Kopilot yang diduga menyerang rekan sesama pilot dalam penerbangan Flydubai tujuan Tel Aviv pernah dipecat dari pekerjaannya di sebuah maskapai nasional Oman tahun lalu. Ia dipecat gara-gara kekhawatiran mengenai dugaan pandangan ekstremis.
Hal itu disampaikan dua sumber yang mengetahui masalah tersebut dan pejabat Israel, dilansir CNN, Minggu (4/10/2026). Kopilot yang berupaya menyerang adalah warga negara Oman bernama Hamam al-Hammami.
Media pemerintah Arab Saudi juga mengidentifikasi pelaku sebagai al-Hammami. Ia lahir di Uni Emirat Arab (UEA) dari ayah berkebangsaan Oman dan ibu berkebangsaan Suriah, serta telah menghabiskan sebagian hidupnya di UEA, tambah salah satu sumber.
Sementara itu, Jaksa Agung UEA menyatakan Kopilot dalam penerbangan tersebut menyerang rekannya menggunakan kapak. Lalu pelaku mencoba mengambil alih kendali pesawat dalam sebuah upaya "tindakan teroris."
Diketahui, kapak darurat untuk situasi kecelakaan merupakan perlengkapan wajib di sebagian besar pesawat penumpang.
Lebih lanjut, sebuah profil LinkedIn atas nama Hamam al-Hammami mencantumkan riwayat kerja selama tujuh tahun di Oman Air yang berakhir pada Februari 2025. Kemudian ia bergabung dengan maskapai Maroko, Royal Air Maroc, pada Juni 2025 dan keluar pada Januari 2026.
Namun halaman LinkedIn tersebut tidak mencantumkan Flydubai. Salah satu sumber mengonfirmasi bahwa profil itu milik pilot Flydubai yang terlibat dalam insiden tersebut. Profil itu kini telah dihapus. Sementara itu CNN telah menghubungi LinkedIn untuk meminta tanggapan.
Tak hanya itu, sumber kedua, seorang diplomat dari kawasan tersebut, mengatakan kepada CNN bahwa tersangka dikeluarkan dari pelatihan penerbangan di Oman Air karena kekhawatiran akan pandangan radikalnya. Namun kemudian diberi peran lain di maskapai nasional Oman tersebut.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tersangka diduga telah menjalani "indoktrinasi radikal Islamis."
Sementara itu, pejabat Israel mengatakan al-Hammami baru bekerja di maskapai Flydubai selama delapan bulan. Sedangkan sumber keempat menyebutkan bahwa terduga pelaku sebelumnya pernah bekerja untuk Royal Air Maroc.
Lebih lanjut, Air Maroc, dalam sebuah pernyataan kepada AP, menyatakan pelaku sempat menjalani pelatihan bersama maskapai tersebut selama tiga bulan pada tahun 2025. Pelatihan itu sebagai bagian dari proses pra-kerja, namun ia tidak terpilih untuk dipekerjakan.
Temuan ini akan memicu kekhawatiran mengenai pentingnya pemeriksaan latar belakang dalam proses perekrutan di industri penerbangan. CNN telah menghubungi Oman Air dan kantor media pemerintah Dubai untuk meminta tanggapan.
Sementara itu, pihak Flydubai menyatakan tidak dapat memberikan komentar selama insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
Simak juga Video Penumpang Israel Akui Bisa Ambil Kendali Flydubai Gara-gara Nonton TV
(yld/idn)