Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa warga negaranya menghadapi "banyak masalah". Hal itu disampaikan setelah Amerika Serikat meluncurkan gelombang sanksi baru yang bertujuan semakin mengisolasi perekonomian negaranya.
"Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kami berupaya mencegah hal-hal tersebut semaksimal mungkin," ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, dilansir AFP, Minggu (23/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan usai Amerika Serikat bertekad meruntuhkan rezim Iran melalui kampanye sanksi yang baru diumumkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, Pezeshkian mengatakan bahwa, akibat ulah Presiden AS Donald Trump, Iran kini berada dalam "perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan".
"Dia mengatakan sedang menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan dan mengerikan terhadap Iran," kata Pezeshkian.
"Kami berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi inflasi, masalah penghidupan, pengangguran, serta menjamin masa depan rakyat, agar mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penuh kebanggaan," ujar Pezeshkian.
Pemerintah Iran telah menghadapi beberapa gelombang protes massal dalam beberapa tahun terakhir, yang sering kali dipicu oleh kesulitan ekonomi, termasuk inflasi dan fluktuasi nilai tukar yang menyebabkan penurunan daya beli.
Pada akhir Desember tahun lalu, gerakan protes yang awalnya dipicu oleh kenaikan biaya hidup berubah menjadi demonstrasi massal yang mengecam pihak penguasa.
Pihak berwenang melaporkan lebih dari 3.000 kematian selama kerusuhan tersebut, serta menuduh Amerika Serikat dan Israel mendalangi kekerasan itu.
Namun, sejumlah LSM yang berbasis di luar negeri menyatakan bahwa aparat telah melakukan tindakan keras tanpa pandang bulu yang mengakibatkan ribuan orang tewas.
Lihat juga Video Trump Ancam Beri Sanksi Ekonomi ke Negara yang Bantu Iran










































