Perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) masih berkecamuk. Iran melaporkan bahwa militernya menyerang pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab (UEA), namun negara teluk itu membantah klaim Iran.
Dilansir Reuters, Senin (31/8), serangan itu diumumkan oleh Militer Iran. Iran mengatakan telah meluncurkan serangan drone pada Senin dini hari waktu setempat. Serangan ini dilancarkan setelah Teheran dilanda serangan terbaru Washington.
Militer Iran mengatakan bahwa pasukannya menargetkan Pangkalan Udara Al Minhad di UEA dengan sejumlah drone. Wilayah itu disebut menjadi tempat pasukan dan helikopter militer AS ditempatkan.
Serangan drone itu, menurut militer Iran, merupakan tanggapan atas kematian anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan warga sipil Iran di Pulau Larak. Teheran sebelumnya melaporkan bahwa serangan terbaru AS memicu korban jiwa dan korban luka-luka.
AS Bombardir Pulau Larak Iran
Washington membombardir Pulau Larak, Iran bagian selatan, pada Minggu (30/8) waktu setempat. Ini menjadi serangan pertama AS di wilayah Iran, yang diketahui secara publik, sejak akhir Juli lalu, ketika pertempuran terhenti.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa serangannya menargetkan dua peluncur roket milik Iran yang ada di Pulau Larak. Disebutkan juga oleh CENTCOM bahwa serangan dilancarkan setelah militer AS mendeteksi IRGC sedang mempersiapkan roket-roket bermuatan ranjau laut untuk diluncurkan ke Selat Hormuz.
Pulau Larak merupakan sebuah pulau kecil milik Iran di perairan Selat Hormuz, yang baru-baru ini menjadi titik penting bagi Teheran dalam sektor militer dan pengendalian pelayaran. Pulau itu juga digunakan oleh IRGC untuk memantau lalu lintas kapal yang melintasi salah satu jalur maritim terpenting di dunia.
IRGC memberikan reaksi keras, dengan menuduh AS melakukan "aksi agresi" menargetkan Pulau Larak, dan bersumpah untuk membalas serta "menghukum agresor".
CENTCOM membantah tuduhan itu, dengan menegaskan bahwa pasukan AS melakukan "tindakan terbatas dan presisi" terhadap pasukan IRGC yang "sedang memasang ranjau, yang menimbulkan ancaman nyata dan mendesak di Selat Hormuz".
(lir/rfs)