya secara umum dinilai dapat dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

(dek/ygs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini