Jarang Terjadi, Trump Bakal Sambut Langsung Kunjungan Xi Jinping di Bandara

Jarang Terjadi, Trump Bakal Sambut Langsung Kunjungan Xi Jinping di Bandara

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Kamis, 24 Sep 2026 01:26 WIB
Chinas President Xi Jinping (R) and US President Donald Trump visit the Temple of Heaven in Beijing on May 14, 2026. Xi warned Trump that the issue of Taiwan could push their two countries into conflict if mishandled, a stark opening salvo as a su
Trump dan Xi jinping berkunjung ke Kuil Surga di Beijing usai melakukan pertemuan tatap muka. (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menggelar penyambutan istimewa bagi Presiden China Xi Jinping. Sambutan pribadi yang jarang terjadi bagi pemimpin China tersebut di bandara untuk mengawali pertemuan puncak antarnegara adidaya ini.

Dilansir AFP, Kamis (24/9/2026), Trump menyiapkan penyambutan yang sangat megah untuk kunjungan pertama Xi ke Gedung Putih dalam lebih dari satu dekade, termasuk jamuan kenegaraan yang mewah dan atraksi terbang lintas (flyover) militer.

Namun, kemegahan acara ini tampaknya lebih bertujuan menjaga hubungan yang mulai mencair namun rapuh antara Washington dan Beijing, ketimbang menghasilkan terobosan besar terkait isu-isu yang memecah belah--mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan perdagangan hingga masalah Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Stasiun penyiaran negara China, CCTV, melaporkan bahwa Xi "berangkat dari Beijing menggunakan pesawat khusus" pada Rabu (23/9), didampingi oleh istrinya Peng Liyuan, orang kepercayaan utamanya Cai Qi, serta Menteri Luar Negeri Wang Yi, di antara pejabat lainnya.

ADVERTISEMENT

Dalam langkah yang sangat tidak lazim bagi seorang Presiden AS, Trump dan istrinya, Melania, akan pergi ke Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland, dekat Washington, untuk menyambut Xi secara langsung di landasan pacu pada pukul 18.00 waktu setempat.

Yang menarik, Xi tidak memberikan perlakuan serupa kepada Trump saat presiden AS itu melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing pada bulan Mei lalu. Saat itu, Trump justru disambut di bandara oleh wakil presiden Tiongkok.

Saat kedua pemimpin duduk bersama untuk melakukan pembicaraan yang sangat dinanti-nantikan, mereka akan menghadapi berbagai isu, terutama kekhawatiran yang kian meningkat bahwa AI dapat mengancam kelangsungan umat manusia.

Namun, di tengah persaingan sengit antara China dan Amerika Serikat untuk meraih supremasi AI, kecil kemungkinannya akan tercapai kesepakatan antara Trump dan Xi untuk mengatur teknologi yang berkembang pesat ini.

Pembicaraan awal pada Minggu (20/9), antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan mitranya dari China, He Lifeng, membahas pembentukan saluran komunikasi terkait kekhawatiran seputar AI, namun tidak banyak rincian yang diungkapkan.

Perang dagang yang masih membara antara dua ekonomi terbesar dunia serta ketegangan yang terus berlangsung terkait isu Taiwan juga diperkirakan akan mendominasi jalannya diskusi.

Salah satu kekuatan negosiasi China adalah dominasinya dalam pasokan logam tanah jarang--material krusial untuk produk berteknologi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh produsen AS--yang pernah digunakan Tiongkok untuk menekan Washington agar membatalkan kebijakan tarif tahun lalu.

Sementara itu, terkait isu Iran, Trump tidak memandang perlu untuk mengangkat tuduhan bahwa Tiongkok telah memasok citra satelit kepada Teheran untuk keperluan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Jonathan Czin dari Brookings Institution mengatakan harapan akan hasil konkret sangat kecil, selain kemungkinan perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang disepakati saat Xi dan Trump bertemu di Korea Selatan tahun lalu.

"Saya rasa akan ada perpanjangan dari kesepakatan informal tersebut," ujar Czin kepada AFP.

Para analis mengatakan bahwa China kini mulai melihat melampaui masa jabatan Trump--yang masa jabatan keduanya berakhir pada awal 2029--dan dalam banyak hal berupaya mengulur waktu serta memanfaatkan gencatan senjata tersebut untuk memperkuat posisinya.

Bagi Trump, kunjungan ini merupakan kesempatan untuk mengalihkan perhatian pada seremoni dan kemegahan alih-alih menghadapi berbagai masalah domestik, termasuk rendahnya tingkat kepuasan publik menjelang pemilihan umum sela bulan November dan kebuntuan terkait konflik dengan Iran.

Presiden AS sangat jarang pergi ke bandara untuk menyambut pemimpin asing secara langsung, meskipun Trump pernah menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin tepat di samping pesawat di Alaska tahun lalu.

Penyambutan serupa yang terakhir dilakukan di Pangkalan Udara Andrews--di luar kunjungan Paus--diyakini terjadi saat John F. Kennedy menyambut Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan pada tahun 1962, dan saat Dwight D. Eisenhower menyambut pemimpin Soviet Nikita Khrushchev pada tahun 1959.

Halaman 2 dari 2
(rfs/rfs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini