PM Qatar Terang-terangan Sebut Netanyahu Penjahat Perang

PM Qatar Terang-terangan Sebut Netanyahu Penjahat Perang

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 30 Sep 2026 17:03 WIB
PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat Menlu Qatar (dok. AFP)
PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat Menlu Qatar (dok. AFP)
Doha -

Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat Menteri Luar Negeri (Menlu) negara itu, secara terang-terangan menyebut Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sebagai "penjahat perang".

Al Thani menegaskan bahwa Doha akan terus melanjutkan upaya mediasi, meskipun ketegangan regional meningkat.

Pernyataan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (30/9/2026), disampaikan Al Thani dalam wawancara dengan jurnalis Inggris, Piers Morgan, pada Selasa (29/9) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika ditanya apakah dirinya menganggap Netanyahu sebagai penjahat perang, Al Thani menjawab: "Tentu saja. Apa yang telah dilakukan di Gaza adalah kejahatan perang, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas hal ini adalah penjahat perang."

ADVERTISEMENT

"Rumah-rumah sakit telah menjadi sasaran, sekolah juga telah menjadi sasaran. Apa pun pembenaran dan argumen yang dikemukakan, tidak ada yang dapat membenarkan tindakan ini," sebutnya.

Al Thani juga menuduh Netanyahu menyerang Qatar secara politis untuk mengalihkan perhatian dari tindakannya sendiri maupun tindakan pemerintahannya.

Dia kembali mengecam serangan udara Israel terhadap Doha pada September 2025, yang menargetkan pejabat Hamas saat Qatar sedang melakukan upaya mediasi. Serangan itu menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar.

"Kami diserang oleh Israel saat kami sedang melakukan mediasi. Netanyahu telah melampaui batas, seperti dia telah melampaui batas-batas lainnya di masa lalu," kecam Al Thani.

Meskipun ketegangan masih tinggi, Al Thani menyatakan Qatar akan tetap mengedepankan diplomasi, dengan alasan bahwa komunikasi di balik layar masih menjadi cara paling efektif untuk mencapai kemajuan dalam dialog.

"Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan saran terbaik kepada pemerintah AS mengenai cara mencapai solusi, begitu pula kepada pihak Iran," tandasnya.

Simak juga Video 'Rincian Syarat Iran ke AS Agar Diplomasi Hidup Lagi':

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini