Satelit mata-mata Rusia diduga telah memberikan informasi intelijen kepada Iran, yang membantu dalam meningkatkan akurasi serangan terhadap aset-aset militer Amerika Serikat (AS) yang ada di kawasan Timur Tengah.
Informasi ini mencuat saat pertempuran antara Teheran dan Washington kembali berkobar beberapa waktu terakhir, dengan kedua negara saling membalas serangan.
Laporan media terkemuka AS, CNN, yang mengutip sejumlah pejabat AS dan sumber-sumber lainnya, seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (17/9/2026), mengungkapkan bahwa intelijen yang dikumpulkan oleh jaringan satelit Rusia mungkin telah dibagikan kepada Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi intelijen Moskow itu diduga telah memberikan informasi kepada pasukan militer Teheran mengenai lokasi dan pergerakan aset-aset militer AS yang ditempatkan di negara-negara sekutunya di Timur Tengah.
Laporan CNN menyoroti serangan Iran pada 27 Maret lalu terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi. Sedikitnya 12 personel militer AS yang ada di pangkalan udara itu mengalami luka-luka.
Sedangkan sebuah pesawat sistem peringatan dan kendali udara (AWACS) hancur akibat serangan tersebut.
Disebutkan dalam laporan CNN bahwa satelit mata-mata Rusia, tepatnya satelit Cosmos 2573, melintas di atas pangkalan udara Saudi tersebut sekitar dua hari sebelum serangan Iran terjadi, bersama dengan 13 satelit Rusia lainnya.
Analisis CNN terhadap data orbit mengindikasikan bahwa satelit-satelit tersebut mungkin telah mengumpulkan informasi intelijen yang saling melengkapi.
Menurut laporan CNN, satelit optik dapat menyediakan citra atau gambar yang mendetail, sedangkan satelit intelijen sinyal mampu mendeteksi emisi radar dan radio. Sementara satelit inframerah dapat mengidentifikasi jejak panas, kemudian satelit radar synthetic aperture dapat memantau perubahan menembus awan dan kegelapan.
Nawaf Obaid dari Departemen Studi Perang di King's College London mengatakan bahwa bantuan Rusia tersebut harus dipandang dalam konteks kerja sama intelijen AS dan Ukraina. Dia menyebut tindakan Moskow itu sebagai langkah balasan yang berpotensi membawa dampak signifikan bagi arsitektur keamanan kawasan.
"Ini adalah pembalasan Rusia yang disertai 'bunga'. Dampaknya sangat besar, tidak hanya terhadap posisi AS di kawasan tersebut, tetapi juga terhadap arsitektur keamanan kawasan itu di masa mendatang," sebutnya.










































