Iran Sebut Negara Mitra Tak Terpengaruh Ancaman AS Putus Hubungan

Iran Sebut Negara Mitra Tak Terpengaruh Ancaman AS Putus Hubungan

Arief Ikhsanudin - detikNews
Selasa, 25 Agu 2026 08:16 WIB
Mohammad Bagher Ghalibaf dalam foto tahun 2024 (AFP PHOTO /IRIBNEWS)
Mohammad Bagher Ghalibaf (AFP PHOTO /IRIBNEWS)
Jakarta -

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengancam akan menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan negara-negara dengan hubungan ekonomi bersama Iran. Menanggapi ancaman tersebut, negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut negara-negara sahabat tidak terpengaruh oleh ancaman dari Presiden AS Donald Trump.

Dilansir CNN, Selasa (25/8/2026), Ghalibaf menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak berada dalam posisi ekonomi yang memungkinkan untuk membatasi hubungannya dengan negara-negara lain.

"Amerika tahu bahwa tidak ada seorang pun yang mempercayai gertakan mereka. Secara ekonomi, Amerika Serikat tidak berada dalam posisi untuk semakin membatasi hubungannya dengan negara-negara lain," tegas Ghalibaf.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ghalibaf menulis dalam sebuah unggahan di media sosial X bahwa "mitra dagang Iran telah menyatakan-baik secara terbuka di media maupun melalui pesan yang dikirimkan kepada kami-bahwa mereka tidak menganggap penting pernyataan-pernyataan tersebut."

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, mengutip seorang sumber senior intelijen Iran yang mengklaim bahwa langkah-langkah baru AS tersebut terutama bertujuan memengaruhi opini publik, bukan memberlakukan pembatasan baru yang berarti.

Tasnim menambahkan, sumber tersebut menyebutkan bahwa langkah-langkah AS "semata-mata didasarkan pada rancangan tim media Trump" dan dimaksudkan untuk meningkatkan "tekanan psikologis terhadap masyarakat Iran." Pihak Tasnim tidak menyebutkan identitas nama sumber tersebut.

Sanksi 'Economic D-Day' AS Ditunda

Sebelumnya, Menkeu AS Scott Bessent menunda operasi Economic D-Day yang disebut-sebut akan menjatuhkan perekonomian Iran. Meski begitu, ia tetap mengancam negara-negara yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Teheran.

Meski Bessent sebelumnya menjanjikan Economic D-Day bagi Iran, AS saat ini masih menunda penerapan sanksi terbesar yang sebelumnya sempat diancamkan.

Sebaliknya, pemerintah AS menyatakan bakal bekerja sama dengan para mitra di seluruh dunia untuk menghentikan aktivitas mereka yang berkaitan dengan Iran.

Ia mengancam akan menjatuhkan sanksi baru yang berdampak besar terhadap negara-negara yang menolak memutus hubungan ekonomi dengan Iran, kendati belum sampai benar-benar menerapkan hukuman berskala besar tersebut.

"Kami menilai cara terbaik untuk berhubungan dengan negara-negara lain adalah melalui diplomasi diam-diam, dan kami sedang menyamakan persepsi dengan setiap negara untuk menyampaikan ekspektasi kami," kata Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. "Kami tahu siapa mereka. Mereka juga tahu siapa mereka."

Dalam upaya baru untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran, pemerintahan Donald Trump pada Senin menyampaikan bahwa mereka telah memperluas kategori "aktivitas terkait Iran" yang dapat dikenai sanksi AS di masa mendatang.

Pemerintah AS juga berencana memberikan batas waktu spesifik kepada negara-negara tertentu untuk mengakhiri hubungan mereka dengan rezim Iran.

Sanksi baru tersebut mencakup hukuman terhadap berbagai sektor, seperti aset digital, teknologi, dan pelayaran, yang menurut Departemen Keuangan AS selama ini diandalkan Iran untuk menopang perekonomiannya.

Lihat Video AS Bikin 'Operasi Pengucilan Ekonomi', Ancam Negara yang Bantu Iran

(aik/aik)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini