Sebuah ledakan, yang diduga akibat ranjau, terjadi di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan perbatasan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut). Sedikitnya tiga tentara Korsel mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
DMZ, yang memisahkan wilayah Korsel dan Korut di Semenanjung Korea sejak Perang Korea tahun 1950-1953 silam, merupakan salah satu lokasi dengan ranjau terbanyak di dunia.
Seorang pejabat militer Korsel, seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin (21/9/2026), menuturkan bahwa ledakan itu terjadi saat "operasi di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang melibatkan Divisi Infanteri ke-25".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan Yonhap TV menyebutkan bahwa tiga tentara Korsel luka-luka dalam insiden tersebut, dan telah dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Bersenjata.
Secara terpisah, Kepala Staf Gabungan militer Korsel (JCS) menyebutkan bahwa dua tentara di antaranya dievakuasi menggunakan helikopter.
Sedangkan satu tentara lainnya dipindahkan melalui jalur darat, sebelum kemudian dievakuasi lewat udara menggunakan helikopter.
Penyebab ledakan itu belum diketahui secara jelas, namun laporan media Korsel menyebut ledakan disebabkan oleh ranjau.
Belum diketahui secara jelas apakah ranjau yang meledak itu dipasang oleh pasukan Korut atau merupakan miliki militer Korsel.
Menurut data militer yang dikutip kantor berita Yonhap, diperkirakan terdapat sekitar 800.000 ranjau yang ditanam di Zona Demiliterisasi. Banyak ranjau di antaranya berasal dari masa Perang Korea, meskipun aktivitas pemasangan ranjau terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2024, setelah pemimpin Korut Kim Jong Un menetapkan Korsel sebagai "musuh utama" negaranya, militer Pyongyang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memasang ranjau dan membangun penghalang anti-tank di sepanjang perbatasan. Langkah semacam itu dimaksudkan untuk menutup perbatasan secara permanen.
Simak juga Video 'Heboh Penemuan 4 Jenazah Orang Hilang di Pulau Jeju, Korsel':










































