Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang Keruntuhan

Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang Keruntuhan

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Rabu, 09 Sep 2026 23:27 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu arrives for a press conference in Jerusalem on March 19, 2026. Netanyahu said on March 19 that Israel and the US were winning the war against Iran, with the Islamic republic decimated and unable to enrich
Foto: AFP/RONEN ZVULUN
Jakarta -

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Republik Islam Iran berada di ambang keruntuhan. Pernyataan itu disampaikan saat Netanyahu mengunjungi pasukan Israel yang ditempatkan di wilayah selatan Suriah.

Dilansir AFP, Rabu (9/9/2026), Netanyahu mengunjungi pasukan Israel di sisi Suriah Gunung Hermon, di perbatasan Israel-Suriah. Dia didampingi Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan itu, Netanyahu mengatakan masih ada sejumlah pekerjaan yang harus dilakukan Israel. Salah satu target utamanya adalah menjatuhkan pemerintahan Iran.

"Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tugas utamanya adalah menjatuhkan rezim teror di Iran. Kami sangat dekat dengan itu," kata Netanyahu.

ADVERTISEMENT

Netanyahu juga meyakini kelompok-kelompok yang menjadi bagian dari jaringan Iran di Timur Tengah pada akhirnya akan mengalami keruntuhan.

"Kami tahu seluruh poros itu pada akhirnya akan runtuh," ujarnya.

Istilah "poros" yang digunakan Netanyahu merujuk pada kelompok-kelompok yang didukung Iran di kawasan Timur Tengah.

Pasukan Israel Bertahan di Selatan Suriah

Pasukan Israel telah ditempatkan di wilayah selatan Suriah dalam sebuah "zona keamanan" sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Pasukan tersebut menguasai wilayah yang sebelumnya merupakan zona penyangga yang dipatroli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Zona tersebut memisahkan pasukan Israel dan Suriah di wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak 1974.

"Kami tidak akan membiarkan tentara teroris mana pun membangun dirinya di perbatasan kami," kata Netanyahu.

Kunjungan Netanyahu ke wilayah tersebut bukan yang pertama. Dia sebelumnya telah mengunjungi pasukan Israel di Suriah setidaknya dua kali, yakni pada Desember 2024, tak lama setelah Israel mengambil alih zona penyangga, dan pada November 2025.

Katz juga mengunjungi pasukan Israel di selatan Suriah sekitar dua pekan lalu. Kunjungan tersebut menuai kecaman dari Damaskus yang menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.

Suriah sebelumnya merupakan sekutu kuat Iran ketika negara tersebut dipimpin Hafez al-Assad dan putranya, Bashar al-Assad. Suriah juga menjadi tempat bagi kelompok paramiliter yang didukung Iran.

Namun, hubungan tersebut berakhir setelah pemerintahan Bashar al-Assad tumbang.mSejak itu, Israel telah melancarkan ratusan serangan udara di Suriah. Israel juga berulang kali melakukan operasi masuk ke wilayah Suriah.

Para pejabat Israel berulang kali menegaskan akan mempertahankan keberadaan pasukannya di zona keamanan tersebut. Israel bahkan menginginkan wilayah demiliterisasi yang lebih luas di kawasan tersebut.

Pernyataan terbaru Netanyahu mengenai Iran disampaikan ketika ketegangan antara Teheran dan Washington semakin meningkat.

Iran dan Amerika Serikat saat ini masih mengalami kebuntuan terkait Selat Hormuz yang memiliki posisi strategis bagi jalur perdagangan energi dunia. Kedua pihak juga dilaporkan saling melancarkan serangan dalam sepekan terakhir.

Konflik tersebut telah memasuki bulan keenam sejak perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

(azh/ygs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini