Presiden Iran Tegaskan Tak Percaya AS, Anggap Blokade Hormuz Respons Wajar

Presiden Iran Tegaskan Tak Percaya AS, Anggap Blokade Hormuz Respons Wajar

Haris Fadhil - detikNews
Minggu, 27 Sep 2026 14:15 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat pidato di PBB (Reuters/Mike Segar)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: REUTERS/Mike Segar)
Teheran -

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak lagi mempercayai negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) setelah putaran pembicaraan sebelumnya diikuti oleh serangan dan sanksi. Kini, Teheran menantikan tanggapan atas usulan terbarunya untuk mengakhiri perang.

"Kami tidak memiliki kepercayaan terhadap pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka," ujar Pezeshkian seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu (27/9/2026).

Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi AS pekan ini untuk menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Iran mengusulkan kesepakatan yang akan mengakhiri pertempuran dalam perang yang dimulai oleh AS-Israel serta membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Araghchi mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat bahwa langkah-langkah awal akan memakan waktu empat hingga lima hari, Selat Hormuz akan dibuka kembali pada hari keenam, dan 'pada hari ketujuh, pembicaraan dengan AS akan dimulai untuk kesepakatan akhir mengenai topik-topik yang disepakati bersama' yang merujuk pada program nuklir Iran.

Berdasarkan rencana tersebut, Washington akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menangguhkan sanksi atas penjualan minyak Iran, mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS, serta mematuhi gencatan senjata yang mencakup wilayah tersebut, termasuk Lebanon dan Yaman. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz-jalur yang dilalui seperlima dari perdagangan minyak dan gas dunia sebelum perang dan kini menjadi alat tawar utama Teheran.

ADVERTISEMENT

Kembali ke Pezeshkian, dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pihak penengah, yaitu Qatar dan Pakistan, sedang menyampaikan pesan-pesan Iran kepada Washington. Dia menyatakan negosiasi tersebut didasarkan pada nota kesepahaman (MoU) sebelumnya yang dicapai oleh kedua belah pihak pada bulan Juni dan AS harus memperjelas posisinya mengenai kesepakatan tersebut.

Perang ini bermula pada akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, gugur. Pezeshkian juga membantah Iran bertanggung jawab atas pemblokiran Selat Hormuz sambil mengatakan bahwa AS-lah yang 'menutup jalur tersebut bagi kami'.

Dia menggambarkan penutupan tersebut sebagai 'respons wajar ketika jalur akses menuju Iran diputus'. Dia mengatakan krisis dapat diselesaikan melalui negosiasi, bukan kekerasan, dan jalur perairan tersebut akan dibuka kembali untuk pelayaran komersial jika perundingan berhasil mengakhiri perang.

Pezeshkian menyebut AS sebagai pihak agresor dalam konflik ini. Dia menyatakan Iran 'tidak pernah menyerang negara mana pun selama 200 tahun terakhir'.

Dia mengatakan AS dan Israel telah menyeret negara-negara kawasan ke dalam perang dengan keyakinan bahwa sistem Iran 'akan runtuh dalam hitungan hari'. Namun, katanya, Iran terbukti bertahan.

"Kami bertahan menghadapi serangan Amerika dan Israel, dan kami akan terus berdiri teguh," ujarnya, seraya menambahkan pembunuhan komandan Iran maupun tekanan ekonomi tidak membuat rakyat Iran mundur.

Dia mengatakan Israel dan AS telah menyerang Iran dari wilayah udara negara-negara Islam, dan Iran menargetkan pangkalan-pangkalan yang digunakan pasukan AS di kawasan tersebut karena operasi yang ditujukan terhadap Iran diluncurkan dari sana. Dia menyatakan Teheran tidak menuntut apa pun di luar hukum internasional, katanya, dan hanya bereaksi ketika pihak lain melanggar aturan.

Pezeshkian mengaitkan penerapan sanksi terhadap Iran dengan taktik yang digunakan Israel dalam perang genosida melawan warga Palestina di Gaza.

"Mereka yang menghalangi akses rakyat Iran terhadap obat-obatan dan bahan baku adalah orang-orang yang sama dengan mereka yang memutus pasokan makanan dan air ke Gaza," ujarnya, seraya menambahkan bahwa siapa pun yang yakin rakyat Iran bisa ditundukkan melalui sanksi telah 'salah perhitungan'.

Pezeshkian juga mengatakan keamanan kawasan dapat dicapai melalui kerja sama antarnegara di kawasan itu sendiri. Dia menuduh AS dan Israel berupaya mengadu domba negara-negara Islam demi menguasai sumber daya kawasan

"Kami tidak membutuhkan polisi kawasan," tegasnya.

Dia juga menyatakan bahwa Arab Saudi mampu berperan dalam menyatukan dunia Islam. Dia juga mengatakan tindakan Houthi tidak terkait dengan Iran dan bahwa Teheran bersolidaritas dengan 'siapa pun yang menjadi korban ketidakadilan'.

Dia mendesak kelompok Houthi dan Arab Saudi untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog-dengan mengatakan bahwa 'saudara tidak sepatutnya memerangi saudaranya sendiri'. Dia juga menawarkan bantuan Iran untuk mengakhiri perselisihan tersebut.

"Kami tidak akan menjadi pihak yang memicu perang," ujarnya.

Simak juga Video: Iran Bilang Selat Hormuz Bisa Dibuka 7 Hari Lagi Pilihan di Tangan AS

Halaman 2 dari 3
(haf/knv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini