Keluarga Sebut Suami-Istri dan Anak di India Tewas gegara iPhone Cuma Rumor

Keluarga Sebut Suami-Istri dan Anak di India Tewas gegara iPhone Cuma Rumor

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Kamis, 27 Agu 2026 00:04 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi. (Dok. detikcom)
Jakarta -

Pihak keluarga mengatakan kematian bapak, ibu, dan anak karena perkara Iphone di Maharashtra, India, hanyalah rumor. Pihak keluarga mengatakan narasi yang beredar di media sosial (medsos) salah.

Dilansir media lokal India, NDTV, Rabu (26/8/2026), Kunal Chandgude, seorang pemuda berusia 18 tahun, membeli iPhone dengan skema cicilan, namun ketika ia tidak mampu membayar angsuran bulanannya, ia meminta bantuan orang tuanya.

Hal ini disebut menjadi awal mula perselisihan keluarga yang berujung pada kematian satu keluarga yang terdiri dari tiga orang di Chhatrapati Sambhajinagar, Maharashtra, pada tanggal 21 Agustus. Karena ketakutan melihat rentetan kejadian tersebut, ibunya, Sangita, turut melompat dari tebing. Namun, masalah cicilan iPhone tersebut mungkin bukanlah satu-satunya pemicu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saudara perempuan Sangita, Pallavi Patil, menyebut narasi soal iPhone itu sebagai rumor dan menyatakan bahwa orang-orang yang menyebarkan cerita semacam itu tidak tahu apa-apa.

Patil sedang dalam perjalanan pulang setelah mengambil abu jenazah saudara perempuan, keponakan, dan kakak iparnya, Murlidhar, saat merekam sebuah pesan video untuk mengungkapkan kondisi yang sedang dialami keluarganya.

"Sangita Chandgude, Kunal Chandgude, dan Murlidhar Chandgude... mereka tak lain adalah... kakak perempuan saya, anak laki-laki kakak saya, dan kakak ipar saya. Hanya kami yang tahu bagaimana kondisi kami setelah kehilangan mereka bertiga hari ini," ujarnya.

Menanggapi klaim bahwa Kunal menyebabkan kematian orang tuanya akibat masalah cicilan iPhone, Patil meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan rumor.

"Hal-hal yang kalian katakan itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa bagi kami," tambahnya.

Patil mengatakan bahwa linimasa media sosialnya dipenuhi dengan video-video yang menyebarkan narasi keliru seputar kematian keluarganya.

"Kalian telah menyampaikan pendapat melalui video-video ini, padahal kalian tidak tahu apa-apa. Kalian tidak mengenal kami, dan kalian tidak tahu kebenaran di balik semua ini. Namun, kalian terus menyebarkan narasi yang salah. Sadarkah kalian betapa besarnya rasa sakit yang ditimbulkan video-video ini bagi orang tua saya?" tanyanya.

Patil mengungkapkan bahwa Sangita adalah anak sulung dari empat bersaudara. Ia mengimbau masyarakat untuk memikirkan keluarga yang ditinggalkan sebelum membuat video apa pun.

"Kami sedang tidak dalam kondisi mental yang mampu memikirkan cara untuk melangkah maju atau bagaimana harus tetap tegar... kami tidak sanggup menghadapinya. Sebelum mengatakan apa pun, ingatlah, orang tua saya sudah berusia 75 tahun, dan mereka tidak akan sanggup menanggung guncangan akibat kata-kata seperti itu," pintanya dengan tangan terkatup.

Murlidhar adalah seorang sopir truk, sementara Sangita adalah seorang ibu rumah tangga. Pasangan ini kehilangan putra sulung mereka enam tahun lalu akibat penyakit. Menurut berbagai sumber, kematian putra mereka memicu perselisihan keluarga, dan keduanya mulai hidup terpisah.

Murlidhar menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan kabarnya sering tidak pulang ke rumah selama berbulan-bulan. Setelah berada di luar kota selama tiga bulan terakhir, Murlidhar kembali ke rumah dua hari sebelum kejadian, yang kemudian memicu pertengkaran.

Seiring intensifnya penyelidikan atas kematian tersebut, polisi menemukan sebuah video yang menampilkan Sangita dan mengindikasikan adanya hubungan yang retak.

"Kau merampas hak saya dan putra saya demi harta. Kau tidak pernah membiarkan saudara-saudara bersatu, ataupun membiarkan orang tua dan anak hidup bersama. Kau menghancurkan keluarga saya yang bahagia dan harmonis," demikian ucapan Sangita dalam sebuah video yang viral.

Tanpa menyebut nama atau memberikan konteks, ia menambahkan, "Racun yang kau suntikkan ke dalam keluarga saya... caramu menjauhkan putra saya dari orang tuanya... dosa yang kau perbuat ini... tujuh keturunanmu kelak akan menanggung akibatnya. Ini adalah kutukan saya."

Polisi sedang berupaya menelaah unggahan tersebut serta makna tersirat di dalamnya.

Sangita adalah seorang YouTuber aktif dengan lebih dari 29.000 pelanggan dan sering mengunggah video yang menampilkan putranya. Sehari sebelum kejadian tragis itu, Sangita sempat mengunggah video mengenai hubungan dan nilainya.

"Bersiaplah untuk menyerahkan nasibmu hanya kepada orang yang menghargaimu, yang menghargai cintamu. Jika seseorang tidak menghargaimu, tidak menghargai cintamu, atau tidak menghargai apa yang kau lakukan untuk mereka, maka tidak ada gunanya melakukan apa pun bagi orang seperti itu," ujarnya dalam bahasa Marathi di sebuah video berdurasi satu menit.

Ia mengibaratkan hubungan layaknya chapati (roti pipih India), seraya mengatakan bahwa hubungan akan berjalan paling baik jika kedua belah pihak sama-sama menghargainya.

"Hal yang sama berlaku untuk hubungan. Jika hubungan itu dijalani oleh kedua belah pihak dan keduanya sama-sama menghargainya, maka pertahankanlah hubungan tersebut. Sebaliknya, jika hanya satu pihak yang menghargainya sementara pihak lain tidak, maka hubungan itu tidak ada artinya. Selalu lebih baik untuk mengakhiri hubungan semacam itu," ujarnya.

Menurut sumber kepolisian, Kunal pernah mendatangi lokasi tebing yang sama setahun yang lalu dengan niat untuk mengakhiri hidupnya. Saat itu, polisi berhasil membujuknya untuk membatalkan niat tersebut dan membawanya turun dengan selamat.

Halaman 2 dari 2
(rfs/wnv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini