Seorang pria asal Singapura, Malone Lam, mengaku bersalah atas dakwaan konspirasi pemerasan di Amerika Serikat. Malone Lam disebut menjadi dalang salah satu pencurian mata uang kripto terbesar di dunia.
Dilansir BBC, Kamis (10/9/2026), Lam mengakui bekerja sama dengan sejumlah rekannya untuk mencuri bitcoin senilai US$249 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Departemen Kehakiman AS (DOJ), pria berusia 22 tahun itu dan rekan-rekannya menghabiskan uang tersebut hingga US$500.000 per malam di klub malam. DOJ juga mengatakan mereka membeli sejumlah mobil mewah, dengan nilai mulai dari US$100.000 hingga US$3,8 juta.
Kini, Lam menghadapi hukuman penjara maksimal 20 tahun. Hakim Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly belum segera menjadwalkan sidang vonis untuknya.
"Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan menemukan Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta pertanggungjawaban Anda," kata Jaksa AS Jeanine Pirro dalam persidangan pada Selasa (8/9) waktu setempat.
"Terdakwa ini memimpin jaringan internasional yang memangsa korban melalui penipuan, melanggar privasi mereka, dan mencuri ratusan juta dolar dalam mata uang kripto," tambahnya.
Lam mengatakan kepada para penyelidik di AS bahwa ia telah putus sekolah menengah di Singapura ketika berusia 14 tahun. Ia melakukan perjalanan ke AS pada Oktober 2023 dan tetap tinggal di sana setelah visanya habis masa berlakunya pada Januari tahun berikutnya.
Menurut dokumen pengadilan, konspirasi dimulai paling lambat Oktober 2023 dan berlanjut hingga setidaknya Mei 2025.
Para konspirator atau kaki tangan, yang berasal dari California, Connecticut, New York, Florida, dan luar AS, bertemu melalui platform game online.
Departemen Kehakiman (DOJ) mengatakan Lam, yang juga menggunakan nama samaran Anne Hathaway, $$$ dan King Greavy, adalah pemimpin kelompok kriminal tersebut, yang mengidentifikasi korban dan mengoordinasikan peran para konspirator.
DOJ mengatakan bahwa mereka menipu orang untuk memberikan informasi rahasia dan melakukan pembobolan rumah sesekali untuk mendapatkan detail yang memungkinkan mereka menguras dompet mata uang kripto korban.
Uang Bitcoin Dihamburkan
Mata uang kripto yang dicuri juga digunakan untuk membeli beberapa tas Hermes Birkin senilai puluhan ribu dolar AS, yang dilemparkan ke kerumunan orang di pesta klub malam, menurut DOJ.
Barang-barang lain yang menurut DOJ dibeli dengan hasil curian tersebut, termasuk jam tangan mewah senilai hingga US$500.000, pakaian mewah senilai puluhan ribu dolar, rumah sewa di Los Angeles, Hamptons, dan Miami, penyewaan jet pribadi untuk perjalanan, dan tim pengawal pribadi.
Lam "terkenal" di kancah klub malam Los Angeles dan Miami karena gaya hidupnya yang flamboyan, dan keuntungan kriptonya juga menarik perhatian.
Jaringan kejahatannya dibongkar ketika agen FBI menangkapnya dan seorang kaki tangannya pada September 2024.
Salah satu kaki tangan Lam, Evan Tangeman, lebih dulu dijatuhi hukuman 70 bulan penjara pada April 2026 karena mencuci uang hasil kejahatan tersebut.
Tangeman juga diketahui berupaya menghancurkan barang bukti setelah Lam ditangkap. Tindakan tersebut kemudian dinilai pengadilan sebagai bentuk "kesadaran akan kesalahannya".










































