Korea Utara (Korut) membantah tuduhan Korea Selatan (Korsel) soal mereka mendalangi ledakan ranjau di perbatasan pekan lalu, yang melukai tiga tentara Korsel. Namun Seoul tetap menuntut Pyongyang untuk meminta maaf dan bertanggung jawab.
Kim Yo Jong, adik pemimpin Korut Kim Jong Un, seperti dilansir AFP dan Reuters, Rabu (30/9/2026), balik menuduh Korsel berupaya merekayasa"bukti setelah menyalahkan Korut atas ledakan ranjau tersebut.
"Itu adalah tindakan yang terlalu rendah dan kotor, khas tabiat orang-orang ROK," kata Kim Yo Jong dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA). Dia menggunakan nama resmi Korsel, yakni Republik Korea.
"Lelucon semacam itu sama sekali bukan hal baru," sebutnya.
Satu dari tiga tentara Korsel kehilangan salah satu kakinya akibat ledakan ranjau pada 21 September di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ), wilayah penyangga yang dipenuhi ranjau dan memisahkan kedua Korea sejak gencatan senjata mengakhiri perang tahun 1950-1953 silam.
DMZ menjadi salah satu area perbatasan yang paling dijaga ketat di dunia. Insiden melibatkan ranjau juga terjadi sebelumnya, dan selalu meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
Kementerian Pertahanan Korsel sebelumnya menyatakan kesimpulan penyelidikan mereka bahwa ranjau darat milik Korut "sangat dicurigai" sebagai penyebab dua ledakan dalam insiden itu.
"Ini merupakan pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata, dan karena Korut memikul tanggung jawab, kami akan mengambil tindakan yang setimpal," tegas Menteri Pertahanan Korsel, Kang Shin Chul, pada Selasa (29/9).
(nvc/dhn)