Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut telah menawarkan keringanan sanksi dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, saat perang antara kedua negara berlarut-larut. Benarkah?
Tawaran Trump itu dilaporkan oleh media AS, Axios, yang mengutip keterangan sejumlah pejabat Washington yang tidak disebut namanya.
Trump, seperti dilansir AFP, Selasa (29/9/2026), telah membantah keras laporan Axios tersebut. Dia menegaskan dirinya tidak pernah menawarkan hal semacam itu kepada Teheran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Axios baru saja merilis berita bahwa Trump menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana yang dibekukan kepada Iran. Ini tidak benar. Saya TIDAK MENAWARKAN APA PUN kepada mereka!" tegas Presiden AS itu dalam pernyataan via akun media sosial Truth Social miliknya, Senin (28/9).
Laporan Axios menyebutkan bahwa Trump "bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah-langkah konkret Iran terkait program nuklirnya".
Trump, dalam tanggapannya, menyebut berita Axios itu sebagai "HOAX" dan menyatakan bahwa situs berita itu seharusnya menarik kembali laporan tersebut.
Informasi serupa dilaporkan oleh media terkemuka AS, CNN, yang menyebutkan bahwa Trump "bersedia memberikan keringanan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan akhir, namun hanya jika Teheran menunjukkan 'kemajuan nyata' terkait masalah nuklir".
CNN mengutip seorang pejabat AS, yang tidak disebut namanya, dalam laporan pada Senin (28/9) waktu setempat. Disebutkan juga oleh CNN dalam laporannya bahwa AS sedang melakukan "diskusi yang positif dan konstruktif melalui para mediator".
Trump belum menanggapi laporan CNN, yang beberapa waktu lalu dilarang untuk melakukan peliputan di Gedung Putih.
Laporan-laporan media AS itu muncul setelah Trump, pada Sabtu (26/9), menolak usulan terbaru Iran mengenai gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Dia menyebut usulan terbaru Teheran itu "tidak dapat diterima".
Pra pejabat Iran mengajukan usulan terbaru soal rencana gencatan senjata selama tujuh hari, yang diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, jika AS memenuhi syarat-syarat Teheran. Usulan itu disampaikan kepada mediator konflik AS-Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu.
Persyaratan yang diajukan Iran dalam usulan terbarunya mencakup penghentian segala permusuhan di Timur Tengah selama tujuh hari, termasuk di Lebanon -- di mana kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, bertempur melawan Israel.
Usulan itu juga menuntut pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, yang nilainya diperkirakan mencapai US$ 12 miliar (setara Rp 214,9 triliun), juga pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan diakhirinya blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pada hari ketujuh gencatan senjata berlangsung, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump, dalam pernyataan sebelumnya, menyebut Iran "terlalu percaya diri dengan posisi tawar mereka".
Simak juga Video Klaim Donald Trump: Kita Telah Pegang Iran, Kita akan Menang Perang!










































