Trump Ancam Isolasi Ekonomi, Iran Sebut Kebijakan Gagal!

Trump Ancam Isolasi Ekonomi, Iran Sebut Kebijakan Gagal!

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 20 Agu 2026 16:49 WIB
Menlu Iran Abbas Araghchi (dok. AFP/ATTA KENARE)ng Yi, according to Irans Tasnim and Fars news agencies. (Photo by ATTA KENARE / AFP)
Menlu Iran Abbas Araghchi (dok. AFP/ATTA KENARE)
Teheran -

Iran menepis ancaman isolasi ekonomi yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Teheran dan negara-negara pendukungnya. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyebutnya sebagai kelanjutan dari "kebijakan-kebijakan gagal" AS.

Araghchi menilai kebijakan semacam itu hanya akan membawa "kekalahan lebih lanjut" bagi Washington.

Dalam tanggapannya via media sosial X, seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (20/8/2026), Araghchi menyebut ancaman terbaru Trump hanyalah upaya untuk mengalihkan opini publik Amerika dari masalah keuangan di dalam negeri, termasuk rekor utang dan kenaikan suku bunga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa yang disebut sebagai 'Economy D-Day' hanyalah pengalihan isu dari krisis yang dihadapi Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lonjakan suku bunga. Bersikeras melanjutkan kebijakan-kebijakan gagal hanya akan mendatangkan kekalahan lebih lanjut -- serta permusuhan dari rakyat Iran," kata Araghchi dalam pernyataannya.

"Terorisme ekonomi AS mengancam perekonomian global dan kedaulatan nasional negara-negara di seluruh dunia," sebut Menlu Iran tersebut.

Trump, dalam postingan terbaru via Truth Social, menyatakan bahwa dirinya mengumumkan "OPERASI EKONOMI PALING MENGHANCURKAN YANG PERNAH DILAKUKAN TERHADAP NEGARA MANA PUN!".

"Ini akan menjadi Perang dan Isolasi Ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegas Presiden AS itu dalam postingannya.

"Negara mana pun yang membiarkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan penyelamatan dalam bentuk apa pun kepada Iran, juga akan menghadapi Konsekuensi Ekonomi yang SANGAT BERAT," ancam Trump.

Perang yang berkecamuk antara Iran dan AS sejak akhir Februari lalu, masih jauh dari berakhir. Sempat diwarnai gencatan senjata yang diberlakukan sejak April lalu, kedua negara kembali terlibat pertempuran militer, yang meluas ke kawasan Timur Tengah lainnya.

Situasi semakin pelik dengan perselisihan tanpa henti soal Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global. Teheran memblokade jalur perairan strategis itu selama perang berlangsung.

AS menjadikan langkah membuka kembali Selat Hormuz sebagai prioritas, namun Iran bersikeras bahwa jalur perairan itu akan tetap ditutup sampai Washington mencabut blokade laut terhadap pelabuhannya, menghapus sanksi minyak, dan mencairkan aset-aset Iran di luar negeri.

Trump sendiri telah sejak lama menerapkan kebijakan "tekanan maksimum", berupa sanksi ekonomi terhadap Iran dan memberlakukan kembali langkah tersebut setelah menjabat periode kedua pada Januari 2025. Teheran menyebut sanksi-sanksi AS sebagai kegagalan, dan menegaskan bahwa sanksi dan ancaman tidak akan memaksanya untuk mengubah sikap.

Simak juga Video Trump Ancam Beri Sanksi Ekonomi ke Negara yang Bantu Iran

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini