Korsel Dikabarkan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Korsel Dikabarkan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 04 Sep 2026 10:58 WIB
Ilustrasi -- Tentara Korsel melakukan latihan gabungan dengan militer AS (dok. Reuters/Kim Hong Ji)
Ilustrasi -- Tentara Korsel melakukan latihan gabungan dengan militer AS (dok. Reuters/Kim Hong Ji)
Seoul -

Militer Korea Selatan dilaporkan sedang melakukan "persiapan konkret" untuk misi pengerahan ke Selat Hormuz, yang diselimuti konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pengerahan militer itu disebut mencakup pesawat patroli maritim, kapal logistik, dan unit pembersih ranjau.

Pemerintah Korsel membantah laporan tersebut, dengan menyatakan belum ada keputusan akhir untuk mengerahkan pasukan ke Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan minyak dan gas global.

Namun, sejumlah media terkemuka Korsel, termasuk JTBC dan MBC, seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters, Jumat (4/9/2026), melaporkan pada Kamis (3/9), bahwa Seoul sedang bersiap mengerahkan aset militer sebelum akhir tahun, dan mungkin akan meminta persetujuan parlemen bulan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan itu menyebutkan bahwa opsi yang sedang dipertimbangkan mencakup pengerahan pesawat patroli maritim P-8, kapal pendukung logistik, atau unit pendeteksi dan pembersih ranjau.

Korsel, menurut laporan-laporan media, juga telah membahas skala dan bentuk kontribusi dengan berbagai negara, termasuk AS, Inggris, dan Prancis.

"Kami sedang melakukan persiapan konkret untuk mengirimkan pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz," ujar seorang pejabat Kementerian Pertahanan Nasional Korsel, yang tidak disebut namanya, saat berbicara kepada media Australia, SBS.

"Saya memahami bahwa pembahasan mengenai pelabuhan pangkalan dan pangkalan operasional juga sedang berlangsung dengan negara-negara terakhir," ucap seorang pejabat tinggi militer Korsel, yang dikutip SBS.

Misi pengerahan militer semacam ini memerlukan keputusan dari Dewan Keamanan Nasional (NSC), resolusi melalui rapat kabinet, dan persetujuan resmi dari Majelis Nasional atau parlemen Korsel.

Pemerintah Korsel sebelumnya menyatakan hanya akan mengerahkan pasukan ke Selat Hormuz setelah konflik antara AS dan Iran berakhir.

Laporan soal pengerahan militer ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik Korsel karena menolak berpartisipasi dalam aksi terhadap Iran, di tengah langkah Washington yang baru-baru ini mengurangi skala latihan militer bersama Seoul.

Korsel Bantah Laporan Pengerahan, Tegaskan Masih Kaji Berbagai Opsi

Kantor kepresidenan Korsel, dalam pernyataan pada Jumat (4/9), menepis laporan media dan menegaskan bahwa pemerintah masih mengkaji berbagai opsi, termasuk langkah-langkah militer, untuk mendukung kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Seorang pejabat kantor kepresidenan Korsel, yang enggan disebut namanya, mengatakan kepada wartawan bahwa Korsel telah membahas cara-cara praktis untuk berkontribusi pada kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pejabat itu mengonfirmasi bahwa langkah-langkah militer termasuk dalam opsi yang sedang dikaji.

"Belum ada keputusan yang diambil," tegas pejabat Korsel tersebut, sembari menambahkan bahwa Seoul juga harus mempertimbangkan prosedur hukum dalam negeri, kesiapan militer di Semenanjung Korea, dan persetujuan parlemen.

Lihat juga Video Korsel Geram Kapal Kargo HMM Namu Diserang di Hormuz

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini