Komentar Trump: Dari Wabah di Rusia hingga Prancis Didemo Pelajar

Komentar Trump: Dari Wabah di Rusia hingga Prancis Didemo Pelajar

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 08 Okt 2026 07:06 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali ke Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, pada 5 Oktober 2026, setelah menghadiri sebuah rapat umum di Grand Island, Nebraska. REUTERS/Nathan Howard
Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Nathan Howard)
Washington -

Komentar dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait isu-isu terkini selalu dinanti. Kali ini, ia berkomentar mengenai wabah pes di Rusia hingga aksi demonstrasi di Prancis.

Diketahui, seorang teknisi laboratorium di Siberia dilaporkan meninggal akibat wabah pes. Trump menyatakan akan menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin soal insiden tersebut.

"Ya, saya sudah menjadwalkan panggilan telepon," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih saat ditanya apakah ia sudah berbicara dengan Putin mengenai masalah tersebut, dilansir AFP, Rabu (7/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan pembicaraan itu akan dilakukan "dalam waktu dekat." Selain itu, saat ditanya mengenai tanggapan Badan Intelijen AS terkait situasi tersebut, Trump menambahkan akan mengkajinya terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

"Kami sedang melakukan pembahasan yang sangat mendalam. Kami mungkin akan dapat memberikan laporan mengenainya besok," tutur Trump.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Departemen Luar Negeri AS telah mengirimkan komunikasi diplomatik rahasia, yang dikenal sebagai démarche, kepada Rusia. AS memperingatkan Moskow bahwa kegagalan untuk mengungkapkan rincian kejadian tersebut bertentangan dengan kewajiban kesehatan internasional.

Diketahui, otoritas Rusia membantah sedang menerapkan langkah-langkah penanganan wabah dan mengecilkan arti laporan mengenai insiden di sebuah institut penelitian wabah di wilayah Irkutsk, Siberia, pekan lalu.

Presiden AS Donald Trump Klaim Vladimir Putin Siap BerundingPresiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: DW (News)

Namun, Washington menunjukkan kekhawatiran yang kian meningkat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendesak Rusia untuk terbuka mengenai situasi tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengeluarkan seruan serupa.

"Kami mendorong Rusia untuk bersikap transparan dan berbagi lebih banyak informasi dengan dunia agar kita semua dapat bereaksi secara tepat dan sesuai," ujar Rubio dalam kunjungannya ke Islandia.

Sebelumnya, para pejabat Rusia telah menekankan pemeriksaan postmortem tidak mendeteksi adanya penyakit pes pneumonik.

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengatakan pada Senin (5/10) bahwa inspeksi oleh komisi ahli khusus Rospotrebnadzor di wilayahnya menyimpulkan bahwa "penyebab kematian adalah pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui".

Lembaga pengawas kesehatan itu, menurut Kobzev, telah menetapkan bahwa "tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan wanita muda itu dalam sampel biologisnya".

Kobzev menambahkan bahwa tidak ada "kasus baru pada staf dari institut anti-pes yang mencari pertolongan medis" sejak kematian itu terjadi.

Demonstrasi di Prancis

Trump mengomentari demo pelajar yang diwarnai kericuhan di Prancis, dengan nyaris 500 orang ditangkap. Tanpa memberikan bukti, Trump mengaitkan gelombang protestasi massal itu dengan isu migrasi dan agama Islam.

"Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali," sebut Presiden AS itu dalam unggahan di media sosial Truth Social, seperti dilansir AFP.

"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih sebuah negara yang dulunya hebat!" klaim Trump, tanpa memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya.

Demonstrasi 'rompi kuning' menyebabkan 'bencana ekonomi' di PrancisIlustrasi. Demonstrasi di Prancis (Foto: BBC World)

Para pelajar di Prancis memblokir akses masuk ke ratusan sekolah menengah di berbagai wilayah negara tersebut sejak akhir September lalu untuk menuntut kondisi sekolah yang lebih baik. Dalam aksinya, para pelajar memprotes fasilitas sekolah yang rusak dan kekurangan guru.

Unjuk rasa tersebut sempat diwarnai bentrokan sporadis dengan aparat keamanan. Dalam aksi protes terbaru pada Selasa (6/10) waktu setempat, sekitar seperempat juta atau sebanyak 250.000 demonstran turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis.

Trump tidak merinci klaimnya ataupun memberikan bukti apa pun untuk mendukung pernyataannya tersebut.

Di Prancis sendiri, belum ditemukan adanya keterkaitan antara gerakan pelajar itu dengan tuntutan apa pun yang berbasis agama atau identitas.

Namun, Trump dan pemerintahannya telah sejak lama menyalahkan migrasi atas berbagai masalah sosial di Eropa. Mereka menyerukan Eropa untuk menutup perbatasannya dan memperingatkan tentang apa yang mereka sebut sebagai kemunduran peradaban, sejalan dengan pandangan partai-partai sayap kanan.

Sejumlah tokoh terkemuka dalam gerakan Make America Great Again (MAGA) yang mendukung Trump memanfaatkan unjuk rasa di Prancis untuk mempertegas argumen mereka mengenai isu migrasi menjelang pemilu sela AS bulan depan.

Para komentator pendukung MAGA berulang kali mengunggah video mengenai kerusuhan di Prancis, beberapa hari sebelum Trump memberikan komentarnya. Salah satu sekutu Trump, Glenn Beck, menyatakan bahwa: "Kerusuhan di Prancis merupakan peringatan nyata bagi dunia Barat lainnya."

"Hal ini akan terjadi di Amerika jika Partai Demokrat kembali berkuasa," klaim komentator sayap kanan, Dave Rubin, sembari menyertakan rekaman video di sebuah stasiun kereta api di Prancis.

Tonton juga video "Trump Klaim Ekonomi Iran Hancur: Inflasi Mereka Tak Tertandingi!"

Halaman 2 dari 4
(isa/aik)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini