Trump Ingin Nego Lagi tapi Iran Tak Sudi

Trump Ingin Nego Lagi tapi Iran Tak Sudi

Haris Fadhil - detikNews
Senin, 28 Sep 2026 20:33 WIB
Donald Trump (Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein)
Donald Trump (Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein)
Washington DC -

Perang yang dikobarkan Amerika Serikat terhadap Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Terbaru, Presiden AS Donald Trump dan Iran saling menolak usulan untuk mengakhiri perang.

Dilansir AFP dan Anadolu Agency, Senin (28/9/2026), Trump telah menolak usulan terbaru Teheran mengenai gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Usulan Iran yang ditolak Trump itu berisi rencana gencatan senjata selama tujuh hari yang diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, jika AS memenuhi syarat-syarat Teheran.

Usulan itu disampaikan kepada mediator konflik AS-Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu. Trump menolak usulan Iran tersebut dan sempat mempertimbangkan untuk kembali menyerang Teheran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun saat berbicara kepada media Axios, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Trump mengatakan bahwa dirinya memperkirakan negosiasi akan berlanjut. Dia menyebut pembicaraan akan dilakukan pekan ini.

"Saya memperkirakan akan ada lebih banyak pembicaraan dengan Iran (pekan ini)," kata Trump dalam wawancara dengan Axios.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan, tapi dirinya tak menyetujui tawaran Iran. Dia menyindir Iran terlalu percaya diri.

"Mereka (Iran-red) ingin mencapai kesepakatan, tetapi itu bukan kesepakatan yang ingin saya buat. Itu adalah kesepakatan yang mungkin akan kita setujui setahun yang lalu," ujarnya.

"Mereka terlalu percaya diri dengan posisi tawar mereka," ucap Trump.

Saat ditanya apakah AS sedang mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, Trump mengatakan bahwa opsi itu tetap terbuka. Ketika berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih, Trump secara terbuka mengakui dirinya telah menolak usulan terbaru Iran.

"Mereka telah mengajukan usulan dan saya menolaknya," ucapnya.

Persyaratan yang diajukan Iran dalam usulan terbarunya, menurut laporan media terkemuka AS, New York Times (NYT), mencakup penghentian segala permusuhan di Timur Tengah selama tujuh hari, termasuk di Lebanon, di mana kelompok Hizbullah yang didukung Iran bertempur melawan Israel.

Usulan itu juga menuntut pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, yang nilainya diperkirakan mencapai USD 12 miliar (setara Rp 214,9 triliun) serta pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan diakhirinya blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada hari ketujuh gencatan senjata berlangsung, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.

Hingga Minggu (27/9), Iran masih bersikeras pada syarat-syarat tersebut untuk membuka kembali Selat Hormuz, sehingga situasi di kawasan Teluk tetap menemui jalan buntu. Tawaran Iran itu dikritik oleh Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz.

Dia menyebut Iran mengajukan tuntutan yang berlebihan sebagai syarat untuk kembali ke meja perundingan. Waltz menyebut syarat-syarat Teheran terlalu 'sinis' dan tidak dapat diterima oleh Washington.

"Menurut saya, ini adalah upaya yang cukup sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka sendiri mengetahui itu tidak dapat diterima. Meminta pencabutan blokade, sanksi, baik sanksi internasional maupun akses terhadap aset bernilai miliaran dolar, hanya sebagai syarat untuk berunding," sebut Waltz saat berbicara kepada NBC News.

"Saya rasa sudah sewajarnya jika Presiden tidak terlalu yakin kali ini, mengingat kita baru saja mencobanya beberapa bulan yang lalu, namun pada akhirnya, tentu saja, presiden harus mencapai semacam kesepakatan pada akhirnya. Akan tetapi, dia akan tetap membuka semua opsi untuk mencapai hal tersebut," sambung Waltz.

Iran Tak Sudi Negosiasi Lagi

Media pemerintah Iran melaporkan tidak ada rencana pembicaraan terbaru dengan AS. Laporan itu merupakan tanggapan atas pernyataan terbaru Trump yang memperkirakan akan ada negosiasi lebih lanjut dengan Teheran.

"Delegasi Iran di New York (untuk Sidang Majelis Umum PBB) tidak memiliki rencana untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat," sebut kantor berita resmi IRNA, yang mengutip sumber anonim yang dekat dengan delegasi Iran, seperti dilansir AFP.

Iran menyatakan telah menyampaikan sikap tegas. Iran menyatakan tawaran ke AS telah disampaikan lewat Qatar.

"Pandangan dan posisi Iran telah disampaikan secara jelas dan secara tegas kepada pihak AS, melalui mediator Qatar," sebut IRNA dalam laporannya, sembari menambahkan bahwa delegasi Iran akan pulang ke Teheran pada Selasa (29/9) besok.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengatakan negaranya tidak lagi mempercayai negosiasi dengan AS setelah putaran pembicaraan sebelumnya diikuti oleh serangan dan sanksi. Kini, Teheran menantikan tanggapan atas usulan terbarunya untuk mengakhiri perang.

"Kami tidak memiliki kepercayaan terhadap pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka," ujar Pezeshkian seperti dilansir Al-Jazeera.

Simak juga Video 'Trump Tolak Proposal Iran soal Selat Hormuz: Kami Tutup untuk Kalian':

Halaman 4 dari 3
(haf/haf)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini