Iran Beri Syarat Ini ke AS untuk Buka Selat Hormuz

Iran Beri Syarat Ini ke AS untuk Buka Selat Hormuz

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 25 Sep 2026 17:32 WIB
Menlu Iran Abbas Araghchi saat menghadiri Sidang Umum PBB di New York, AS (Getty Images via AFP/ALEXI J. ROSENFELD)
Menlu Iran Abbas Araghchi saat menghadiri Sidang Umum PBB di New York, AS (Getty Images via AFP/ALEXI J. ROSENFELD)
New York -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa Teheran telah mengajukan usulan terbaru kepada Amerika Serikat (AS) terkait konflik kedua negara.

Araghchi mengatakan bahwa dalam usulan terbaru itu, Teheran menawarkan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, jika Washington memenuhi syarat-syarat tertentu yang mereka ajukan.

"Jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, selat tersebut akan dibuka dalam waktu tujuh hari dan perundingan akan dimulai," ungkap Araghchi saat berbicara kepada berbagai media, termasuk New York Times (NYT) dan The Guardian, seperti dilansir AFP, Jumat (25/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu diungkapkan Araghchi di sela-sela menghadiri Sidang Majelis Umum PBB yang digelar di New York, AS.

ADVERTISEMENT

Belum ada tanggapan Gedung Putih atau pemerintahan Presiden AS Donald Trump atas pernyataan Menlu Iran tersebut.

Trump sebelumnya mengakui adanya pembicaraan baru yang berlangsung antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal hasil pembicaraan itu. Dia hanya menyebutkan bahwa akan ada pertemuan selanjutnya.

Selama di New York, Araghchi diketahui melakukan pertemuan dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan penasihat juga menantu Trump, Jared Kushner. Pertemuan tersebut dilaporkan tidak langsung menghasilkan terobosan.

Iran sebelumnya telah menetapkan tujuh syarat untuk mengakhiri perang dengan AS dan membuka kembali Selat Hormuz, yang diblokade Teheran selama perang.

Apa Saja Syarat-syarat yang Diajukan Iran ke AS?

Menurut Araghchi, sebagaimana dikutip NYT, usulan terbaru ini menyerukan penghentian segala permusuhan di Timur Tengah, semacam gencatan senjata, selama tujuh hari, termasuk di Lebanon -- di mana kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, bertempur melawan Israel.

Usulan tersebut, kata Araghchi, menuntut pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, yang nilainya diperkirakan mencapai US$ 12 miliar (setara Rp 214,9 triliun), juga pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan diakhirinya blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pada hari ketujuh gencatan senjata berlangsung, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global.

Dikatakan Araghchi bahwa dirinya sedang menunggu tanggapan AS terhadap usulan tersebut. Dia menegaskan bahwa China telah mendukung usulan itu.

Presiden China Xi Jinping berkunjung ke Washington DC pekan ini, untuk melakukan pertemuan dengan Trump. Isu perang Iran, menurut laporan kantor berita pemerintah China, Xinhua, turut dibahas dalam pertemuan itu, di mana Xi disebut mendorong Trump untuk kembali ke dialog guna mengakhiri perang.

Sementara itu, juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi, dalam wawancara eksklusif dengan AFP pada Selasa (22/9), menyinggung soal diakhirinya konflik Yaman sebagai syarat baru untuk menyelesaikan konflik dengan AS. Araghchi tidak menyebut apa pun soal konflik Yaman sebagai syarat yang diajukan Teheran.

Tonton juga video "Presiden Iran: Amerika yang Pilih, Mau Perang Apa Udahan?"

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini