Israel memerintahkan penutupan konsulat Inggris di Yerusalem. Perintah ini sebagai tindakan balasan setelah London memimpin penerapan sanksi Barat terkait kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Dilansir AFP, Rabu (9/9/2026), Israel menyatakan juga akan mengusir perwakilan Inggris dari pusat pemantauan rencana gencatan senjata di Gaza yang ditengahi AS, melarang pelatihan Inggris bagi pasukan Otoritas Palestina, serta melarang 12 warga Inggris--yang sebagian besar merupakan anggota parlemen--untuk berkunjung.
Langkah ini diambil setelah 12 negara, termasuk Inggris, Kanada, dan Prancis, mengumumkan akan menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap permukiman Israel di Tepi Barat, menyusul lonjakan serangan pemukim terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tuduhan yang disampaikan hari ini oleh menteri luar negeri di Parlemen Inggris adalah kebohongan yang keterlaluan," ujar Menteri Luar Negeri Gideon Saar, setelah mitranya dari Inggris, Ed Miliband, menuduh pemukim Israel melakukan pembersihan etnis di Tepi Barat.
"Langkah Inggris ini secara moral keliru dan merupakan campur tangan terang-terangan dalam urusan negara berdaulat serta proses pemilihannya," katanya, menjelang pemilihan umum yang diperkirakan akan berlangsung sengit pada 27 Oktober, di mana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gencar mendukung keberadaan permukiman di Tepi Barat.
Saar mengatakan Israel menutup konsulat Inggris yang terletak di Yerusalem Timur, bagian dari wilayah yang secara historis milik Palestina yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Israel kemudian menganeksasi Yerusalem Timur dan menganggap kota suci tersebut sebagai ibu kotanya yang tak terbagi.
"Yerusalem yang bersatu adalah ibu kota Israel dan berada di bawah kedaulatan penuhnya," tegas Saar.
"Setiap aktivitas asing di wilayah tersebut harus dilakukan melalui saluran yang diterima dan disepakati, serta tanpa melanggar kedaulatan Israel."
Meskipun Israel menguasai Yerusalem Timur, sebagian besar negara--termasuk Inggris--tidak mengakui kedaulatan Israel atas keseluruhan kota tersebut.
Pengecualiannya adalah Amerika Serikat, yang di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. Inggris dan sebagian besar negara yang mengakui Israel tetap mempertahankan kedutaan besar mereka di Tel Aviv.
Pada tahun 2024, Israel memerintahkan konsulat Spanyol di Yerusalem untuk menghentikan layanan konsuler bagi warga Palestina setelah Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez--yang dikenal vokal mengkritik Israel--mengakui negara Palestina.
Kementerian Luar Negeri Israel telah mengeluarkan daftar berisi 12 warga negara Inggris yang akan ditolak masuk jika mereka berniat melakukan kunjungan. Mereka termasuk Jeremy Corbyn, mantan pemimpin Partai Buruh yang vokal menyuarakan dukungan bagi Palestina, serta Zarah Sultana, yang bergabung dengan Corbyn untuk memisahkan diri dari Partai Buruh dan membentuk partai berhaluan kiri, Your Party.
Dalam daftar larangan tersebut juga terdapat Diane Abbott, seorang anggota parlemen dari Partai Buruh yang sempat menuai kecaman keras akibat pernyataannya yang meremehkan tingkat antisemitisme, namun kemudian diterima kembali ke dalam partai di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Andy Burnham.










































